Rulin Waishi – Cendekia dan Mayat Berjalan

aldisurjana_novel_mayat_berjalan_rulin_waishi_the_scholars_wu_jingzi_cendikiawan_ming_dinastiCendekia Zhuang telah mendapat persetujuan Kaisar untuk tidak memangku jabatan dan diijinkan pulang ke kampung halamannya. Juga ia diberikan perbekalan sebesar lima ratus ons uang perak oleh Kaisar. Zhuang tidak suka hidup sebagai pejabat, ia lebih senang hidup menyendiri dan bekerja dibelakang pintu tertutup dirumahnya. Dengan mengendarai kereta kuda, bersama seorang pelayannya, ia melakukan perjalanan ke kampung halamanannya di Nanjing

Ketika itu hari sangat dingin. Karena kereta kudanya agak siang baru meninggalkan ibukota, jadi ketika hari mulai gelap hanya berhasil melalui beberapa mil saja, dan sejauh mata memandang tidak ada satu pun penginapan yang terlihat. Jadi tidak ada pilihan lain selain membelokan kereta ke jalan kampung dan mencari rumah petani untuk bermalam.

Akhirnya ia tiba di depan sebuah gubuk tua, yang dipenuhi ilalang dengan penerangan cahaya lampu yang redup. Di depan pintu berdIri seorang kakek umur tujuh puluh tahunan. Zhuang menghampiri kakek itu dan menjura sambil bertanya:

„Kakek, aku dalam perjalanan pulang dan hingga kini belum menemukan rumah penginapan. Bolehkah aku bermalam dirumahmu?“

„Tidak ada seorang pun membawa rumahnya dalam perjalanan. Kalian boleh menginap dirumahku. Sayangnya kami hanya memiliki satu kamar saja. Istriku dan aku tinggal di kamar sempit ini. Sialnya tadi pagi istriku meninggal dunia. Karena aku tidak punya uang untuk membeli peti mati, mayatnya masih terbaring di dalam kamar. Dimana aku bisa memberikan tempat tidur padamu? Selain itu kalian membawa kereta kuda, dimana harus diparkirkan?“

„Itu tidak menjadi masalah. Aku hanya butuh sedikit tempat untuk menggelar tikar untuk tidur. Kereta kuda kita biarkan saja diluar“

„Jadi, kau harus tidur seranjang ranjang denganku“, kata si kakek.

„Setuju!“ jawab Zhuang dan masuk Kedalam rumah.

Mayat perempuan tua itu terbaring kaku di disamping tungku pemanas dari tanah liat. Zhuang membawa masuk kopernya kedalam rumah dan menawarkan kusir dan pelayannya untuk tidur dI dalam kereta. Kakek tua membaringkan tubuhnya di ranjang menempel ke dinding dan Zhuang harus cukup puas dengan setengah ranjang yang tersisa.

Zhuang merasa gelisah dan tidak bisa tidur: sekitar kentongan ketiga ia merasa ngeri, ketika melihat mayat nenek tua sedikit demi sedikit mulai bergerak. Zhuang langsung bangun dan menatapnya. Ia sangat yakin telah melihat, bagaimana mayat itu menggerakan jari jemarinya dan berusaha menggapai sesuatu.

„Dia hidup!“ teriak Zhuang dan menguncang tubuh si kakek, yang tidak bisa dibangunkan.

‚Bagaimana mungkin orang tua bisa tidur begitu lelap?‘ kata Zhuang dalam hati: dengan heran .

Ketika ia memperhatikan si kakek lebih lanjut, ia menyadari, bahwa si kakek telah menghembuskan nafas terakhIrnya. Si Nenek sebaliknya malah bangun dan berdiri diatas kakinya yang kaku. Matanya yang bengkak terbalik. Jadi ia tidak hidup kembali, melainkan mayat berjalan. Dengan sangat terkejut Zhuang melompat keluar pintu dan memerintahkan kepada kusir, agar menahan pintu rumah dengan kereta, agar mayat itu tidak bisa keluar.

Ia sendiri berdiam di luar, didalam kegelapan malam yang dingin dan dengan penuh penyesalan ia berpikir:

‚Kebahagiaan dan kesengsaraan, penyesalan dan kekecewaan tergantung dari apa yang kita lakukan. Seandainya aku hanya tinggal dIrumah, dan perjalanan ini tidak terjadi, maka aku tidak akan mengalami kengerian ini‘

Ia merenung lebih jauh: „Kelahiran dan kematian adalah kejadian sehari-hari, kekhawatiranku akhirnya pada ketidaktahuanku pada ”hakikat dari perkara-perkara itu sendiri“.

Zhuang pun mulai dapat menenangkan diri. Ia duduk di dalam kereta untuk menunggu datangnya pagi hari. Sementara itu mayat berjalan sudah kembali jatuh ke lantai. Didalam gubuk yang mengerikan itu hanya ada dua tubuh tak bernyawa.

Zhuang menjadi terharu dan berpikir dalam hati:

„Kedua orang tua ini hidup dalam kemiskinan. Aku hanya satu malam menjadi tamunya. Siapa yang akan mengubur kedua orang mati ini, jika aku tidak melakukannya?“

Kemudian ia menyuruh pelayannya dan kusir pergi ke pasar terdekat. Ia memberikan sedikit uang perang pada keduanya, untuk membeli dua buah peti mati, yang diantarkan oleh kuli. Kedua mayat dimasukan kedalam peti mati.

Dari tetangga sebelah kiri, zhuang membeli sepetak kecil tanah untuk makam dan mengawasi bagaimana kedua orang tua itu dikubur. Setelah pemakaman selesai ia membeli makanan kurban – ikan, arak, uang langit -, dengan airmata berlinang ia ia memanjatkan doa di depan kuburan.

Penduduk setempat berbondong-bondong menjura, begitu dalam hingga menyentuh tanah, di hadapan Zhuang dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu Zhuang menaiki kereta kudanya dan meneruskan perjalanan menuju ke kampung halamannya, yang jauh dan penuh rintangan.

Semplakan cerita dari novel Rulin Waishi (The Scholars), karya Wu Jingzi, translated by Aldi Surjana
https://aldisurjana.wordpress.com/

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s