Bab 1 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingPetapa tua menggantung karung kulit kosong di depan pondoknya.

Cerita ini terjadi di zaman kekuasaan Mongol (1280-1368), pada pemerintahan Chih-ho (1328). Ketika itu hiduplah di Kua-tsa’ng-shan, gunung yang berselimut kebiruan biruan, seorang Dhuta, seorang pertapa agama Buddha dengan nama biara Ku-feng („Puncak-sepi“). Ia berasal dari daerah Chuchow di provinsi Chekiang, dulunya calon muda akademisi Konfusius dan calon Pejabat yang menjanjikan. Ia tidak begitu menyukai urusan kantor, lebih tertarik pada pemikiran filosofis tentang prihal asal-muasal.

Sejak masih mengenakan popok, ia sudah pandai berceloteh, seolah-olah sedang menghafal teks klasik dengan suara menggumam. Orang tuanya menjadi bingung.

Suatu hari seorang pendeta pengembara mengetuk pintu. Ia sedang mengumpulkan dana amal. Pelayan dengan si kecil dalam gendongannya membukakan pintu. Ketika ia mendengar si kecil menggumamkan kata-kata, dengan heran dan kagum si pendeta berteriak: „Yang digumamkan si anak itu kan kalimat terkenal dari Leng-yen-ching, Sutra (*1) Buddha (diterjemahkan ke bahasa China 1312)! Rupanya yang bicara dari mulut si anak adalah orang suci zaman dulu, yang dilahirkan kembali!“ Dan ia menghadap orang tua si anak dengan permohonan, agar mereka sudi menyerahkan si kecil kepadanya, untuk disiapkan menjadi rohaniawan dan akan dididik sebagai muridnya. Orang tua si anak, penganut Konfusius yang sudah tercerahkan, menganggap sebagai omongan tak berdasar dan tahayul dan menolak sarannya.

Sejak awal si ayah sudah mengajarkan si anak remaja dalam pelajaran menulis, membaca buku-buku klasik. Si anak lelaki memperlihatkan kemampuan yang mengherankan: sekali baca langsung ingat dan hafal di luar kepala. Tapi anehnya, ia selalu kembali mengambil literatur Buddhisme. Beberapa kali ayahnya memergoki, bagaimana si anak menghentikan pelajaran klasik Konfusius, untuk secara diam-diam membaca Sutra Buddha. Ayah dan ibunya sering menegurnya dan bahkan merangketnya dengan tongkat agar ia meninggalkan kebiasaannya.

Dan datanglah bagian penting kehidupannya, rambut kepangnya yang menandakan ia masih bocah, dibuka dan disisir lurus kebelakang. Ia sudah tumbuh menjadi pemuda. Kemudian datang ketika, karena ia harus mengikuti ujian pertama, untuk persiapan, ayahnya mengirim si pemuda ke sekolah umum di provinsi. Di sekolah ia memperlihatkan prestasi sedemikian rupa sehingga kepala sekolah menjadikannya sebagai asisten dan diserahkan tugas untuk membimbing teman-teman sekelas. Meskipun demikian, ia tidak terlalu bernafsu untuk lulus ujian. Ia tidak mempunyai ambisi untuk mengikuti jejak karir orang tuanya. Keadaan, bahwa tidak lama setelah ia lulus ujian negara pertama (S1) kedua orang tuanya meninggal dunia, memungkinkannya dengan segera, untuk melakukan yang diinginkannya. Walaupun ia berkabung selama tiga tahun, sebagai kebaktian seorang anak, tapi kemudian ia mewujudkan rencana yang sudah lama disusunnya, melepaskan keduniawian.

Tanpa basa-basi ia membagikan harta warisannya, rumah dan tanah pertanian dan uang perak sebesar sepuluh ribu keping, kepada para anggota keluarga, mengisi karung kulit buatannya sendiri dengan barang-barang kebutuhan seorang pertapa seperti ikan kayu, gulungan kertas doa dan sutra, mencukur rambutnya menjadi gundul, mengembara ke gunung-gunung yang sepi dan menjadi seorang pertapa.

