Hukum Sebab Akibat Suami Istri

aldisurjana_Hukum_Sebab_Akibat _suami_Istri_karma_zen_buddha

Tiada hutang tiada tagihan, tanpa jodoh tak mungkin berkumpul.

Kebanyakan perumpuan membenci suaminya, jarang yang tidak… Mengapa seorang istri lebih banyak mengeluh?  Karena pada saat dia dinikahkan ke calon suaminya, maka detik itu juga sang istri telah menyerahkan seluruh jiwa raga ke suaminya.

Setelah menikah, tugasnya adalah mencintai keluarga, mencintai suami dan anak anaknya. Bersusah payah demi keluarga. Tapi diakhir cerita, sang suami tidak pernah bertutur kata yang baik!

Ada suami yang seumur hidupnya tidak pernah bertutur kata yang baik. Tidak pernah berkata: „Istriku, maaf ya… telah merepotkanmu! “

Bahkan ada sang istri yang sudah sibuk kerja seharian, berpikir ingin bermanja-manjaan dan mendengar kata-kata menghibur hati dari sang suami!  Dan berkata pada suami: „Suamiku…, hari ini aku tidak begitu kerja, capek sekali! “

Lalu apa reaksi sang suami? suaranya bak halilintar yang menggelegar: „Siapa yang tidak kerja? demi hidup, kamu capek, orang lain tidak capek? “ Satu kalimat saja sudah membuat sang istri menangis pilu merasa tersakiti yang amat sangat. Sampai didalam menangis dengan pilunya.

Dalam hati berpikir: „Benar-benar makan hati! “  Kenapa bisa dapat orang yang  gak punya perasaan, tak pernah lembut. Awalnya kepingin dihibur, kalau gak dapat ya gak apa-apa! Malahan harus terima amarahnya!

Menikah dengan pria yang tidak bisa berkata lembut atau dengan pria yang kepala batu, atau dengan pria yang suka berkeluyuran, Sang istri yang di rumah pasti sedih dan tersiksa.

Wahai sang istri!  Pahamilah setelah mempelajari kebenaran ini.  Kebenaran yang bagaimana?  Wahai sang istri, Anda berhutang dengannya di kehidupan lampau dan hari ini baru bisa menikah dengannya!

Anda hari ini menikah dengan si A atau si B, Kenapa Anda tidak menikah dengan si C? Karena Anda berhutang karma pada dia.  Oleh karena itu, tiada hutang tiada tagihan, tak ada jodoh tak mungkin ketemu!

Ada orang berkata: „aku tidak berhutang karma pada suamiku,  dia sangat baik terhadap aku.“  Yang jadi suami pun bisa berhutang karma ke istrinya. Tanpa ikatan ’sebab jodoh‘ tidak mungkin terbentuk sebuah keluarga

Bagaimana melunasi hutang karma?  Ada istri memarahi suaminya! Kenapa aku bisa menikah dengan manusia tak berguna seperti kamu, apapun tak bisa!

Selalu menghina suaminya di depan tetangga dan teman temannya. Bahwasanya, suaminya sangat tak berguna, semua hal akulah yang pergi menyelesaikannya, benar-benar-capek hidupku!

Seandainya Anda menikah dengan seorang bagong, itu dikarenakan di kehidupan lalu, dia membantumu terlalu banyak. Oleh karena itu, hari ini Anda harus mengembalikannya kembali.

Ini bukan karena nasib Anda malang, tapi benih yang Anda tanam pada kehidupan lalumu, hari ini telah berbuah…

Anda sendiri yang menanam benih-benih karma di kehidupan lampau, maka di kehidupan sekarang, Anda harus menanggungnya.  Nabi Khong Zhu bersabda: „Terimalah dan tunaikan lah“

„Terima maka selesailah!“  Baru bisa menyelesaikan hukum karma ini, setelah Anda sampai di rumah, terimalah dengan hati dan pikiran yang tenang.

Mulai hari ini, jangan membencinya lagi.  Dia itu di kehidupan lampaumu adalah hutang dosa karmamu, jadi di kehidupan sekarang Anda harus menanggungnya.

Setelah Anda mengerti hukum sebab akibat, masih bisa menyalahkan orang lain? Seorang istri bisa menikah dengan suami yang bagaimana, itu sudah merupakan takdirmu.

