Aku akan menggendongmu melalui ambang pintu

Aku_akan_menggendong_mu_melalui_ambang_pintu_istri_aldisurjana

Ketika aku pada suatu malam pulang kerumah,  istriku sudah menungguku dengan makanan. Aku meraih tangannya dan berkata, Aku harus berbicara dengannya. Dia tidak mengatakan apa

 

-apa. Aku berkata kepadanya, bahwa aku mau bercerai darinya dan kembali tidak ada jawaban. Lalu dia bertanya: „Mengapa“. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban.

Pada malam ini kami tidak berbicara lagi satu sama lain. Aku merasa kasihan padanya, tapi aku tidak mencintainya lagi. Hatiku sekarang milik Anita. Aku menyiapkan surat cerai, tapi ia merobek surat itu dan menangis dengan sedih. Tangisannya sangat menyakitkan hatiku,  tapi aku juga merasa lega, bahwa akhirnya sudah mengatakan.

Istriku bertanya pada keesokan harinya, apakah kami bisa satu bulan lagi hidup bersama dengan normal. Demi anak lelaki kami, yang sedang menghadapi ujian sekolah. Ia juga menginginkan, bahwa aku dalam bulan ini setiap pagi menggendongnya keluar dari rumah. Sama seperti pada hari pernikahan kami. Aku menyetujuinya.

Pada hari pertama terasa aneh. Sejak pertengkaran kami tidak pernah bersentuhan. Tapi dari hari ke hari menjadi lebih mudah dan aku merasa, perlahan-lahan perasaan di antara kami kembali. Untuk anak lelaki kami tentu itu puncaknya, melihat bagaimana Papa menggendong Mama melalui ambang pintu.

Suatu pagi aku melihat, bahwa istriku telah menjadi sangat kurus. Tak ada satupun pakaiannya yang masih pas. Tiba-tiba aku menyadari, betapa buruknya keadaannya, penderitaan yang menyiksanya. Apa yang telah aku perbuat padanya!? Dia telah menghadiahkan 10 tahun kehidupannya padaku dan aku telah melupakan untuk menyintainya.

Pada hari terakhir aku membuat keputusan. Aku pergi mendatangi Anita dan mengatakan padanya, bahwa aku tidak jadi bercerai. Dia sangat marah, memberiku sebuah tamparan dan menangis.

Pada malam itu aku pulang kerumah. Dengan senyum di bibir dan seikat bunga untuk istriku. Sebuah kartu terlampir, yang telah aku tulis:  „Aku akan menggendongmu melewati ambang pintu sampai maut memisahkan kita.“ Aku berlari menaiki tangga rumah dan mendapatkan istriku berbaring di tempat tidur – mati.

Dia selama berbulan-bulan berjuang melawan kanker dan aku tidak mengetahuinya, karena aku telah begitu sibuk dengan Anita. Istriku tidak menginginkan, bahwa anak lelaki kami menjadi marah padaku, karena aku menginginkan perceraian. Di mata anakku aku adalah seorang suami yang penuh kasih.

Disadur oleh Aldi Surjana

Dari: „Ich werde dich über die Schwelle tragen …“

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s