Kitab Siluman 

kitab_siluman_aldisurjana_sin_tiau_hiap_lu_kwe_ceng_siau_liong_li_pendekar_rajawaliCerita ini terjadi tiga puluh tahun kemudian setelah kisah „Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali“ (Sin Tiau Hiap Lu).

Kisah cinta yang legendaris antara Yoko dengan Siau Liong Li kita semua sudah mengenalnya. Tapi sayang, menjelang usia senja ketika keduanya sudah menjadi kakek dan nenek, mereka sering bertengkar. Suatu hari setelah keduanya bertengkar selama tiga hari tiga malam. Anak.., cucu…, tetangga…, tak ada satu pun yang dapat mendamaikan. Puncaknya Yoko yang sudah tua renta ingin kabur dari rumah.  Siau Liong Li yang masih sangat menyintai Yoko, diam-diam dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh menguntitnya dari belakang.

Mendadak ketika Yoko meliwati sebuah kuburan yang tidak pernah di ‚Ceng Beng‘-kan, tiba-tiba tanah bergetar, roh Kim-Lun-Hoat-Ong pun bangkit dari kuburnya. Hal ini karena Kim Lun Hoat Ong  kaget mendengar ribut-ribut antara Yoko dan Siau Liong Li, sehingga dia bangkit dengan Ilmu Mayat Hidup. Tergopoh-gopoh Yoko mundur tiga tindak, segera dia mengerahkan sinkangnya 9 bagian, siap-siap melontarkan pukulan ‚Telapak Penghacur Arwah‘-nya. Tetapi apa daya, meskipun Yoko berusaha menghimpun tenaga, sinkang tak kunjung datang. Akhirnya dengan bertatih-tatih Yoko melarikan diri, mengambil langkah seribu.

Setelah satu kentongan berlalu, akhirnya Yoko melihat sebuah gua, tergopoh gopoh Yoko dan Siau Liong Li masuk. Sambil mengomel panjang pendek Siau Liong Li berkata:

„Memalukan …!!!, sangat memalukan, mosok sampai diuber uber oleh cecunguk Kim Lun, kalau Kwe Ceng dan It Teng Taisu melihat, dimana wajah kita harus ditaruh, lebih baik leher putus dan darah berhamburan daripada kita melarikan diri seperti ini.“

Dengan sabar Yoko menjawab, „Sabarrr yangggg ….ini kan sementara, yang penting minum teh botol dingin dulu yah …glek glek ….“

Kira-kira setengah jam kemudian, setelah minum teh botol dingin, terasa aliran tenaga dalam bergulung gulung seperti deburan ombak sungai Huang Ho, dengan lengkingan yang keras Yoko mempraktekan Sai Cu Ho Kang.

Namun pada saat mengerahkan tenaga, tiba-tiba Yoko jatuh klepekan, bagaikan ikan lele kekurangan oksigen. Dengan wajah pucat pasi Siau liong Li melompat dan merangkul kekasih hatinya yang walaupun sudah peyot sana sini tapi tetapi masih dicintainya dan bertanya dengan lembut:

„Yo Koko, Tadi es batu untuk teh botol kau dapat darimana?“.

„Beli dari kios es di pasar“, jawab Yoko dengan terengah-engah.

„Es batu beracun!!“, teriak Siau liong Li dengan kaget.

Cepat-cepat Siau liong Li mengumandangkan suitan keras ke udara, yang langsung disambut dengan dengungan suara lebah yang menggemuruh. Ia melambaikan tangannya keatas, meraup beberapa ekor lebah mustika, memencet isi perutnya keluar dan langsung mencekokan tahi lebah ke mulut Yoko sebagai obat penawar es beracun. Sedangkan roh Kim Lun Hoat Ong yang tadi berkoar-koar ingin membinasakan Yoko sekarang menjadi buyar, bagaikan asap tertiup angin, setelah diserbu ribuan lebah mustika Siau Liong Li .

Untuk sementara Yoko kita tinggalkan dulu, mari kita lihat kejadian dimana di dunia persilatan digemparkan dengan munculnya kitab kuno, siapa yang mendapat dan mempelajari ilmunya akan sakti tak terkalahkan, konon kitab ini ditulis oleh tokoh besar dari daerah Sinkiang, yakni Aldin Siansu, manusia setengah dewa, disitu banyak diajarkan ilmu meringankan tubuh, ilmu pedang, tenaga dalam Kiu Yang dan Kiu Im, tenaga dalam Alam semesta, ilmu jari dll . Saat ini para jago dari pelosok negeri berkumpul untuk memperebutkan buku itu, ketua Hiat Kut Pay dan juga para jago dari Se Ih meluruk untuk memperebutkannya.

