Kisah Bhok-Ongya dari In-Lam

ming_cavalry_bhok_ongya_kaki_tiga_menjangan_lu_ding_ji_aldisurjana_jinyongWi Siau Po menceritakan sebuah dongeng kepada temannyanya Mau Sip-pat tentang Bhok Ongya yang hanya dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan dengan sebatang panah dapat membunuh gajah.

Di bawah Raja ada 10 orang Ong atau Raja Muda, belakangan hanya tinggal Raja Muda Lian-Ong dari In Lam dan Kui Ciu yang belum tertaklukkan,

Liang-Ong itu bernama Colikuluhua (Pacaiawaerimi). Dia keponakan Goan Sun-te, yakni Kaisar terakhir dari kerajan Goan.

Baginda Raja gusar sekali karena Raja Muda itu masih belum mau takluk juga, Akhirnya dia mengirim pasukan perang besar berjumlah tiga puluh laksa jiwa untuk menumpasnya,

Panglimanya ialah Bhok Ongya (Bhok Eng) dari In Lam. Angkatan perang itu bertemu dengan pasukan Goan yang dipimpin Jenderal Talima, panglima itu memiliki tubuh yang tingginya mencapai sepuluh tombak dan kepala sebesar kuali.

Jenderal Talima mengenakan seragam besi dan bertombak panjang. Di tepi sungai Pek Sek di wilayah Tiok Ceng itu, dia berteriak bagai guntur, Kemudian terdengar suara jeburan air dan percikannya muncrat ke mana-mana.

Suara tawa itu terdengar sampai ke tepi sungai lainnya. Belasan prajurit Beng tak sanggup mendengar suara itu, Mereka terkejut setengah mati dan roboh terjungkal dari kudanya kemudian terjebur sungai.

Bhok Ongya sempat kebingungan. Gawat kalau suara itu diperdengarkan terus, bisa-bisa seluruh tentaranya roboh dan kalah dengan mengenaskan.

Dia segera mencari akal untuk mengatasinya. Begitulah, ketika Talima mau membuka mulut lagi, Bhok Ongya segera memanahnya.

Dia lihay sekali, dengan sebat dia menghindar Memang dia berhasil menyelamatkan diri, tapi di belakangnya terdengar suara jeritan saling susul menyusul.

Jenderal Talima terkejut setengah mati. Kiranya anak panah Bhok Ongya yang bernama Coan In-ciang (Panah penembus langit) telah menembus badannya puluhan perwira sehingga tewas seketika.

Talima merasa penasaran. Dia balas memanah, tapi Bhok Ongya berhasil menangkap panah itu dengan kedua jari tangannya,

Tepat pada saat itu, di angkasa terbang serombongan burung belibis yang mendatangi. Rombongan burung itu terbang di atas kepala mereka, Bhok Ongya mengatakan akan memanah mata sebelah kiri burung yang ke-tiga,

Jenderal Talima tidak percaya. Untuk memanah burung yang ketiga saja sukar, apalagi matanya yang sebelah kiri.

Bhok Ongya segera memanah, bukan ke arah burung tetapi ke arah Jenderal Talima. Itu yang dinamakan siasat bersuara di timur, menyerang di barat!“

Masih terhitung bagus nasib Jenderal Talima. Mata kirinya tertembus panah, tubuhnya langsung terjungkal di atas tanah, Dengan demikian panah kedua dan ketiga hanya mengenai bawahan.

Delapan belas perwira orang Tatcu berbulu tubuhnya. Pasukan tentara Beng menamakan mereka Mau-ciang dan Mau-peng, yakni prajurit dan tentara berbulu.

Akhirnya pihak Tatcu kehilangan delapan belas orangnya, Lantas ada sebutan yang mengatakan dengan tiga batang anak panah, Bhok Ongya membunuh Mau Sip-pat! ( delapan belas si berbulu)

Tentara musuh jadi kalang kabut setelah panglima dan perwira-perwiranya terluka,

Bhok Ongya ingin mengejar ke seberang sungai Tiba-tiba dari seberang terdengar suara riuh terompet. Rupanya bala bantuan musuh telah tiba. Mereka langsung menyerang dengan anak panah.