Orang yang kita temui hari ini, semuanya sudah digariskan oleh takdir, adalah benih yang kita tanam pada kehidupan lampau!  Hari ini baru bisa memetik hasil yang demikian.

Ikhlaskanlah, tak ada sebab tak ada akibat, tanpa jodoh tak mungkin berkumpul,  kehidupan lalu berhutang kepadanya, kehidupan sekarang baru bisa menikah dengannya.

Katakanlah suamimu sangat baik, lalu Anda bilang Anda tidak berhutang padanya. Tetapi Anda berhutang pada mertuamu.

Di kehidupan sekarang menantu dan mertua selalu tidak akur, ini semuanya adalah ikatan jodoh batil di kehidupan lampau. Maka sekarang baru bisa ketemu lagi….

Ada mertua yang menggerutu: „aku telah habiskan begitu banyak uang ke anakku demi menikahi dia, tapi akhirnya, dia begitu jahat kepadaku, benar-benar makan hati…,  malang sekali nasibku!

Bukan malang, tapi uang yang Anda habiskan itu untuk mengundang musuh lampau mu. Bukan sial atau malang, jikalau kamu dan dia tidak ada ikatan jodoh masa lampau, tak mungkin bisa jadi menantumu.

Bukanlah dia yang meresahkanmu, tapi kamulah yang menanam bibit tersebut, maka hari ini baru bisa memetik buahnya.

Tak sedikit saudara sekandung pun bisa bermusuhan!  Ini semuanya berhubungan dengan hukum karma.

Tak ada hutang tak mungkin ditagih, tak ada dendam tak mungkin berkumpul.

Mengapa ada keluarga yang rukun harmonis, saling menghormati?  Mereka semua adalah jodoh baik!  Mereka juga sedang melunasi ikatan ’sebab jodoh‘ baik…

Melunasi hutang karma dengan ikhlas dan tidak membuat dosa baru.

Hari ini, Anda memahami hukum sebab akibat dengan jelas, sampai di rumah jangan lagi kecewa… Bertemu dengan siapapun adalah ’sebab jodoh‘!

Ikhlaskanlah, rendahkan hatimu, turunlah dari tempat yang tinggi.  Sebagai seorang istri, Anda jangan merasa minder dan rendah diri dan jangan juga jadi manusia galak!

Harus dipahami, karena ada hutang karma pada dia, hari ini baru bisa menikah dengannya. Dan janganlah ngoceh tak karu-karuan, sudah bertahun tahun hidup dengannya….

Anda tahu jelas sifat suamimu, bahkan anak anakmu sangat tersiksa dengan temperamenmu yang mengerikan…

Gara-gara temperamenmu yang membara, mereka sangat tersiksa juga…  Setiap ketemu langsung marah-marah, komplain ini itu…!

Mereka juga tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu, dan Anda sendiri juga gak bahagia…

Hari ini sudah saatnya sadar…  Orang orang yang ada di sekitar kita, ada yang datang menagih hutang, membayar hutang, membalas budi dan membalas dendam.  Semuanya adalah orang orang yang berjodoh dengan kita.

Ada anak yang sejak kecil sakit melulu, sampai bisnis Anda bangkrut atau seorang yang membangkang, mukul dan lawan orang tua. .

Anak yang demikian adalah anak yang datang untuk menagih hutang, karena di kehidupan lampau Anda berhutang nyawa dengannya.

Jikalau di kehidupan lampau, Anda menipu harta benda orang, maka di kehidupan ini, mereka terlahir sebagai anak Anda yang datang untuk menagih hutang.

Ada anak yang suka sakit semasa kecil, sampai keuangan rumah tangga pun habis untuk pergi berobat…

Tapi setelah dewasa masih gak tahu berbakti pada orang tua lagi. Anak yang demikian, jangan menyimpan dendam dan membencinya.

Cuma bisa dilayani dengan cinta kasih, karena Anda berhutang banyak di kehidupan lampau.

Jangan lagi naik pitam. Karena karma masa lampaumu belum selesai, Anda masih terus menerus membuat karma baru.

Anda tidak berniat untuk membayar hutang karmamu di kehidupan ini, maka di kehidupan yang akan datang, hutang berlipat ganda.  Dan Anda akan dipaksa untuk melunasi hutang karma tersebut.

