Rahasia Sentuhan Akhir Seorang Shifu

rahasia_sentuhan_akhir_seorang_sifu_bonsai_aldisurjanaCerita ini saya peroleh dari Shifu (guru) bonsai saya, Shifu Liu, orang Taiwan, pada puluhan tahun yang lalu di Tangerang. Seperti kita ketahui membuat bonsai bukan hanya sekedar memangkas daun, tapi juga banyak tehnik lainnya, antara lain memahat cabang mati supaya terlihat alami dan cara pengawetan cabang yang sudah dipahat agar tidak membusuk. Suatu hari ketika saya banyak mengeluh dalam pelajaran memahat, karena selalu tidak membawa hasil seperti yang diinginkan, sang Shifu memberi sedikit wejangan dalam bentuk cerita.

Nah inilah ceritanya. Pada zaman dahulu kala di Tiongkok, tersebutlah seorang Shifu ahli pemahat patung kepala naga, dan ia mempunyai seorang murid yang pintar bernama Abong, semua kepandaian Shifunya boleh dikata sebagian besar sudah diturunkan kepada muridnya.

Si murid memahat kepala naga sesuai seperti yang diajarkan Shifunya, dimana pemahatan kumis dilakukan pada tahap terakhir, setelah semua selesai.

Hanya saja ketika si murid memahat kumis naga, kumisnya selalu menjadi patah. Diulang-ulang berpuluh kali selalu juga begitu. Akhirnya saking kesalnya ia berkata kepada Shifunya: „Shifu, coba kau yang memahat kumisnya“.

„Baik!“ kata si Shifu, tapi ia tidak langsung menerima pahat dari tangan muridnya, melainkan dengan santai menyalahkan rokok dan berlama-lama menikmatinya.

Setelah lama kemudian si Shifu selesai merokok dan mengambil pahat dari tangan muridnya dan melakukan „sentuhan akhir“, …dan bagaikan sihir dalam sekejap kumis selesai dan tidak patah.

Tentu saja si murid terheran-heran dan kembali bertanya.

„Shifu, kenapa pahatanku patah dan pahatanmu tidak, padahal kita menggunakan pahat yang sama?“

Sambil tersenyum pintar si Shifu balik bertanya:

„Abong, ketika kau memberikan pahat kepadaku, kenapa aku tidak langsung memahat, melainkan malah dengan santai menggulung rokok dan menikmatinya berlama-lama?“

„Oh tidak tahu Shifu!

„Begini“, kata sang Shifu. „Rahasianya adalah, bahwa setelah kau sekian lama bekerja dengan pahatmu, pahat mu menjadi panas, dan tidak dapat digunakan untuk memahat kumis yang tipis. Makanya aku merokok dulu, menunggu pahatmu menjadi dingin….“

Dengan tersipu-sipu si murid menekuk lutut dihadapan Shifunya dan berkata „Terimakasih Shifu!“

 

Ditulis untuk mengenang Shifu Liu seorang ahli bonsai dari Taiwan, Teman dan Guru dalam satu sosok. 

Oleh Aldi Surjana

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s