Rulin Waishi – Pendekar Pedang dan Karung berisi Kepala Manusia

pendekar_pedang_rulin_waishi_the_scholars_wu_jingzi_aldi_surjana_aldisurjanaSuatu hari di tengah hiruk pikuknya kota Hushow di provinsi Kiangsu, seorang cendikiawan dari Siangshan bernama Chuan Wu-Yung terjebak dalam kemacetan lalu lintas, dan tanpa sengaja menyengol tandu seorang pejabat hingga oleng. Si Pejabat pun turun dari tandunya. Lalu para pengawal memarahi Chuan dan memaksanya bersujud untuk meminta maaf, yang tentu saja tidak akan dilakukannya, ia hanya memandang si pejabat tanpa bergerak.

Jalan semakin macet dan dipenuhi sekitar 60 sampai 70 orang penonton. Tiba-tiba seorang lelaki gagah bertopi tentara dan berjubah sutera biru keluar dari kerumunan dan menghampiri si Pejabat. Dengan mata besarnya yang terlihat dari wajahnya yang dipenuhi jenggot ia berkata: „ Tuan, tahan amaramu. Orang ini adalah tamu yang sedang ditunggu keluarga Lou, mantan Guru Istana. Meskipun ia menyenggol tandumu, tapi jika kau menghukumnya, keluarga Lou akan menjadi kurang senang.“ Si Pejabat langsung menegur pengawalnya dan naik ke tandu.

Setelah Chuan mengamati tuan penolongnya, ia mengenali kenalan lama, yakni si Pendekar pedang Chang Tia-Bei. Chang mengajak Chun yang sedang kesal ke kedai teh untuk menenangkan diri. Tidak lama kemudian kedua sahabat itu sudah berdiri di depan pintu gerbang kediaman keluarga Lou. Pengurus rumah tangga keluarga Lou terheran-heran melihat seorang tamu kurus dengan pakaian berkabung dikawal oleh seorang pendekar gagah bertubuh tinggi besar dan meminta dipertemukan dengan Tuan Lou ketiga dan Tuan Lou Keempat.

Ketika Pengurus rumah tangga menanyakan namanya, keduanya tidak mau memberi tahu, dan hanya berkata: „ Tuanmu sudah tahu“. Pengurus rumah tangga hanya bisa mempersilakan kedua tamu itu menunggu di ruang perpustakaan karena kedua Lou bersaudara sedang tidak dirumah.

Setelah larut malam kemudian barulah kedua Lou bersaudara pulang dari perjamuan dan dengan gembira menyalami kedua tamunya. Kemudian kedua saudara Lou mengajak Chuan ke „Paviliun Wu-Yung“, yang sudah lama dipersiapkan untuk tempat tinggalnya. Berkali-kali Lou bersaudara menyatakan kekagumannya kepada cendikiawan Chuan, terutama karena ia dikawal oleh pendekar pedang.

Pada saat jamuan minum arak, iseng-iseng kedua Lou bersaudara bertanya kepada Pendekar Chang tentang asal usul nama gelarannya sebagai „Si Tangan Besi“ Tia-Bei.

Atas itu sang Pendekar menjawab: „Sudah sejak masih muda, aku sudah memiliki kekuatan besar, Beberapa teman pernah bertaruh denganku. Aku harus berbaring diatas jalanan dengan kedua tangan terbentang dan membiarkan digiling oleh kereta gerobak yang akan liwat. Sebuah gerobak sapi dengan berat 2500 kilogram datang bergemuruh, dan kedua rodanya menggelinding tepat diatas kedua lenganku. Sebelumnya aku sudah menghimpun tenaga di otot tanganku. Terdengar suara berderak dan bergemuruh dan gerobak sapipun liwat belasan langkah. Ketika aku memperhatikan kedua lenganku, ternyata lecetpun tidak. Sejak itu aku mendapat gelaran nama ‚Si Tangan Besi ‚“

Tuan Lou ketiga bertepuk tangan dengan gembira: „Setelah kisah yang menyenangkan ini, satu guci arakpun tidak cukup. Ambil mangkok besar!“

Kemudian Chang Tia-Bei melanjutkan ceritanya yang tadi terpotong.

