Koxinga – Jendral, Bajak laut, Pahlawan

koxinga_cokinga_aldisurjanaTulisan ini disusun bukan karena saya menyukai sejarah, melainkan semata-mata karena kecintaan saya yang mendalam pada cerita silat „Kaki Tiga Menjangan“ (Lu Ding Ji, Duke Of Mount Deer) karya Jinyong, yang dilatarbelakangi oleh sejarah Tiongkok di „Masa transisi dari Dinasti Tionghoa Ming ke Dinasti manchu Qing“.

      Pada tahun 1644, kekaisaran Ming dikalahkan oleh pemberontakan yang dipimpin oleh Li Ci Seng (Li Zicheng). Setelah Kaisar Cong Ceng (Chongzhen) menggantung diri, Gouw Sam Kui (Wu Sangui) memanggil masuk bangsa Manchu, yang kemudian menjadikan Qing sebagai penguasa baru Tiongkok.

      Pada masa transisi dari Dinasti Tionghoa Ming ke Dinasti manchu Qing, The Seng Kong (Zheng Chenggong) berjuang di sisi Dinasti Ming, yang di dunia barat dikenal dengan nama ‚ Koxinga (Cokinga) ‚.  The Seng Kong menetap di kota Xiamen di kepulauan Jinmen untuk mendukung Pangeran Gui selama penyerangan di provinsi Fujian, Guangdong dan Zhejiang.

      Bajak laut dan pemimpin militer The Seng Kong alias Koxinga  lahir pada tahun 1624 di Hirado , Jepang. Ayahnya adalah seorang navigator yang dikenal dengan nama Nicholas Iquan Gaspard (Zheng Zhilong), seorang pengusaha dan juga bajak laut.

      The Seng Kong diilahirkan dan dibesarkan oleh seorang Ibu wanita jepang bernama Tagawa Matsu (yang kemudian hari menggunakan nama Tionghoa Wengshì) dan tinggal di Hirado- Jepang dengan nama kecil Fukumatsu  sampai usia tujuh tahun, kemudian pindah dengan orang tuanya kembali ke Tiongkok.

      Setelah jatuhnya Dinasti Ming pada tahun 1644, bangsa Manchu yang berasal dari utara mendirikan Dinasti Qing. Namun, para Pangeran dari selatan tetap setia kepada Dinasti Ming dan meneruskan peperangan untuk memperluas kekuasaan politik Ming. Pangeran Tang adalah salah satu pangeran yang berperang. Ia didukung oleh Nicholas Iquan Gaspard dan The Seng Kong.

      Pangeran Tang memberikan hak pada The Seng Kong untuk mengenakan marga kaisar keluarga Ming, yang menyebabkan ia mendapat julukannya „Guo Xing ye“, tuan dengan nama keluarga kekaisaran. Sementara itu, cara pengucapan bangsa Belanda yang tidak akurat dari bhs Jepangnya „Kokusen’ya“  menyebabkan di negara-negara Barat dikenal dengan nama “ Koxinga „.

      Pangeran Tang meninggal pada tahun 1646, meski demikian Koxinga terus berjuang. Dia menetap di Xiamen di kelompok kepulauan Jinmen untuk mendukung Pangeran Gui (juga dikenal sebagai „Kaisar Longwu“ dari Dinasti Ming Selatan) dalam penyerangan di provinsi Fujian, Guangdong dan Zhejiang. Kaisar Longwu mengangkat Koxinga menjadi Pangeran dan menyerahkan prefektur Yanping.

      Penjarahan Koxinga meluas sampai ke Nanjing , di mana ia kemudian secara bertahap dikalahkan dan akhirnya terpojok. Pada th 1660 meskipun The Seng Kong masih mempertahankan basisnya di Xiamen (Amoy), namun pemerintah Qing telah memindahkan semua penduduk pesisir provinsi ini ke pedalaman untuk menghilangkan The Seng Kong dari basis kekuasaannya.

