Pelayan yang mengincar nyawa majikannya

aldisurjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mat_li_yu_21Pada waktu itu hiduplah seorang cendekiawan Miao Hien Hsiu di kota Kwangling distrik Yangchou yang termasuk provinsi Kiang nan. Ia berumur empat puluh tahun dan memiliki seorang putri yang belum menikah.

Karena istri utamanya sakit-sakitan dan selalu terbaring di tempat tidur, maka ia menyerahkan seluruh urusan rumah tangga ketangan istri mudanya Tiao Ki’rl, yang dulunya adalah seorang gadis penyanyi yang dibeli olehnya dengan harga tinggi sebanyak tiga ratus ons perak.

Suatu hari seorang biarawan dari ibu kota timur mengetuk pintu rumahnya, yang keliling negeri mengumpulkan sumbangan untuk gong biara. Tuan Miao adalah bukan seorang hartawan kikir; ia memberikan sumbangan kepada si biarawan pengembara sebanyak lima puluh ons uang perak.

Ketika si biarawan menolak dan berkata setengahnya sudah cukup, tuan Miao menjawab sambil tersenyum:“ Terimalah! Setengahnya untuk Budha dan setengahnya lagi untuk biaya makan hambanya.“ Si biarawan ingin membalas budi atas kebaikan itu, ketika akan pergi, memberikan satu nasihat:

„Tuan, mata kirimu letaknya terlalu dalam di rongga mata. Kau terancam mati dijalan. Jika aku boleh memberi nasihat, usahakanlah tahun ini jangan keluar rumah. Engkau adalah seorang yang sangat baik hati, ijinkanlah si biarawan miskin menggunakan kepandaian meramalnya. Sekali lagi, dengarlah peringatan ini: Jangan menempuh perjalanan jauh!“ Setelah itu ia pergi.

Setengah bulan kemudian, ketika tuan Miao berjalan-jalan ke taman belakang, ia memergoki pelayannya Miao Tsing sedang bermesraan dengan istri mudanya Tiao Ki’rl. Dengan penuh amarah ia memukuli si pelayan dan mengusirnya. Tetapi si pelayan memohon pengampunan agar tetap boleh tinggal dirumah itu. Sejak detik itu si pelayan memendam kebencian kepada tuannya.

Tuan Miao mempunyai seorang saudara sepupu yang bernama Huang, yang juga berasal dari distrik Yangchou dan sangat menguasai pelajaran Konfusius. Ia berhasil menjadi Doktor tingkat kedua dan memegang jabatan di Kai fong fu sebagai perfektur.

Dari saudara sepupu ini ia mendapat undangan agar datang ke tempat tinggalnya untuk bersenang-senang dan pembicaraan mengenai karir di pemerintahan. Tuan Miao sangat gembira dan berkata kepada istri-istrinya:

„Kota Kai fong fu adalah tempat tinggal Kaisar, pasti banyak yang bisa dilihat dan dialami. Jalan-jalan kesana memang sudah lama aku ingini. Undangan sepupuku ini sangat cocok.“

Tapi istri utamanya menyarankan agar jangan kesana.

„Apakah kau sudah melupakan peringatan biarawan? katanya. „Jangan melakukan perjalanan kesana, Jalan ke ibu kota timur sangat jauh, siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan. Selain itu, tidak pernah disinggung apakah kau akan mendapat jenjang jabatan di pemerintah. Dan disini kau akan meninggalkan seorang istri yang sakit-sakitan, seorang putri tanpa perlindungan, dan rumah tangga besar tanpa pengawasan yang bisa diandalkan. Tidak, sebaiknya jangan pergi!“

Tuan Miao menjadi sangat marah dan tidak mau mendengar saran istrinya. „Untuk apa ketika aku lahir digantungkan panah dan busur? Aku adalah seorang lelaki dan tidak takut melakukan perjalanan! Seumur hidup hanya melihat dunia dari lubang jendela, apalah artinya. Tidak aku punya keyakinan didada dan punya banyak uang di tas. Kenapa aku tidak boleh mendapat sukses dan terhormat? Usul dari sepupu Huang sangat bagus, tidak perlu dibicarakan lagi.“

Dan masih di hari yang sama ia berkemas. Sebuah perahu kecil  pun disewa, beberapa peti berisi emas dan perak dimuat ke kapal, dan pada hari yang bagus di akhir musim rontok perjalanan dimulai. Sebagai pengiring, tuan Miao mengajak pelayan Miao Tsing dan pelayan An Tung. Setelah beberapa hari, tibalah di propinsi Shantung.

Ketika pada suatu malam perahu berlabuh di sebuah teluk sepi ditepi sungai Tsing tidak jauh dari kota Tsing ho hsian dan tuan Miao tidur nyenyak, seorang pelayannya yang bernama Miao Tsing belum tidur dan sedang memikirkan rencana jahat terhadap tuannya. Ia tidak dapat melupakan, bahwa ia tempo hari pernah kepergok dan dipukuli oleh tuannya.

„Kesempatan untuk membalas dendam sudah tiba“ katanya kepada dirinya sendiri. „Kedua anak buah kapal pasti akan ikut serta, bila aku menjanjikannya pembagian hasil rampasan. Yang terbaik adalah menenggelamkan si tua bangka ke dalam sungai. Langkah selanjutnya adalah membuat istrinya yang sakit-sakitan cepat mati. Setelah ia mati, maka si cantik Tiao Ki’rl dan seluruh hartanya menjadi milikku.“

Miao Tsing menghampiri kedua anak kapal. „Koper kulit tuanku berisi uang kontan sebesar seribu ons, dan peti-peti kayu kamper berisi kain sutera balokan senilai dua ribu ons“, katanya kepada mereka. „Jika kalian ikut serta, maka kalian akan mendapat bagian sepertiga seorangnya.“

Chen San dann Wong Pa, demikianlah Name kedua anak kapal itu, menyeringai satu sama lain, kemudian menjawab: „Apa yang kau katakan itu, sudah lama kami pikirkan“

Dan rencana disetujui bersama. Ketika itu tengah malam, tuan Miao dan pelayannya An Tung sedang tidur nyenyak di kabin bagian tengah, pelayan Miao Tsing berteriak ditengah malam yang sepi beberapa kali dengan suara melengking dari bagian belakang perahu

‚Rampok! Rampok!‘. Kedua orang yang sedang nyenyak tidur itu terkejut dan melompat dari tempat tidur dan jatuh ke geladak perahu. Chen San menerkam tuan Miao, menusuk tenggorokannya dengan pisau dan melemparkannya ke sungai.

Pada waktu yang bersamaan, pelayannya An Tung dipukul dengan gada di bagian kepalanya oleh Wong Pa, dan ketika ia terhuyung-huyung, dihajar lagi dari belakang, sehingga ia jatuh ke sungai. Sesuai ramalan Biarawan dari ibu kota timur, Miao Hien Hsiu mendapat musibah dan mati.

Pelayan An Tung ditolong oleh seorang nenek nelayan dan selamat, dan setelah itu ia selalu berusaha mencara mayat tuannya di sepanjang sungai dan juga berhasil memojokan kedua  bajak sungai hingga ke pengadilan.

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Cuplikan dari Novel „Jin Ping Mei“ (The Plum in the Golden Vase)

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s