Kisah sedih Mukidi yang belum terungkap

aldisurjana_Kisah_sedih_Mukidi_yang_belum_terungkap_1

Mukidi lahir di desa Cijantra, sebuah desa kecil di Tangerang selatan. Ibunya adalah seorang keturunan Puteri Mongol yang juga seorang pendekar hebat dan sangat cerdas. Ia meninggalkan kehidupan kraton dan keluarganya demi cintanya kepada seorang pemuda bangsa Han, yang nota bene adalah musuh ayahnya sendiri.

Pemuda Han itu di Tionggoan biasa disebut sebagai pemimpin Partai „Sesat“ oleh golongan putih, yang justru menjadi pemimpin paling depan melawan penjajahan Mongol. Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, kedua pasangan itu pergi meninggalkan daratan Tionggoan melalui Lautan Selatan, menuju pulau Jawa nan jauh.

Setibanya di pesisir pulau Jawa keduanya memasuki muara Tanjung Burung, sebuah muara sungai Cisadane yang yang berhulu di kaki Gunung Pangrango dan kemudian setelah menyusuri sungai Cisadane mereka menetap di Cijantra, sebuah desa kecil di Tangerang selatan. Setelah kelahirannya, karena suatu hal ayahnya kembali ke Tionggoan dan tidak kembali lagi. Jadi Mukidi hanya dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Ketika Mukidi berumur 18 tahun, karena melukai orang, ia dihukum penjara selama 6 tahun. Sejak ia masuk penjara, tidak ada orang yang menjenguknya.

Musim hujan tahun itu, ia menerima sebuah baju katun, diujung bawahnya tersulam bunga rambutan, dan ada satu carik kertas tertulis: „Berubahlah baik2, mama mengharapkan kau bisa mendampingi masa tuaku.“ Secarik kertas ini membuat ia yang biasanya keras hati mengeluarkan banyak air mata. Ini adalah baju katun yang disulam sendiri oleh ibunya, yang setiap benang sulamannya ia sudah begitu hafal.

Ibunya pernah berkata, bahwa orang harus seperti bunga rambutan di musim kemarau yang panas sekali, semakin sulit, semakin berbunga dengan indah. Selanjutnya selama 4 tahun, ibunya tetap tidak pernah datang menjenguk.

Demi dapat keluar lebih awal, dia berusaha keras berubah, supaya mendapat keringanan. Mukidi berencana sekeluarnya dari penjara dia akan menjemput ibunya dan pindah ke Ibukota untuk membuka perguruan silat Gada Api aliran Bengkauw. Maka pada awal tahun ke-5, dia lebih awal telah dilepas dari penjara. Dengan memanggul satu tas kecil berisi baju katun sulaman, dia kembali rumah ibunya.

Pintu rumah digembok, gembok besar sudah berkarat. Di atap juga tumbuh rumput tinggi. Dia merasa bingung, ibu pergi mana? Mencari tetangga, dan bertanya: „Mamaku dimana?“ Tetangga hanya menundukan kepala sambil berkata, bahwa ibunya telah meninggal dunia.

Tetangga menceritakan karena dia melukai orang, ibu pinjam hutang untuk mengobati orang yang luka tsb. Setelah ia dipenjara, ibu lalu pindah kerja di pabrik petasan di desa Gunung Batu yang jaraknya beberapa mil dari desa Cijantra, sepanjang tahun tidak pulang ke rumah. Awal tahun lalu, pabrik lembur untuk produksi petasan, tidak hati2 terjadi kebakaran. Seluruh pabrik meledak, didalam ada puluhan tenaga kerja dari luar dan sekeluarga bos meninggal semua.

Mendengar itu tangan Mukidi gemetar, hatinya sakit seperti ditusuk dan disobek bayonet, dengan tangan terkepal ia berteriak kearah langit dengan penuh penyesalan: „Berbudi ke orang tua adalah paling utama dalam kelakuan 100 kebaikan! Kasih sayang orang tua adalah abadi! Berbudi anak ke orang tua juga seharusnya abadi!“.

Demikianlah kisah sedih Mukidi yang belum terungkap. Sekarang Anda tahu, kenapa wajah Mukidi meskipun terlihat lugu tapi ada binar2 kesedihan tersembunyi dibaliknya.

By aldithe

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s