Sementara itu di sebuah kedai arak di kaki sebuah gunung terjal, ketua partai Hiat Kut Pay yang bernama Bo Ceng Li bersama rekannya para jago dari Se Ih sedang mengadakan musyawarah bersama beberapa kepala partai lainnya seperti Siau Lim Pay, Bu Tong Pay dan Hoa San pay serta beberapa partai gurem, mereka ingin menentukan, tindakan apa yang harus dilakukan terhadap Aldin Siansu yang dikabarkan melepas kitab ilmu siluman ke dunia kangow. Aldin Siansu adalah salah satu keturunan Affandi hiapkek, satu cianpwee suku Hwee (Uighur) dari daerah Sinkiang, yang terkenal dalam cersil Su Kiam In Siu Lok. Dengan berkedok ingin menegakan hukum dunia Kangow, sebenarnya Bo Ceng Li dan kawan-kawan ingin meringkus Aldin Siansu dan merebut kitab sakti. Tentu saja terjadi kericuhan. Ditengah hiruk pikuk pertengkaran tiba-tiba terdengar suara tokek berbunyi:

„Tokek!, tokek!, tokek!“, disambung dengan kata-kata sebagai berikut: „Kalian tertipu!!. Itu hanya berita hoax, yang disebarkan oleh kekuatan gelap dengan tipu ‚Memukul ke selatan berlari ke utara‘, mereka hanya mengalihkan isu dunia kangow“, lalu suara lenyap tanpa terlihat batang hidung si pembicara.

Kira kira seperminuman teh lamanya situasi tenang, tapi mendadak tampak kilat menggelegar dan bayangan manusia bergerak cepat menuju puncak gunung Hoa San, saat itu tokoh dunia persilatan hampir seluruhnya datang termasuk juga jago dari Lamhai, See Ih dan para ketua partai ….semua mata tertuju dimana sebuah kitab yang bertuliskan Kim Sim Cin Keng tergeletak ….., mendadak dengan bentakan menggelegar ketua Hoa San melakukan serangan terhadap Aldin Siansu. Dengan tenang Aldin Siansu mundur kebelakang setengah tindak dan secepat angin puyuh kakinya melakukan tendangan menangkis serangan ketua Hoa San ….blam blam….benturan menggelegar memenuhi angkasa, batu dan pasir bertebangan sebagaimana biasa suhu Tjan ID menulis, situasi sangat mengerikan karena seketika itu juga ketua Siau lim membokong Aldin Siansu, tetapi memang Aldin Siansu jago kawakan, dengan langkah yang aneh dia melakukan gerakan membalik disertai dengan tamparan ilmu Bian Kun ….dess ….segera ketua Siau Lim mundur 5 langkah, wajahnya pucat dan nafasnya tersengal sengal.

Mendadak dari udara sebuah benda gemerlapan jatuh kearah tubuh Aldin Siansu yang sudah kehabisan napas, menutup dan menjeratnya bagaikan seekor anak babi. Ternyata ketika para jago kawakan sedang mengepung dan mengeroyok, secara licik Bo Ceng Li, si tetua partai Hiat Kut Pay memisahkan diri, dan menyiapkan jala yang terbuat dari benang ekor bulu anjing salju dan serat ludah kutu tumbila emas, yang sangat lemas dan tidak dapat diputus oleh senjata tajam manapun. Tentu saja kawanan pengikutnya beserta para tetua partai lain bersorak sorai melihat musuhnya sudah tidak berdaya. Untung pada saat gawat terdengar pekikan suara burung rajawali mengumandang di udara.

Semua jago yang ada dalam kalangan terkejut sekali mendengar suara pekikan burung rajawali, mereka pikir pendekar rajawali sakti versi Kho Ping Ho yakni Ka Kun Hong yang datang, ternyata bukan, yang datang adalah seorang nona cantik baju putih yang kira-kira berumur sekitar likuran tahun, mengenakan jubah sutera putih, dengan sulaman burung phoenix, menutupi tubuhnya yang penuh padat tapi tinggi semampai dengan tekukan-tekukan yang mengairahkan, rok sutera putih dengan belahan, yang membuat kedua kakinya terlihat dari samping ketika berjalan, seolah ingin menahan langkahnya. Awan bebauan parfum Chanel No 5 melayang mengitarinya dan dengan menyenangkan menggelitik hidung orang disekitarnya. Pesona dan godaan yang bagaimana yang ditebar oleh wajah secantik bunga? Begitu anggun dan berani lengkungan alisnya! Begitu hidupnya dan tajamnya kerlingan kilauan mata burung Phoenixnya yang bersinar-sinar. Dengan entengnya dia meloncat turun ke gelanggang, dengan langkah gemulai, begitu luwesnya pinggang ini, selentur pohon Yang Liu muda yang dipermainkan angin sepoi-sepoi, dan dia mengambil kitab Kim Sim Cin Keng …..