„Aku menguasai bermacam-macam permainan senjata, baik berkuda maupun berjalan kaki. Aku pandai memainkan cambuk, pedang melengkung, palu, pisau belati, tombak, pedang dan golok. Sayang sifatku agak berangasan, asal melihat ketidakadilan aku langsung mencabut pedang dan turun tangan. Juga aku sangat senang mengadu imu dengan para Pendekar unggul dari seluruh Tiongkok.  Jika aku punya uang, maka aku membagikannya kepada kaum miskin yang paling miskin. Jadi sejak bertahun-tahun aku hidup mengembara diantara empat lautan tanpa tempat tinggal tetap, dan hari ini kebetulan jalan menuntunku kerumahmu.“

„Benar-benar seorang pendekar hebat!“, teriak Lou keempat dengan penuh antusias.

Cendikiawan Chuan ingin membuat temannya lebih senang lagi:

„Permainan senjata saudara Tia-Bei memang sangat mengagumkan, tapi yang harus mendapat pujian paling besar adalah permainan pedangnya. Pasti saudara Chang akan mempertunjukan kepada Tuan-Tuan dengan senang hati “

Kedua Lou bersaudara langsung bersedia untuk meminjamkan sebuah pedang tua dengan gagang kayu yang diukir dengan sangat indah. Chang Tia-Bei memperhatikan pedang tersebut dengan teliti dibawah lampu. Pedang itu berkilauan terkena cahaya lampu. Sang Pendekar melepaskan jubahnya, mengencangkan ikat pinggangnya, mengambil pedang dan bergegas keluar ke halaman rumah. Tidak lama kemudian sekumpulan penonton berkerumun di sekelilingnya.

Kedua Lou bersaudara berteriak: „Stop!“ Lalu memberi perintah kepada para pelayan agar menyalahkan beberapa obor. Sepuluh pelayan berdiri di setiap sudut halaman dengan obor yang terang benderang di kedua tangannya. Chang Tia-Bei memutar pedangnya dalam bentuk lingkaran dan memainkan jurus pedangnya. Setelah beberapa jurus kemudian, yang terlihat hanyalah kilauan sinar pedang yang berkedutan, seolah-olah sepuluh ribuan ular perak sedang menari.

Tuan Chuan meminta sebuah baskom tembaga dan mengisinya penuh dengan air. Sebanyak apapun air yang ia siramkan kepada Chang Tia-Bei, tidak ada satu tetespun yang dapat menembus putaran pedangnya. Tiba-tiba Chang mengeluarkan suitan tajam; dan kilauan sinar pedangpun berhenti, dan dengan pedang ditangan Chang berdiri tanpa bergerak. Dari wajahnya tidak terlihat tanda-tanda kelelahan. Semua penonton bertepuk tangan dengan riuh.

Hingga kentongan keempat tengah malam mereka masih menikmati arak bersama; siapa yang ingin tidur, tinggal langsung berbaring di kamar perpustakaan. Untuk selanjutnya Tuan Chuan dan Chang Tia-bei menjadi tamu terhormat di rumah keluarga Lou.

Beberapa hari kemudian,, sekitar kentongan kedua tengah malam, tiba-tiba kedua Lou bersaudara mendengar suara genteng berderak: Dari atas atap rumah seorang Lelaki yang penuh berlumuran darah melompat turun. Dibawah penerangan sinar lilin keduanya mengenali Chang Tia-Bei.  Saking kagetnya kedua Lou bersaudara berseru: „ Hei saudara Chang, apa yang kau lakukan?“ Ditengah malam buta masuk ke kamar tidur belakang?  Dan apa itu didalam karung kulit?“

„Duduklah kembali, Tuan-tuan terhormat, dan dengarkan aku. Aku akan menceritakan semuanya kepada kalian. Takdir membuatku mempunyai seorang Penderma yang mulia dan pada waktu yang bersamaan juga musuh bebuyutanku. Sejak sepuluh tahun hidupku dipenuhi kebencian pada musuh bebuyutanku ini. Hingga kini aku belum mendapat kesempatan untuk membalas dendam. Tetapi hari ini kesempatan itu datang, dan aku telah memenggal kepalanya. Didalam karung ini ada kepala manusia yang masih berdarah.

Mengenai Penderma yang mulia, ia tinggal sekitar Sepuluh mil dari sini. Aku ingin membalas kebaikannya dengan lima ratus ons uang perak. Karena sekarang dendamku sudah terbalas, aku hanya ingin membaktikan sisa hidupku pada teman baikku. Tidak ada seorangpun yang memiliki kebesaran hati selain kalian. Oleh karena itu, di dalam lindungan kegelapan malam, aku memberanikan diri untuk mendatangimu. Jika kau tidak menolongku, maka aku akan pergi untuk selamanya, dan kita tidak akan berjumpa lagi.“

Setelah kata-kata itu Chang Tia-Bei membuat ekspresi seolah-olah ia akan langsung pergi bersama karung kulitnya.

