Bab 1 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjana

Ximen mengangkat saudara dengan 9 orang bergajul

Cerita ini terjadi di zaman Song, di bawah pemerintahan Kaisar Huizong. Ketika itu hiduplah di provinsi Shandong di keresidenan Tsing-ho-hsian seorang pria bernama Ximen. Seorang lelaki gagah, penuh gairah kehidupan, berumur 30 tahun yang hidup berlimpah.  Ayahnya almarhum dulu sangat berhasil dalam perdagangan obat-obatan di provinsi Sichuan dan Kwangtung, dan terakhir memiliki toko obat di Tsing-ho-hsian.

Rumah Ximen terdiri dari lima bangunan di bagian depan dan tujuh bangunan di bagian belakang; memiliki banyak pelayan, Istal-istal yang dipenuhi kuda-kuda dan keledai-keledai terawat. Walau  pun belum dapat terhitung yang paling kaya, tetapi di sekitar keresidenan termasuk orang yang berharta besar. Sejak remaja, sebagai anak tunggal, hidup dimanja, sudah terbiasa hidup bebas dan tidak menyukai buku. Terutama setelah kematian orang tuanya, hidupnya hanya untuk mengejar kesenangan. Ilmu silat, pedang, kartu, dan dadu, catur serta teka-teki adalah kepandaian satu-satunya yang dikuasai.

Sekumpulan lelaki bergajul yang terdiri dari sembilan orang selalu mengiringinya bersukaria. Ying Pokue merupakan salah satu dari sembilan berandal yang paling akrab. Ia adalah seorang pedagang kain sutera bangkrut, yang menghidupi diri sebagai pemasok ‚barang segar‘ untuk kebutuhan kamar tidur para mandarin (pejabat tinggi) di kota. Ia mengerti sedikit tentang catur, bola dan dadu. Dan ada lagi seorang yang bernama Hsia Hsita, ia adalah putra seorang Komandan kota Tsing-ho-hsian terdahulu. Setelah kematian orang tuanya, ia menjalani kehidupan dunia preman, dan tertutuplah sudah kesempatan untuk meneruskan kedudukan ayahnya. Ia mempunyai kepandaian yang cukup lumayan dalam hal seni alat musik, dan disukai di lingkungan Ximen.

Ketujuh lainnya adalah Chu Shinien, Sun Tienhua, Yun Lishow, Chan Shikia, Pu Shitao, Pa Laykwang dan Wu Tianen. Yang terakhir dulunya adalah seorang ahli Fengshui di keresidenan, setelah dicopot dari jabatan ia mencari nafkah sebagai calo peminjaman uang. Dari situlah ia berkenalan dengan Ximen  yang juga sering berperan sebagai bank peminjaman uang. Ximen  sangat cocok dengan 9 orang ini dan selalu menggunakannya untuk kepentingan antara lain minum-minum, judi dan pelacuran.

Ximen  cukup pandai dalam bidang bisnis, berpengaruh selain di lingkungan pegawai negeri, juga sampai para koruptor tingkat tinggi, yang dikenal sebagai „Empat besar penjahat negara“.  Yang dimaksud tentu saja adalah Perdana Menteri Tsai King, Marshal Yang Kian dan dua Kepala Kasim Kao Sui dan Tung Kwan. Jadi tidak aneh, bila ia di mana-mana sangat disegani, sehingga banyak keputusan tergantung dari ucapannya.

Dari istri pertama, Ximen  mempunyai seorang anak gadis yang belum menikah, tetapi sudah bertunangan. Perkawinannya yang kedua, ia menikah dengan „Perawan Bulan“, yang berumur 25 tahun, putri seorang Komandan kota bernama Wu.  „Perawan Bulan“ atau yang setelah menikah biasa disebut . Nyonya Bulan“ adalah seorang istri yang baik, sangat pengertian, pandai mengenali sifat suaminya yang beragam.

