Perjamuan di Istana Raja Naga

hai_liong_ong_lu_ding_ji_hina_kelana_aldisurjanaSeorang anak muda umur belasan tahun duduk sendirian kesepian di atas sebuah batu karang yang besar untuk memancing ikan di tepi pantai sebuah pulau kecil yg kosong tampa penduduk. Lalu timbul pikirannya kalau saja muncul seekor kura-kura raksasa yang dapat menyeberangkan nya ke daratan tentu merupakan hal yang menyenangkan sekali.

Hari itu merupakan pertengahan musim gugur, udara masih terasa panas, Si pemuda duduk bersandar di atas sebuah batu sambil memancing ikan, Belum berapa lama matanya sudah terasa penat, hampir saja dia tertidur. Namun tiba-tiba terdengar ada suara yang berkata. „Anak muda, Hai Liong Ong (Raja Naga di lautan) mengundangmu.“

Si pemuda merasa heran sekali, dan segera memusatkan pandangannya ke arah suara tadi, Tampak di permukaan laut timbul seekor kura-kura yang besar sekali, Kepalanya mendongak ke atas dan dari mulutnya terdengar suara ucapan manusia.

„Tung Hai Liong Ong di dasar lautan mempunyai sebuah istana yang disebut Cui Cing Kiong, beliau merasa iseng. Karena itu hamba disuruh mengundang mu untuk berkunjung ke dasar lautan agar dapat berjudi dengan Hai Liong Ong kami. Raja kami akan menggunakan batu permata, mutiara yang ada di dasar lautan sebagai taruhannya, kau sendiri boleh menggunakan uang perak seperti biasanya!“

Si anak muda kegirangan setengah mati mendengarnya.

„Hebat, hebat! Raja Lautan yang derajatnya demikian tinggi saja masih bersikap demikian sungkan! Biar bagaimana aku harus menemaninya bermain!“ serunya.

„Di dalam istana Cui Cing Kiong kami ada gedung pertunjukan sandiwara. Berbagai tontonan yang menarik dapat disaksikan di sana, Kami juga mempunyai tukang cerita yang mahir mengisahkan Legenda Eng Liat Toan, Sui Hu Cuan dan berbagai kisah sejarah yang menarik lainnya, Bahkan ada penyanyi yang pandai membawakan berbagai lagu kesayangan mu, ada penari yang cantik-cantik yang gerak-geriknya lemah gemulai.

Hai Liong Ong kami juga mempunyai tujuh orang puteri yang wajahnya tidak kalah dengan Bidadari dari Khayangan. Kami tahu bahwa kau senang melihat wanita cantik, pasti-nya ingin mengintip sekilas sampai di mana kejelitaan tuan-tuan puteri kami, bukan?“ kata si kura-kura pula.

Semakin didengarkan hati Si pemuda semakin menggelitik rasanya.

„Betul, betul, sekarang juga kita pergi ke sana!“ sahutnya.

„Silahkan kau duduk di atas punggung hamba, hamba akan membawa mu ke istana kami!“ kata si kura-kura.

Si pemuda segera bangun dan mencelat ke atas punggung kura-kura besar itu. Dia dibawa ke istana Cui Cing Kiong di dasar lautan. Di depan pintu gerbang istana telah menanti Raja Lautan Timur, yakni Tung Hai Liong Ong, Dia disambut dengan hangat, tangannya digandeng serta diajak ke dalam. Ternyata di dalam ruangan yang mewah juga telah menanti Lam Hai Liong Ong (Raja Lautan Selatan),

Ketika perjamuan berlangsung, datang pula beberapa tamu yang lain. Mereka terdiri dari Ti Pat Kai (Siluman Babi), Gu Mo ong (Siluman Raja Kerbau), Tio Hui, Li Po, Gu Peng, Ceng Yau Kim keempat Jenderal besar, Hu Ong, Ju Pao Ong, Sui Ie Ti, Beng Cin Tek keempat Kaisar, Keempat kaisar, empat Jenderal besar, dua siluman dan dua dewa iblis yakni Naga Timur dan Naga Selatan merupakan tokoh-tokoh yang paling terkenal serta aneh sejak jaman dahulu kala. Mereka semua memang dikisahkan menguasai lautan luas.

Selesai perjamuan, permainan judi pun dimulai, dan Si anak muda yang jadi bandarnya, Tangannya meraih kartu di atas meja seenaknya, tapi biar kelihatannya sembarangan namun kartu yang didapatkannya selalu bagus, Dalam waktu tidak seberapa lama dia sudah meraih kemenangan banyak sehingga kedua belas lawannya berkaok-kaok.

Uang di hadapan si pemuda sudah bertumpuk tinggi bahkan sampai melimpah ruah, Terakhir malah selir-selir serta gundik-gundik cantik para lawannya juga digadaikan kepadanya.

Watak Li Po paling jelek di antara lawan-lawannya. Ketika istrinya yang cantik juga terpaksa dijual kepada si anak muda untuk membayar kekalahan, ia langsung berang. wajahnya yang kehitam-hitaman disertai rona merah, Dengan suara lantang dia berteriak.

„Dasar Keturunan Maling! Jadi orang itu kalau sudah menang ya sudah dong! Kau sudah memenangkan gundik dan selir orang, itu sih masih tidak apa-apa, malah istri tua juga mau digotong sekalian, Benar-benar keterlaluan! Orang seperti engkau tidak punya perasaan, tidak pantas dijadikan teman!“

Diangkatnya tubuh Si pemuda ke atas, tinjunya dikepalkan dan dihantamnya pemuda itu satu kali, Terdengar suara Buuukkk!! Tepat mengenai telinga nya sehingga kepalanya terasa berdengung-dengung.

Si anak muda menjerit sekeras-kerasnya, Tali pancing terjungkit ke atas dan melilit di lehernya, Dalam keadaan panik dia bergulingan Ujung kail menancap di dagingnya sehingga dia merasa kesakitan. Dalam sekejap mata, entah Ti Pat Kay, Li Po atau siapa saja sudah hilang tak berbekas, Saat itu juga dia baru sadar bahwa dirinya sedang bermimpi.

by aldithe

Cuplikan dari Cersil Lu Ding Ji, Jinyong

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s