Segera para jago silat tertegun melihat gerakan nya yang lincah dan tenang, tetapi dengan cepat para jago silat itu tersadar, napsu untuk menjadi Bu Lim Te It Keh kembali membara, bentakan menggelegar dan caci maki ditujukan ke gadis itu:

„Nenek lu …..enak saja langsung ambil, pemahaman apa ini, terima pukulan im-Yang-Kun ku.“

Segera jago Siau lim melontarkan pukulannya disertai juga para jago lain menubruk dan melancarkan serangan ke gadis itu. Dengan tenangnya gadis itu meloncat dan memperagakan ilmu ginkangnya, bagaikan kilat menyambar gadis itu pun melakukan serangan balik …des des des …., semua jago terpukul mundur, ketua Siau lim melotot matanya melihat gadis itu dengan senyum simpul mampu menahan puluhan jago kelas satu, sepertinya di dunia ini hanya Tok Liong Kong Cu Liem Tiang Hong yang mampu, itu jago dari gurun pasir .

Sementara itu, Bo Ceng Li yang tadi melepas jala, masih tetap berada di persembunyiannya di belakang pohon. Ketika pekikan burung rajawali menggemah, ia mengintip melalui dedaunan, memperhatikan dengan gemetar penuh gairah, bagaimana tadi si wanita cantik menginjakan kakinya yang mungil turun dari punggung burung raksasa tunggangannya. Lalu terdengar suara si cantik yang begitu manis seperti kicauan burung di pagi musim semi:

„Lo Heng yang dibelakang pohon, silahkan keluar!“

Semua mata para pendekar memandang kearah balik pohon Yangliu. Dengan perlahan-lahan Bo Ceng Li keluar dari tempat persembunyiannya sambil matanya tetap memandang kearah wanita cantik yang telah mempesonanya. Pandangan matanya, suaranya, membuat nya menggigil sampai ke tulang sumsum. Jiwanya terbelah menjadi dua bagian. Jiwa spiritualnya melayang hingga ke langit ke tujuh, tapi jiwa fisiknya untuk sementara menyangkut di tubuh si cantik.

Bukanlah hal mudah bagi Bo Ceng Li, untuk kembali tampil seperti biasa, ketika tidak lama kemudian si Wanita cantik menanyakan namanya.

„Aku she Bo, teman2 ku biasa memanggilku Bo Ceng Li, dan kau, siapa namamu yang terhormat nona?“, jawabnya tergagap-gagap sambil tidak lupa memberi hormat dengan membungkukan tubuh, sedalam mungkin ia bisa, hingga terasa jantungnya memukul ke tulang rusuk dan matanya menjadi berkunang-kunang.

„Aku she Lan, tolong kau lepaskan Cianpwe tua dari jaringmu Loheng“, jawab si nona dengan manis, sambil melangkah kearah si Cianpwe tua yang terikat bagaikan anak babi. Begitu ringan dan anggunnya langkah kakinya! bagaikan seorang dewi, yang dimalam bulan pernama melayang lembut diatas embun bungah berkilauan.

Tentu saja semua itu membuat Bo Ceng Li semakin linglung, tanpa pikir ia membuka jerat jala. Dengan sebet si nona cantik menyambar tubuh si Cianpwe tua, langsung melayang ke atas punggung burung rajawalinya, yang langsung mengepakan sayapnya begitu tahu tuannya sudah duduk di atas punggungnya, dan secepat angin membubung ke langit tinggi. Para tetua partai yang tadi begitu dalam jatuh terpesona, akhirnya sadar kembali, namun semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, mereka hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya yang berkutu, sambil ngedumel:

„Pasti si jelita adalah anak muridnya Tok Liong Kong Cu Liem Tiang, si jago dari gurun pasir!“

Belum beberapa lama gadis she Lan itu kabur, tampaklah dari arah timur muncul seekor burung rajawali yang lain, hanya saja bulu nya warnanya kuning keemasan, seorang pemuda yang berwajah dingin turun dengan tenang, beberapa jago yang melihat hal ini hanya terbengong-bengong dikarenakan dalam seharian muncul 2 orang jago muda yang luar biasa yang menunggang rajawali, yang seorang gadis she Lan dan seorang pemuda yang berwajah dingin ….., dengan suara sedingin salju pemuda itu menanyakan dimana kitab KIm Sim Cin Keng itu.