Selain itu, tinggal juga di rumah itu dua orang gundik, Li Kiao’rl  si kurus dan si penyakitan Cho Tiu’rl, keduanya dulu adalah favorit Ximen  di rumah pelesiran. Di antara para gadis pelayan di rumah itu, ada tiga atau empat gadis cantik yang sesekali digunakan untuk pelampiasan hasratnya. Tetapi semua itu tidak cukup, untuk memenuhi hasratnya yang besar, ia sering memikat dan bermain dengan istri dan anak gadis orang.

„Hari ini tanggal ke dua puluh lima bulan ke sembilan“ ia berkata suatu hari kepada istrinya, „tanggal tiga bulan depan seperti biasa aku akan mengadakan pertemuan tahunan dengan sembilan orang teman-temanku. Tolong siapkan, bahwa kita nanti bisa mengadakan pesta makan dan minum di sini. Panggil juga beberapa gadis penyanyi.“

„Aku malas berurusan dengan orang-orang semacam itu!, jawab Nyonya Bulan ketus. „Mereka bukan manusia. Mereka melebihi setan yang dilepaskan dari neraka untuk mencari mangsa, apakah kau serius ingin mengundang mereka ke rumah ini? Engkau harus sedikit peka dengan istri ketigamu, ia kurang sehat belakangan ini!“

Istriku, betapa ingin aku membenarkan kata-katamu, tetapi dalam hal ini – tidak. Penilaian jelekmu terhadap kawan-kawanku yang tujuh orang itu mungkin tepat, tetapi tidak untuk Ying dan Hsia. kedua orang itu adalah orang kepercayaanku. Selain itu sekali ini aku merencanakan sesuatu yang khusus dalam pertemuan ini. Hanya sekedar berkumpul dan bubaran sebenarnya tidak berarti apa-apa. Tidak, sekali ini kami akan merayakan sumpah pengangkatan saudara, supaya satu sama lain bisa saling mengandalkan.“

„Kedengarannya sih bagus, tetapi aku khawatir, bahwa nanti hanya mereka yang akan mengandalkanmu, sebaliknya mereka hanya berguna bagimu sebagai boneka.“

„Malah bagus begitu, bila aku yang selalu berada di sisi yang bisa mereka andalkan“, jawab Ximen sambil tersenyum.

„Sudahlah, nanti akan kubicarakan dengan temanku Ying“

„Paman Ying dan Paman Hsia tiba!“ lapor  Tai A’rl, seorang pelayan lelaki muda belasan tahun, bermata jernih dengan alis yang bagus.

Kemudian Ximen  menerima kedua temannya itu di ruang tamu. „Di mana saja kalian belakangan ini?“

„Oh, kemarin kami ke rumah Bibi Li, di sana kami bertemu keponakan perempuan istri keduamu. Ai, anak itu cepat sekali tumbuh, pasti akan berkembang menjadi gadis jelita! ibu gadis itu berpesan beberapa kali, agar dicarikan pemuda yang baik, untuk dinikahkan bila sudah tiba saatnya. Ia khawatir nanti dimangsa olehmu juga.“

„Begitu ya! Jadi nanti akan kulihat dengan mata kepalaku. Selain itu, ke mana lagi kalian?“

„Ah, beberapa hari sebelum ini kami membantu janda Pu Chitao , teman kita yang baru meninggal itu, bantu-bantu menyiapkan upacara perkabungan. Melalui kami Ia mengucapkan terima kasih untuk sumbangan perkabungan darimu, ia tidak berani mengundangmu ikut upacara ke rumah yang sempit dan miskin.“

„Ya, siapa yang pernah mengira, bahwa dengan lelaki malang itu itu cepat berakhir! Belum lama ia memberikan aku sebuah kipas Sichuan, dan baru saja aku akan memberikan hadiah pengganti. Ia sudah keburu meninggal, jadi hadiah pengganti dariku kepadanya dalam bentuk uang kertas untuk orang mati!“

„Tidak ada pilihan lain bagi kita, selain cepat-cepat mengisi kekosongan ini, supaya kita jadi sepuluh lagi.“ berkata Hsia sambil menggerutu. „Beberapa hari lagi kita akan mengadakan pertemuan tahunan. Apakah kau akan mengadakan perjamuan, temanku Ximen?“