Kedua Lou bersaudara yang masih belum hilang rasa kagetnya itu, menghalangi jalan keluar Chang Tia-Bei.

„Jangan terlalu cepat saudara Chang, lima ratus ons uang perak bagi kami adalah urusan kecil. Tetapi bagaimana halnya dengan kepala yang mengerikan ini?“

„Kenapa harus dipusingkan?“ kata sang Pendekar sambil tertawa. Setelah pedangku menunaikan tugasnya, adalah tidak sulit bagiku untuk menghilangkan semua jejak. Hanya saja tidak perlu terburu-buru. Setelah dua kali dua jam aku menyerahkan uang kepada Pendermaku dan aku sudah kembali lagi. Maka aku akan mengeluarkan kepala dari karung kulit, menaburkan bubuk ke atasnya, maka sampai kerambut-rambutnya akan meleleh menjadi air bening. Kalian bisa mengadakan pesta, mengundang tamu, yang akan menyaksikan kebisaanku“

Lou bersaudara cepat mengambil uang dan menyerahkan jumlah yang diminta. Chang Tia-Bei meletakan karung kulitnya di pojok teras, memasukan uang perak kedalam tas ikat pinggangnya, mengucapkan terimakasih kepada kedua Lou bersaudara, dan melompat keatas atap, seolah-olah ia memiliki sayap dan langsung menghilang dalam sekejap. Hanya terdengar suara beberapa genteng berderak. Dan kembali malam dikuasai kesunyian. Bulan naik meninggi dan melemparkan cahaya pucat keatas karung kulit dengan kepala manusia, yang masih berdarah.

Jadi kedua Lou bersaudara menghadiahkan lima ratus uang perak kepada Chang Tia-Bei untuk pendermanya yang penuh rahasia itu. Untuk itu sang pendekar meninggalkan karung kulit berisi kepala manusia pada mereka.  Kedua saudara Lou tidak memiliki rasa takut sedikitpun dengan kejadian tadi, tetapi karung kulit berisi kepala manusia di pojok teras membuatnya agak cemas.

Tuan Lou keempat berusaha menghilangkan kecemasan firasat buruknya dan berkata:

„Seorang pendekar pedang seperti Chang Tia-Bei pasti tidak akan mengingkari janjinya. Kita tidak boleh bersikap lemah. Jadi kita akan mengadakan perjamuan makan dan mengundang beberapa teman baik. Entah pertunjukan aneh apa, yang akan kita alami, jika Chang Tia-Bei membuka karung kulit dan mencairkan kepala menjadi air. Bagaimana jika kita mengadakan pertunjukan kepala manusia bersama teman-teman“

Kakaknya yang lebih tua menyetujui usul Tuan Lou ketiga. Keesokan harinya kedua Lou bersaudara memerintahkan agar disiapkan meja perjamuan, dan mengundang beberapa teman-temannya.

Tentu saja, juga tamu kehormatan yang tinggal dirumah keluarga Lou, antara lain cendikiawan Chuan Wu-Yung dan. Para tamu undangan tidak diberitahu tentang akan adanya pertunjukan kepala manusia. Mereka akan mendapat kejutan, jika nanti Chang Tia-Bei muncul dan memperlihatkan kepandaiannya! Sesuai waktu yang telah ditentukan, para tamu undanganpun mulai berdatangan, dan mereka asyik mengobrol satu sama lain.

Lebih dari empat jam waktu berlalu dan Chang Tia-Bei belum juga muncul. Haripun mulai siang, dan dari yang ditunggu-tunggu belum ada kabar beritanya. Diam-diam Tuan Lou ketiga menarik adiknya ke pojok dan berkata: “ Dengar, Sepertinya urusan ini ada yang tidak benar“

„Ah, mungkin ia ada halangan di perjalanan. Ia kan meninggalkan karung kulitnya disini. Jadi pasti ia akan datang kembali“

Begitu hari mulai malam, maka harapan akan kedatangan Chang Tia-Bei pun mulai sirna. Di dapur hidangan makan malam sudah siap, dan para tamu dipersilakan makan.