      Untuk melindungi diri, The Seng Kong membutuhkan basis kekuasan yang lebih kuat. Jadi ia memutuskan untuk menempati pulau Taiwan (Formosa)  dan mengusir Belanda. Pada tanggal 30 April 1661 dengan 25.000 orang pasukan mengepung dan mengurung benteng Zeelandia di Taiwan.

      Belanda menyerah pada tanggal 1 Februari 1662, atas mana Koxinga membuat perjanjian dengan Gubernur Belanda Frederick Coyett. Kekalahan tersebut hampir saja membuat Friedrick Coyett mendapat hukuman mati dari Gubernur Jendral VOC di Batavia, untung ia hanya mendapat hukuman buang di kepulauan Banda selama dua belas tahun.

      Selama Pengepungan Fort Zeelandia, Koxinga mengeksekusi misionaris Belanda Antonius Hambroek dan mengambil putri remajanya menjadi selir. Perempuan Belanda lainnya diserahkan kepada tentaranya untuk menjadi istri mereka.

      Koxinga meninggal beberapa bulan kemudian, pada tanggal 23 Juni 1662. Putranya Zheng Jing menggantikannya.

      Zheng Jing meninggal pada tahun 1681. Karena Zheng Jing tidak meninggalkan ahli waris yang sah, maka anak haramnya yang bernama The Kek Song (Zheng Keshuang) harus diangkat menjadi raja baru. Hal ini menyebabkan perpecahan pemerintah dan militer yang mengakibatkan perebutan kekuasaan.

      Pemerintah Qing mengambil keuntungan dari kelemahan ini dan mengirimkan armada di bawah pimpinan Admiral Sie Long (Shi Lang) ke Taiwan.

      Pada tanggal 16 dan 17 Juli 1683 armada Taiwan bawah pimpinan Liu Guoxuan telah dikalahkan oleh armada invasi Qing di bawah pimpinan Sie Long di Kepulauan Penghu (Pescadores). Pasukan Qing mendarat di Taiwan,

      Setelah kalah di beberapa pertempuran, Raja The Kek Song menawarkan untuk penyerahan diri, dengan demikian berakhirlah Kerajaan Taiwan dan Taiwan pun oleh Kaisar Kong Hie (Kangxi) dimasukkan ke dalam bagian dari provinsi Fujian kekaisaran Qing.

      Untuk mengenang Koxinga, di kota Tainan di Taiwan ada sebuah kuil yang memuja The Seng Kong dan ibunya.

KAITAN NYA DENGAN CERSIL KAKI TIGA MENJANGAN:

      Beberapa nama yg memegang peran penting dalam cersil Kaki Tiga Menjangan: antara lain pemberontak Li Ci Seng, Kaisar pecundang Cong Ceng yg menggantung diri, penghianat Gouw Sam Kui, The Seng Kong (Cokinga), dan cucu haram nya The Kek Song („The Kongcu“), Kaisar Kong Hie („Siau Hian Cu“), Sie Long yg berkat rezeki Wi Siau Po (fiktiv) diangkat jadi panglima angkatan laut Qing oleh Kaisar Kong Hie, Zheng Jing yg putra nya jadi menantu Tan Kim Lan guru nya Wi Siau Po („Siau Kui Cu“).

      Si jelita AKo (fiktiv), kepada siapa Wi Siau Po tergila gila adalah putri pemberontak Li Ci Seng, hasil hubungan gelap dengan selir Tan Wan Wan. Sedangkan gurunya Ako, si Putri  bertangan buntung adalah putri Kaisar Cong Ceng.

      Putri Kaisar Cong Ceng menculik Ako semasa bayi, karena dikira Ako putri si penghianat Gouw Sam Kui, jadi mau dididik agar nanti nya membunuh Gouw Sam Kui, tapi ternyata kecele karena belakangan diketahui bahwa Ako bukan putri Gouw Sam Kui melainkan putri si pemberontak Li Ci Seng.

      Setelah perjuangan berat akhir nya Wi Siau Po (fiktiv) dapat mengalahkan saingan nya si pangeran The Kek Song dalam memperebutkan cinta Ako si putri pemberontak Li Ci Seng.

Oleh: Aldi Surjana

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s