Waktu itu malam telah tiba. Bhok Ongya kembali mencari akal, Empat panglima bawahannya Lau, Pek, Pui dan Sou, diperintahkan membawa pasukan tentara ke hilir,

Dengan diam-diam mereka menyeberang secara memutar sesampainya di sana, mereka diperintahkan untuk membunyikan terompet tembaga dengan riuh.

Sampai di situ, Bhok Ongya menitahkan si Lau berempat memberi titah kepada para tentaranya agar berteriak-teriak dengan bising.

Di lain pihak, seribu prajurit telah disiapkan dan diperintahkan menyeberangi sungai dengan rakit serta sampan.

Musuh melihat mereka, yang mana lantas memanah secara serabutan, entah berapa banyak ikan dan udang yang mati terpanah!

Akhirnya tentara Bhok Ongya mengambil delapan belas ekor ikan yang terpanah, Ikan-ikan dipanggang lalu dimakan beramai-ramai.

Bhok Ongya menunggu sampai si Ciu dan kawan-kawan sudah sampai di belakang musuh dan membunyikan terompet tembaga, baru dia menyeberangi sungai.

Bersama sisa pasukannya, dia naik rakit dan sampan, tangan masing-masing menggenggam sebuah perisai, dengan demikian panah musuh tidak bisa mengenai mereka, sementara itu bangsa Tatcu sudah kekurangan anak panah karena tadinya terlalu dihambur- hamburkan, Mereka kena dilabrak sehingga lari kocar-kacir.

Di antara musuh ada seseorang yang rebah di atas punggung kuda serta dilindungi para perwira. Diduga, dialah Jenderal Talima.

Bhok Ongya mengejar sambil menyerukan agar Talima menyerah, tetapi pihak musuh menyangkal bahwa orang itu adalah Jenderal Talima, Namun ia tetap dapat dikenali karena di mata kirinya masih menancap anak panah.

Kemudian orang itu diringkus oleh si Lau berempat. Dengan demikian bangsa Tatcu pun menderita kekalahan. Banyak prajuritnya yang mati, sebagian di darat, sebagian lagi di air. Yang di air menjadi santapan ikan-ikan….

Kemudian Bhok Ongya dari Kiok Ceng maju terus sampai di luar tembok kota raja. Musuh menggantungkan pengumuman agar peperangan ditunda, permintaan itu diterima baik karena tidak ingin timbulnya banyak korban.

Malam harinya, ketika Bhok Ongya sedang membaca kitab Cun Ciu, tiba-tiba terdengar suara yang bising dan aneh dari dalam kota, Bukan suara harimau ataupun serigala, Bhok Ongya terkejut setengah mati sehingga ber-teriak….

Bhok Ongya segera mengadakan rapat darurat, Lau Ciang Kun diperintahkan membawa serdadunya yang berjumlah tiga ribu orang malam itu juga untuk mencari tikus sawah, Siapa yang tidak berhasil mendapatkan akan diberi hukuman, sebaliknya yang bisa mendapatkan akan diberi hadiah….

Setelah itu, Bhok Ongya menitahkan Pek ciangkun membawa dua laksa serdadunya pergi ke tembok kota sejauh lima li untuk menggali tanah sepanjang satu Ii. Dalamnya tiga tombak, penggalian itu harus sudah selesai dalam waktu satu malam.

Kemudian kubu-kubu pertahanan dimundurkan sejauh satu li, jadi jaraknya dengan tembok kota kurang lebih enam li.

Keesokan subuhnya, kedua panglima pulang dengan membawa laporan masing- masing, bahwa sudah didapatkan tikus sawah sebanyak satu laksa lebih, dan penggalian tanah pun sudah selesai

Bhok Ongya mengatakan „bagus! lalu beberapa mata-matanya dikirim untuk mengintai gerak-gerik musuh. Siang harinya, di dalam kota terdengar suara riuh rendah, terutama suara tambur perang,

Si mata-mata segera lari pulang menyampaikan berita, Tingkahnya panik sekali dan berkali-kali menyerukan celaka, Bhok Ongya menjadi gusar dan membentaknya sambil menggebrak meja, Dia menanyakan apa yang telah terjadi,

Mata-mata itu segera melaporkan bahwa musuh telah membuka gerbang sebelah utara dan dari sana muncul beberapa ratus kerbau siluman, Dikatakan siluman sebab hidungnya panjang, kawanan binatang itu sedang menyerbu datang.