„Baru saja aku berbicara dengan istriku. Kali ini aku telah memikirkan sesuatu yang agak luar biasa. Katakanlah, apakah selama ini pertemuan minum-minum ini pernah bermanfaat bagi seseorang? Aku usulkan, pertemuan kali ini kita adakan di sebuah Biara, dan ditutup dengan sembahyang sumpah pengangkatan saudara, supaya seumur hidup kita satu sama lain bisa saling mengandalkan. Tentu saja biaya pembelian kurban binatang masuk ke rekeningku, kalian boleh ikut menyumbang untuk biaya lain-lain. Bagaimana pendapat kalian mengenai usulku?“

„Ayo, setiap orang membantu sebagian!“sela Ying cepat-cepat.

„Tetapi, jangan lupa, di sampingmu kami semua ini, bagaikan buntut tikus yang tak berarti.“

„Siapa yang minta dari kalian?“ jawab Ximen  sambil tertawa.

„Usulmu bagus sekali“, kata Hsia ikut angkat bicara. „Tetapi siapakah calon pengganti teman kita Pu Chitao  yang meninggal? Ikatan persaudaraan kita harus lengkap.“

Ximen  berpikir setarikan nafas.“Bagaimana dengan pemuda Hua? Tanah keluarga kami menempel satu sama lain, hanya terpisah oleh selapis tembok. Selain itu, ia mempunyai tangan yang terbuka. Aku sering berhubungan dengan dia.“

„Maksudmu Hua Tse Hsu? pelanggan tetap si mungil Wu Yi’rl?“, tanya pembonceng Ying dengan bernafsu.

„Ya, ia“

„Ai, suruh orang cepat-cepat jemput, dengan orang ini kita bisa sering-sering pesta besar.“

„Dasar, tukang nebeng!  Hanya makan yang di ingat!“, kata Ximen  sambil tertawa terbahak bahak. Kemudian ia memanggil pelayan anak laki-laki Tai A’rl, dan mengutus ke rumah sebelah.

„Di mana kita akan mengadakan pertemuan pada tanggal tiga nanti, di sini atau di Biara?“, tanya pembonceng Ying ingin tahu.

„Kita mempunyai dua pilihan, antara biara Buddha  dan kuil Tao“, kata Hsia. „Di biara Yung-fu-se atau di kuil Yua-huang-miao „.

„Dengan agama Buddha, apa yang akan kita kerjakan, sama sekali tidak ada urusan“, Ximen  memutuskan, „Aku juga tidak kenal dengan kepala biara Yung-fu-se, sebaliknya aku kenal baik dengan Pendeta Kepala Wu di biara Yua-huang-miao. Aku usulkan untuk memilih kuil Tao yang besar dan letaknya agak jauh.“

Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan pemuda tanggung Tai A’rl. „Tuan Hua sedang tidak ada di rumah“, Tai A’rl melapor kepada majikannya. „Aku telah meninggalkan pesan pada istrinya, tetapi kelihatannya  ia tidak terlalu senang, meskipun begitu ia mengirimkan salam untukmu, dan mengatakan bahwa suaminya tak akan dapat menolak undanganmu, dan ia tak akan lupa mengingatkan suaminya agar hadir tepat waktu pada tanggal tiga bulan depan. Bahkan ia juga memberikanku sepotong kue untuk dimakan di jalan.“

„Seorang nyonya yang baik dan penuh pengertian“, berkata Ximen  perlahan. Mereka masih meminum secangkir teh, sebelum kedua tamunya memohon diri.

„Kami akan mengabarkan ke enam orang teman-teman yang lain“, janji mereka ketika akan berjalan pulang, „dan mengumpulkan dana, dan kau Ximen  saudaraku, apakah kau akan membicarakan dengan Pendeta Wu?.“

„Tentu saja“

„Dan urus sekalian, supaya ada beberapa gadis penyanyi!“ Sambil tertawa riang kedua orang itu berjalan keluar.

Bersambung:

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

Ein Kommentar

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s