Aku Ingin Menikah

aldisurjana_jinpingmei_jin_ping_golden_lotus_The_Plum_in_the_Golden_Vase_Ximen_qingKetiga sepupu perempuan diam-diam saling menyikut satu sama lain sambil cekikikan. Kemudian mereka mengambil kartu, satu per satu, dan memperhatikannya dengan cermat. Disitu mereka melihat sebuah kartu, yang membuat mereka menjadi heboh. Gambar itu memperlihatkan seorang perempuan telanjang sedang membungkuk dengan kepala ke bawah dan ‚halaman belakang‘ terangkat ke atas diatas sebuah lempengan batu di tepi kolam dan membiarkan dilayani oleh seorang pemuda telanjang dengan gaya Lungyang (favorit pangeran dari Weh, Abad ke 4 sebelum Masehi), seperti yang umum di kalangan anak muda gay. Ketiga-tiganya memekik nyaring.

      „Cih! Posisi tidak sopan apa itu? Apakah kedua orang itu tidak bisa bersenang-senang dengan dengan cara sedikit lebih sopan?“ teriak mereka kaget.  Terpancing oleh suara gaduh, bibi Chen kembali menghampiri kelompok anak muda.

      „Ada apa? Coba lihat!“ Semerbak menyerahkan kartu yang tidak pantas kepada bibi Chen.

      „Ah, itu gambar Lungyang – seniman yang lukisannya terinspirasi oleh sebuah novel.“

      „Mengapa dari Novel?“ Kata Semerbak ingin tahu.

      „Apa? Masih kau tanyakan? Apakah kalian tidak kenal novel yang berjudul ‚Aku ingin menikah‘? Novel itulah yang mengilhami si seniman“

      „Belum pernah dengar – ceritanya tentang apa? – Kami mohon pencerahan“ pinta ketiga-tiganya.

      „Jadi, dengarkanlah. Kisah ini menceritakan dua orang anak tetangga, yang saling mencintai. Si gadis jelita adalah seorang gadis rumahan yang alim dan si anak muda adalah seorang mahasiswa dengan temperamen yang berapi-api. Si pemuda jatuh cinta pada si gadis tetangga nan jelita, dan karena si gadis tetap di luar jangkauannya, dan rindunya pada si gadis tak tertahankan, akhirnya si pemuda jatuh sakit yang cukup parah.

      Dari ranjang tempat berbaringnya si pemuda diam-diam mengirim surat kepada si gadis, yang isinya: Seandainya ia sekali saja bisa bertemu muka dan berbicara dengan si gadis, maka dengan rela ia akan menerima kematiannya, selain itu si gadis tidak perlu merasa takut, bahwa ia akan berlaku tidak sopan jika diperbolehkan bertemu.

      Merasa kasihan, si gadis menyetujui pertemuan yang diminta. Ia juga membiarkan, bahwa pertemuan dilakukan di sebuah rumah taman yang tersembunyi, si pemuda mendudukan si gadis diatas pangkuannya dan menarik ke dadanya dan memeluk dan menciumnya sepuas hati dan mengusap dan membelai. Tetapi si pemuda yang berapi-api tidak cukup dengan itu, ia meminta lebih banyak. Tetapi si gadis menolaknya dengan tegas.

      „Aku ingin menikah!“, kata si gadis kepada si pemuda. „Oleh sebab itu aku tidak bisa mengizinkan apa yang kau mau!“

      Tak berdaya menahan hasratnya, si pemuda memohon belas kasihan sambil bertekuk lutut. Tetapi si gadis tetap teguh dan terus menolaknya, dimana ia selalu mengucapkan perkataan: ‚Aku ingin menikah!‘ Juga ia mengingatkan, si pemuda memohon pertemuan hanya sekedar untuk bertemu muka dan mengobrol, dan bahkan menambahkan, si pemuda tidak akan berlaku tidak sopan. Ia sudah cukup bermurah hati dengan mengizinkan, mendudukannya di pangkuan dan memeluknya dan mencium dan mengusap dan membelai, dengan itu ia sudah memberikannya lebih daripada yang diminta. Dan sekarang cukup! Keperawanannya tidak boleh diambil, ia ingin membawanya dengan utuh kedalam pernikahan. Bagaimana ia menghadapi calon suaminya, jika ia sudah tidak perawan lagi? Selama hidupnya ia akan dipermalukan dan tidak diterima sepenuhnya lagi di masyarakat. Tidak dan sekali lagi tidak!

      Tetapi si pemuda keras kepala tidak mau menyerah begitu saja. Kembali ia bertekuk lutut di kaki si gadis dan bersumpah, tidak akan bangun lagi, sebelum keinginannya terpenuhi. Alam sudah mengaturnya, bahwa untuk menyintai, juga harus  berhubungan intim. Untuk apa alam telah melengkapinya dengan benda tertentu sepanjang tiga inci?  Tanpa dia memenuhi ketentuan alam, semua cinta yang begitu intim pun dan semua kelembutan adalah sesuatu yang tidak sempurna, dan para kekasih meskipun dibolehkan bercumbu, pada dasarnya tetap asing satu sama lain.

      Jadi dibawah tekanan si pemuda, si gadis perawan merenung dalam-dalam. Dan ia memikirkan jalan keluar yang adil bagi kedua belah pihak.

       ‚Tidak bisa: Aku ingin menikah! Dan karena itu aku tidak bisa memberikan yang kau ingini! kata si gadis kepada si pemuda. ‚Tetapi, bagaimana jika aku memberikan pengganti dari yang kau ingini?‘

      ‚Aku tidak tahu, apa yang bisa menjadi pengganti keinginanku‘

      ‚Aku tahu: Kau kan tidak harus melakukannya dari depan, benda tertentumu sepanjang tiga inci, jika memang benar-benar harus, bisa masuk kedalam tubuhku melalui belakang, dan dengan itu keinginanmu terpenuhi.‘

      Si pemuda setuju dengan solusi yang diajukan si gadis, dan ia melakukan kunjungan kehormatan bukan dari halaman depan, melainkan melalui halaman belakang.

      Jadi itulah cerita, yang menginspirasi seniman kita.  Dan cerita bagus seperti itu kalian tidak kenal?  – Sulit dipercaya!“ kata bibi Chen menutup ceramahnya.

Cuplikan dari Rouputuan (‘Bantal Doa dari Daging’), sebuah novel Tata Krama dari zaman Dinasti Ming (1633),

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh : Aldi Surjana

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s