“Binatang apa itu?” tanya Bhok Ongya tersenyum, “Mustahil ada kerbau berhidung

panjang, Coba kau selidiki sekali lagi, Cepat”

Mata-mata itu mengiakan lalu berlalu menjalankan perintah Bhok Ongya, walaupun memberikan perintah demikian, tetapi Bhok Ongya tetap memimpin pasukannya maju ke depan,

Dia mengawasi dari kejauhan sehingga dia dapat melihat debu-debu beterbangan dari pihak musuh, Setelah itu beberapa ratus ekor „kerbau berhidung panjang seperti yang dilaporkan oleh mata-matanya datang menerjang.

Kiranya yang dimaksud adalah ratusan ekor gajah yang di bagian kepalanya dikaitkan golok yang tajam, Gajah-gajah itu menerjang datang seperti kalap, sebab di bagian ekornya diikat obor api yang menyala!

Liang-Ong membeli beberapa ratu ekor gajah itu dari Birma dan menjadikannya pasukan gajah api untuk menyerbu lawan.

Obor itu terbuat dari kayu cemara, saking kagetnya gajah gajah itu kabur ketakutan. Gajah binatang yang besar dan kuat, kulitnya tebal, anak panah hanya dapat melukainya karena sulit membunuhnya.

Kalau tentara Beng sampai kena diserbu pasukan gajah itu, mereka pasti akan menderita kekalahan. Malah para tentara Beng yang asalnya dari Utara itu, boleh dibilang mereka tidak pernah melihat gajah, itulah sebabnya hati mereka pun tercekat.

Tetapi Bhok Ongya tidak gentar. Bahkan sikapnya tenang sekali, Begitu pasukan gajah itu mendekat, Bhok Ongya segera memerintahkan bawahannya untuk melepaskan semua tikus hasil tangkapan tadi malam. Dalam sekejap mata ribuan bahkan laksaan ekor tikus sawah lari serabutan ke segala penjuru.

Gajah tidak takut harimau, singa ataupun beruang, tetapi takut tikus. Melihat binatang kecil yang suka seradak-seruduk itu, kawanan gajah tersebut jadi terkejut. Semua lantas membalikkan tubuhnya menerjang ke arah pasukan bangsa Tatcu sendiri.

Kacaulah tentara musuh. Sebaliknya, setiap gajah yang sampai di lubang penggalian, semua tercebur roboh tanpa berdaya, Setelah itu Bhok Ongya mengeluarkan perintah lagi, yakni melepaskan panah api. Dengan demikian di udara segera terlihat ribuan percikan api yang meleset ke arah musuh.

Namanya saja panah api, sebetulnya bukan panah, Sejenis mesiu yang ditembakkan dengan meriam dan terselubung sehingga suaranya bising dan melesatnya jauh sekali,

Gajah-gajah jadi ketakutan dan lari serabutan, sementara itu Bhok Ongya memerintahkan pasukannya menyerbu masuk ke kotaraja pihak musuh.

Saat itu Lian-Ong dan permaisurinya sedang berpesta, mereka sedang menantikan berita kemenangan dalam peperangan tersebut Tidak disangkanya bahwa yang datang menyerbu justru tentara musuh.

Bukan main terkejutnya hati Lian-Ong dan permaisurinya, Dia berteriak sekeras-kerasnya Kuluaputuliwa! KuIuapu-tuliwa!

Tentu saja yang digunakan adalah bahasa bangsa Tatcu yang artinya „Celaka, pasukan gajah berontak!“ Dengan panik dia menyeret tangan permaisurinya melompati tembok kota dan lari, Dia melihat sebuah sumur dan tanpa berpikir panjang lagi dia langsung terjun ke dalamnya,

Ternyata lubang sumur itu terlalu kecil sehingga hanya sepasang kakinya yang masuk, sedangkan tubuhnya tertahan di luar Dengan demikian, Bhok Ongya jadi mudah meringkusnya.

by aldithe

Cuplikan dari cersil Lu Ding Ji, karya Jinyong

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s