Sadarlah! Kebencian tidak bisa menyelesaikan masalah.  Perlakukan semua orang dengan KASIH, karena mereka datang untuk menyelesaikan ’sebab jodoh‘ masing masing.

Buddha bersabda: „Semua makhluk hidup adalah sama“  Suamimu bukanlah properti pribadi.

Dikarenakan dia ada ikatan jodoh denganmu di kehidupan lalu, maka di kehidupan sekarang dia datang untuk menyelesaikan ’sebab jodoh‘ tersebut.

Anak juga bukanlah sebuah properti pribadi, mereka juga umat manusia, cuma saja mereka ada saling hutang denganmu.

Ada yang datang untuk membayar hutang karma dan ada yang datang untuk menagih hutang. Semuanya tak lepas dari ikatan ’sebab jodoh‘.

Anda harus benar-benar memahami inti dari Dharma ini, dengan demikian baru bisa terbuka kebijaksanaanmu.  Hatimu baru bisa tidak tercekat oleh suami dan anak anakmu.

Mengapa Buddha mau Anda berikhlas?  Agar Anda tidak menganggap suamimu bagaikan milik pribadi.  Dikarenakan kalian ada ikatan jodoh masa lampau, maka hari ini baru bisa berbuah.

Apa itu lenyapnya sebuah ikatan jodoh?  Semua orang pun tahu, jikalau ’sebab jodoh‘ selesai, maka satu persatu pun akan berpisah.

Anda Mengikhlaskannya, itu berarti Anda mendapatkannya.

Lepaskanlah ketercekatan hati ke suamimu. Jangan cuma menganggap dia sebagai „suami“ doang!  Dia juga umat manusia. Dikarenakan ada ikatan ’sebab jodoh‘ masa lampau.

Belum jelas apakah ’sebab jodoh‘ yang baik atau yang buruk. Anda harus mengasihinya dan berkorban untuknya. Sesampai di rumah, kerjakanlah pekerjaan rumah, jangan mengeluh lagi.

Berkeluh kesah bisa membahayakan diri,  Jika belum bisa berikhlas dalam rumah tangga, Anda masih dalam samsara, walaupun rajin belajar kebuddhaan… .

Hari ini Anda mengerti, bahwasanya semua umat manusia yang datang ke dunia adalah untuk melunasi ’sebab jodoh‘ mereka.  Setelah sampai di rumah, kuatkan batin dan imanmu.

Disisi lain, harus lebih baik kepadanya, berkorban untuknya dan lebih bercinta kasih kepadanya.  Membuat hari-harinya semakin indah dan semakin bahagia…

Membuat hidup orang menjadi bahagia, itulah inti belajar kebuddhaan. Sama halnya terhadap anak, juga harus bisa berikhlas hati terhadap mereka…

Jangan terlalu tercekat terhadap mereka, bereskan sarapan pagi mereka, kasihilah mereka, mereka merasakan kehangatanmu dan bahagia setiap saat.

Lalu membawa mereka ke sekolah, sehabis itu hatimu harus bisa di ikhlaskan, jangan menguatirkan mereka lagi.

Saat itu juga hati harus bersatu dengan Buddha, Jikalau Anda berhasil dalam kebuddhaan, maka mereka juga mendapat pancaran kasihnya.

„Keikhlasan“ sejati sebenarnya adalah „memperoleh kembali“

Bisa mengikhlaskan mereka dan satu niat belajar kebuddhaan, di saat detik-detik terakhir Anda baru bisa mencapai kebahagiaan sempurna.

Anda meninggal dengan sangat kudus dan wajah berseri-seri, biarkan suami dan anak anakmu menyaksikan fenomena ini.

Pada akhirnya, mereka pun bisa ikut belajar dan mencapai kebuddhaan bersama sama denganmu.  Ini namanya ikhlas sejati, kasih abadi… atau MAHA KASIH…

Di saat mencapai kebuddhaan, saat itu juga mereka bisa ikut terselamatkan ke pantai bahagia….   karena „berikhlas“ adalah „memperoleh kembali… “

https://aldisurjana.wordpress.com/

Sumber:
Dirangkum dari video „因果與夫妻 / Hukum Sebab Akibat dalam anggota keluarga“ by David Lin (06.06.2015)

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s