Hari ini udara panas sangat menyengat. Tuan rumah mulai kehilangan kesabaran.

„Jika ternyata lelaki itu tidak datang, bagaimana kita harus menyingkirkan kepala manusia itu tanpa menarik perhatian?“ tanya Tuan Lou ketiga.

Ketika malam semakin larut, dari karung kulit pun keluar bau yang tak tertahankan. Juga Nyonya rumah mencium bau tersebut dan menyuruh pelayan mencari tahu dari mana asalnya. Tidak ada jalan lain selain menguatkan hati dan membuka karung kulit. Diluar dugaan, yang terlihat bukan kepala manusia, melainkan kepala babi seberat tiga setengah kilogram. Kedua saudara hanya bisa saling pandang. Tanpa berkata apa-apa, keduanya membiarkan benda itu dibawa ke dapur untuk diserahkan kepada tukang masak.

Kemudian diam-diam kedua bersaudara berembuk. Kejadian yang memalukan ini jangan sampai diketahui orang lain. Lalu keduanya kembali ke meja perjamuan dan menemani para tamu minum. Pada saat suasana hati kedua Lou bersaudara masih mengkal, pengurus rumah tangga datang melapor:

„Seorang Opas dari Wusheng dan dua orang Opas dari Siangshan minta bicara dengan Tuan rumah“

„Urusannya agak aneh“, kata Tuan Lou ketiga, „Ada apa ya“. Lalu ia menyerahkan kepada Lou keempat untuk menemani tamu, sedangkan ia sendiri pergi ke ruang depan dan memerintahkan para Opas masuk. Ketiga Opas masuk ke ruangan dan memberi hormat sambil bersujud. Kemudian menyerahkan surat panggilan dan sebuah surat dinas.

Tuan Lou ketiga membaca kedua surat tersebut dengan teliti, dan  mendapat kesimpulan, bahwa ketiga Opas itu datang untuk menangkap cendiakiawan Chuan Wu-Yung, dengan tuduhan telah menculik seorang biarawati muda dan dikurung dirumahnya.

„Baik, aku mengerti, Silakan kalian menunggu diluar“, kata Tuan Lou ketiga.

Tuan Lou ketiga merasa sangat malu dengan kejadian ini, lalu memanggil adiknya Lou keempat dan cendikiawan Yang Chu-Chung, salah seorang tamu terhormatnya, yang merekomendasikan Chuan Wu-Yung kepada Lou bersaudara. Juga Lou keempat menjadi malu dengan kejadian ini. Pada akhirnya cendikiawan Yang berkata:

„Tuan Lou, sebuah pepatah kuno mengatakan, bahwa : ‚Jika seekor tawon masuk kedalam pakaianmu, kau harus  mengusirnya keluar‘. Kau tidak boleh menyembunyikan seorang penjahat. Aku akan memanggil Chuan Wu-Yung dan menyerahkannya kepada ketiga Opas, sisanya ia harus mengurus sendiri“

Muka Chuan menjadi merah padam, dan ia berkata:

„Benar tetap benar dan salah tetap salah. Aku akan ikut, memangnya apa yang aku khawatirkan?“

Sikap kedua Lou bersaudara terhadap Chuan Wu-Yung tidak berubah, tetap ramah dan sopan, hanya saja kepada ketiga Opas ia mengucapkan beberapa perkataan pedas. Untuk perpisahan keduanya menyajikan dua mangkuk arak kepada Chuan Wu-Yung, dan memberikan dua kantung uang perak untuk di perjalanan, dan mengantarnya hingga ke pintu gerbang. Baru saja kedua Lou bersaudara menghilang dari pintu gerbang, para Opas menghampiri Chuan Wu-Yung dan memborgolnya.

Setelah dua Kejadian belakangan ini, kedua Lou bersaudara tidak mau lagi mencari kenalan baru. Keduanya memberikan perintah kepada pengurus rumah tangga agar menutup pintu gerbang dan jika ada tamu yang tidak dikenal, harus mengatakan, bahwa kedua Tuan Lou sudah lama berada di ibu kota lagi. Sejak itu kedua Lou bersaudara hidup menyendiri dan hanya menyibukan diri dengan urusan rumah tangganya.

Semplakan cerita dari novel Rulin Waishi (The Scholars), karya Wu Jingzi, diterjemahkan oleh Aldi Surjana

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s