Para jago yang sudah mengalami kekalahan yang memalukan dari gadis she lan menjadi teramat gusar mendengar pertanyaan dari pemuda itu ….mereka pikir bahwa pemuda itu tidak mungkin mempunyai kungfu selihai gadis she Lan itu ….segera mereka menngepung pemuda itu, mereka berpikir bahwa karena sama sama pakai rajawali pasti mereka satu komplotan …segera suasana menjadi tegang, para jago sudah meloloskan senjatanya, situasi ini berlangsung kurang lebih sepernanakan nasi ….mendadak dengan segera beberapa ketua partai melontarkan pukulan dengan serangan yang sangat dasyat, debu dan batu bertebaran, angin berpusing dan terdengar desingan senjata tajam yang luar biasa, dalam situasi yang sangat genting itu, pemuda itu masih seperti tenang tenang saja …., dengan langkah yang gesit pemuda itu melakukan gerakan yang sangat cepat utk menghindar dan meloloskan diri …..beberapa detik kemudian segera pemuda itu melakukan serangan balasan, tampaklah bayangan telapak tangan memenuhi angkasa, segera terasa hembusan angin yang sangat dingin keluar dari telapak tangan pemuda itu ….dengan gerakan yang sangat andal telapak tangan pemuda itu seperti membacok dan seperti mengiris, segera terdegar jeritan yang menggidikan hati, dalam beberapa detik saja senjata tajam berjatuhan.

Kita tinggalkan dulu si pemuda tampan berwajah dingin yang sedang dikepung oleh Bo Ceng Li dan kawan2 serta beberapa tetua persilatan. Mari kita ikuti si nona cantik berbaju putih yang berhasil menggondol kitab sakti dan si cianpwe tua Aldin Siansu ke punggung rajawalinya yang membubung ke langit. Dalam pelukan si nona cantik she Lan yang tubuh hangatnya mengguarkan bau harum, yang menggelitik hidungnya, tentu saja Aldin Siansu mendapat pikiran-pikiran kotor yang membuatnya malu sendiri. Akhirnya ia berkata kepada si nona:

„Nona, tolong lepaskan aku dari pelukanmu, aku bisa duduk sendiri“

„Baik“, jawab si nona yang kemudian mengajukan pertanyaan kepada si Siansu. „Cianpwe, siapa kau sebenarnya dan mengapa kau dikejar dan diburuh oleh sekian banyak tetua partai dari golongan putih dan hitam?“

„Namaku Aldin Siansu dan aku adalah salah satu keturunan Affandi hiapkek, satu cianpwee suku Hwee (Uighur) dari daerah Sinkiang. Mereka para gerombolan serigala berwajah domba menuduh aku melepas kitab sakti ilmu siluman ke dunia kangow, atas dalih itu mereka ingin meringkus diriku, padahal maksud sebenarnya mereka ingin merebut kitab sakti warisan kakekku, yang berasal dari salinan kitab kuno milik kaisar Kian Long.“

„Oh begitu, bila kau memang memiliki sebuah kitab sakti, kenapa dalam perkelahian tadi kau malah keteter dan dijerat jala?“, tanya si nona cantik lebih jauh.

„Aku tidak berjodoh dengan ilmu sakti tersebut, semasa muda aku lebih banyak melanglang buana, merantau ke negri asing, sehingga menelantarkan pelajaran ilmu silatku“, jawab Aldin Siansu.

Selama berbicara, tanpa terasa burung rajawali sudah mendarat di atas sebuah lapangan rerumputan di sebuah hutan, disambut oleh Siaw liong Li, yang dengan bertati tatih berlari menyambut kedatangan si nona cantik she Lan dan memeluknya dengan gembira.

„Kau baik saja, nenek?“, kata si nona menyalami neneknya Siau liong Li.

Pembaca yang budiman, mungkin kita semua masih ingat, bahwa Siau Liong Li ketika masih muda pernah diperkosa oleh In Ci Peng, seorang imam aliran Coan Cin, tanpa sepengetahuan Yoko, ternyata Siau Liong Li menjadi hamil dan itu adalah alasan kenapa ia menghilang selama 17 tahun, dan bersembunyi didasar jurang, yaitu membesarkan anak yang dikandung dari In Ci Peng. Untuk mengingat In Ci Peng, putri yang dilahirkan diberi nama Siau peng, yang kemudian dititipkan pada keluarga hartawan Lan di lereng gunung tidak jauh dari kuil Siau Lim, dan Nona jelita she Lan adalah putri tunggal Siau Peng, hasil perkawinannya dengan putra keluarga Lan.