Bagi yang mengenalnya secara pribadi, mereka menyebutnya dengan penuh hormat sebagai Ku-feng chang-lao (Pendeta Puncak-sepi), bagi yang tidak mengenalnya secara pribadi menamakannya dengan gurauan P’i-pu-tai-ho-shang (Biarawan Karung Kulit).

Perbedaannya dengan biarawan lain, „Puncak-sepi“ tidak cukup hanya mengikuti peraturan biara seperti pantang makan daging, kesenangan badaniah, arak, bawang merah, bawang putih dan bumbu-bumbu lain, juga secara sukarela ia menambahkan tiga pantangan lagi: Tidak mengemis untuk meminta sedekah! Tidak ada penafsiran teks sutra! Tidak menggunakan gunung ziarah terkenal untuk tempat tinggal!

Tanpa keinginannya ia menjadi terkenal. Dari jauh dan dekat datang banyak pengagumnya untuk memberi penghormatan kepadanya. Juga banyak yang melamar ingin menjadi muridnya, tapi ia sangat pemilih dan kritis.

Para pemuda pelamar diujinya apakah ia punya bakat pembawaan yang baik untuk melepaskan keduniawian. Sampai sekarang belum ada yang lolos dari ujiannya yang ketat, ia tidak menemukan satu pun yang pantas menjadi muridnya. Dan oleh karenanya ia tetap sendirian di pertapaannya, yang dibangunnya ditepi sungai gunung.  Sepetak sawah yang menjadi miliknya, yang dikerjakannya sendiri dan menghidupinya. Sebagai minuman cukup baginya air bersih dari mata air.

Suatu hari di musim gugur, diwaktu angin dingin bertiup, pohon-pohon melepaskan daunnya dan senandung lebah dan nyanyian jangkrik membisu. „Puncak-sepi“ seperti biasa bangun pagi, menyapu daun-daun yang tadi malam berjatuhan didepan pintunya, mengisi mangkuk dihadapan Buddharupang (*2) dengan air segar dan menyalahkan dupa baru di altar. Kemudian menyiapkan tikar doanya yang terbuat dari rumput di atas lantai dan bermeditasi. Ketika ia lelap dalam samadinya, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang pemuda perlente dengan pakaian akademisi, seorang Siucai bepergian. Sepertinya berasal dari keluarga kaya, karena ia diiringi dua orang pelayan.

Dengan santun tamu itu membenturkan jidatnya kelantai sebanyak empat kali, pertama dihadapan Buddharupang, kemudian dihadapan pertapa tua, setelah itu ia  mengambil tempat duduk disamping tikar doa „Puncak-sepi“, duduk menunggu, tanpa berkata apa.apa.

‚Puncak-sepi‘ yang tengah lelap dalam samadinya, membiarkan tamu mudanya menunggu. Baru, setelah ia menyelesaikan doa paginya, ia bangun dari tikarnya, menghampiri tamunya dan membalas penghormatannya dengan empat jurahan dan mengundangnya untuk duduk disebelahnya diatas Kang.

Ia membuka pembicaraan dengan pertanyaan umum, menanyakan nama dan asal.

„Aku datang dari tempat jauh dan saat ini aku dalam pengembaraan meliwati provinsi Chekiang. Nama julukanku Weiyang Sheng „Siucai-sebelum-tengah-malam“. Ditengah perjalanan aku mendengar tentang dirimu, yang dikenal sebagai Buddha hidup masa kini. Lalu aku berpuasa, membersihkan jiwa dan ragaku, untuk dapat  memberi penghormatan kepadamu dan ikut ambil bagian mendengarkan pengajaranmu.“