Sambil bergandengan tangan keduanya, cucu dan nenek berjalan dengan ceria kearah Yoko yang sedang menunggu dengan mata basah, saking terharunya atas kedatangan cucu kesayangannya,

„Kau baik, kakek“, kata si nona menyalami Yoko sambil menjurah, menekuk kedua kakinya dan melakukan kotau.

„Phoenix kecilku“, hanya itu suara yang mampu dikeluarkan Yoko dari bibirnya. Kemudian sebagai tuan rumah, tidak lupa Yoko menjamu Aldin Siansu untuk minum teh bersama. Dan seperti yang sudah lazim berlaku di kangow, pertemuan dua orang gagah adalah tidak lengkap. bila tidak disertai adu kepandaian, maka keduanya kakek tua itu menyingsingkan lengan baju masing-masing dan mengadu panco diatas meja teh, yang sebelumnya sudah dibenahi oleh nona Lan, dan tentu saja adu tenaga itu di menangi oleh Yoko yang berlengan tunggal.

Ketika kedua Cianpwe tua itu beristirahat dan Siau Liong Li sibuk menggoreng singkong, terlihat rajawali tunggangan nona Lan sangat gembira dan mengepak-ngepakan sayapnya sambil menjerit tajam, yang langsung mendapat jawaban dari udara dengan jeritan yang sama. Tidak lama kemudian seekor burung rajawali besar dengan seorang pemuda ganteng berwajah dingin tiba. Disambut oleh nona Lan dengan pelukan mesra, sambil berkata lirih:

„Ko ko!“

„Moy moy!“, jawab si pemuda tak kalah mesranya, sambil memegang kedua tangan si nona cantik

Dengan tertawa terbahak-bahak Yoko diiringi oleh Sia Liong li dan Aldin Siansu menghampiri kedua muda mudi yang sedang dimabuk cinta. Si pemuda ganteng berwajah dingin mendadak mukanya menjadi merah padam karena jengah, lalu menjatuhkan diri di hadapan Aldin Siansu, yang ternyata adalah ayah angkat dari ayahnya si jago gurun pasir Tok Liong Kong Cu Liem Tiang Hong

„Kau baik Kakek?“, kata di pemuda, sambil melakukan kotau dan membentur-benturkan jidatnya keatas rumput.

„Cucuku!“, desah Aldin Siansu dengan bangga. „Bagaimana dengan Bo Ceng Li dan kawan-kawannya serta para tetua partai lainnya?“, tanyanya kemudian.

„Sudah kukirim semua ke penjara“, jawab si pemuda.  „Atas tuduhan, kelakuan yang tidak menyenangkan“

„Bagus!“, jawab si Aldin Siansu sambil bertepuk tangan gembira.

Pembaca yang budiman. Aldin Siansu yang dituduh telah menyebarkan kitab siluman ke dunia kangow akhirnya bebas. karena memang tidak ada kitab siluman, yang ada hanyalah manusia-manusia siluman serakah.

Sebagai hadiah perpisahan, Aldin Siansu memberikan Yoko dan Siau Liong Li dua botol obat kuat ramuan akar-akaran yang hanya tumbuh di Sinkiang, yang digiling halus dengan campuran sejenis lalat dari negeri barat, botol yang warna biru adalah obat kuat lelaki dan botol yang warna pink adalah obat kuat wanita. Ketika Aldin Siansu sudah berjalan dua tiga langkah, ia menengok kembali kearah Yoko dan Siau Liong Li dan dengan wanti-wanti berpesan:

„Cukup tiga tetes sekali pakai, tidak boleh lebih!“

„Dan efek obatnya apa?“, tanya Yoko dan Siau liong Li berbarengan.

„Setelah menggunakan obat ini, secepat angin kalian akan berada didalam ‚goa musim semi abadi‘, tenaga pinggang menjadi dua sampai sepuluh kali lipat lebih kuat, rambut tumbuh lebih cepat, gigi menjadi lebih kuat, mata menjadi lebih awas. Hasrat gairah menjadi tak terbatas.“

Yoko senang mendengarnya. Dan setelah itu, Yoko dan Siau Liong Li kembali menjadi rukun, dan menikmati ‚gelombang musim semi ketiga‘-nya.

Oleh: Aldi Surjana dan Indra Gunawan, dalam rangka mengarang bareng sambil bergurau di Jejaring sosial Facebook, Maret 2015.

Tags: Kitab, Siluman, cersil, yoko, siau, liong, li, sin, tiau, hiap, lu, pendekar, pemanah, rajawali, si, lim,

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s