„Sebentar, Pencerita!“ disini pembaca akan bertanya. „Pertapa menanyakan hsing dan ming, nama marga dan nama kecil. Mengapa hanya dijawab dengan nama julukan?“ Pembaca yang budiman, pada zaman itu, sekitar akhir kekuasaan Mongol, ada kebiasaan aneh di kalangan akademisi, yang menggunakan nama julukan dan melakukan perjalanan dalam penyamaran. Untuk  itu nama julukan dibedakan tiga macam sesuai umur: Akademisi muda menyebut dirinya sebagai Sheng (Siucai, pelajar, mahasiswa), Akademisi umur pertengahan sebagai Tzu (Sifu, Guru) dan akademisi tua sebagai Tao yen (Taois). Pada pemilihan nama julukannya sendiri, biasanya diambil berdasarkan bakat, pembawaan, kecendrungan atau sifat si pemakai nama. Arti tersembunyi dibalik nama julukan tidak ada yang tahu, kecuali teman-teman dekat semasa kuliah. Misalnya pemuda kita, karena ia punya kecenderungan bercinta dengan wanita pada waktu malam dan itupun hanya sampai tengah malam, tidak liwat tengah malam.

„Pu kan tang! Terlalu banyak kehormatan! Pujianmu yang berlebihan membuatku menjadi malu!“, tolak Pertapa dengan bersahaja dan mengundang tamunya untuk ikut makan sarapan pagi. Nasi dan sayur sudah matang dan siap disantap dan masih mengebulkan uap panas didalam kuali didapur. Sambil menikmati sarapan pagi, pertapa mengajak tamunya berdiskusi. ia ingin melihat tingkat inteligensi tamunya. Disitu ia mendapat kejutan, bahwa tamunya juga sangat faham tentang thema Ch’an atau dhyana, latihan, samadi, abstraksi. Sehingga mampu ikut bicara  dan berdiskusi.

Semakin dalam si Pertapa mengorek, semakin terlihat, bahwa ia sedang berurusan dengan seorang pemuda berbakat yang sudah banyak makan bangku sekolahan, yang bukan saja pernah membaca tulisan-tulisan dari tiga ajaran luhur dan sembilan sekolah filsafat, bahkan sangat menguasainya. Selain itu ia juga sangat pandai tentang Ch’an Buddhisme. Dimana si pertapa biasanya menghabiskan seribu kata dan seratus penjelasan, sebelum teman bicaranya mengerti, tapi pada tamu mudanya yang luar biasa ini hanya membutuhkan satu kata atau satu sentuhan lembut, ia sudah masuk kedalam thema, sampai ke akar-akarnya.

‚Puncak-sepi‘ berpikir pada dirinya sendiri: „Luar biasa!, seorang pemuda yang sangat langkah! Begitu cerdik dan sangat luas wawasannya sekaligus! Hanya sayangnya, sang Pencipta telah melakukan kesalahkan, memberikannya otak yang sedemikian rupa, yang sangat cocok untuk menjadi hamba buddha, tapi juga memberikannya tubuh yang sangat dekat dengan dosa! Dari wajahnya, penampilannya, permainan air mukanya, sikapnya, dan gerakannya, semua itu memperlihatkan setan nafsu! Bila tidak dari awal sudah dimasukan kedalam karung kulit untuk menghindarinya dari dunia luar, maka akibatnya tidak terbayangkan, entah bencana apa yang akan diperbuatnya terhadap sesama  manusia. Untuk memuaskan nafsunya, tidak ada yang ditakuti. Untuk dapat memasuki kamar perawan, ia akan melompati parit dan memanjat tembok, ia akan membuat tipuan terhebat dan rencana paling berani. Siapa yang tahu, berapa banyak wanita dan gadis nantinya akan menjadi merana, hidup tercemar dan menenggak racun!. Bila aku tidak dapat menghindari bencana ini, maka aku adalah bukan hamba buddha yang baik.“

Kemudian pertapa ‚Puncak-sepi‘ berbicara kepada si anak muda:

„Sejak aku tinggal disini sebagai pertapa, entah sudah berapa banyak yang datang ingin menjadi muridku, diantaranya banyak yang sudah jadi Doktor, Magister, Sarjana, bahkan Pembesar, tapi sayang tidak ada satu pun yang memenuhi syarat.

*1 Sutra = (Sanskrit: sutra), kitab-suci keagamaan
*2 Buddharupang = (gambar/patung) Sang Buddha
*3 Sifu = Suhu, Guru, Master

Bersambung : https://aldisurjana.wordpress.com/

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

Ein Kommentar

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s