Bab 2 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaWu Song si pembunuh harimau

Pagi keesokan hari. Ximen sedang berada di kamar tidur istri utama. lalu datang seorang kurir muda utusan dari rumah tetangga sebelah. Ia membawa sebuah kotak hadiah yang indah berkilat dengan lukisan tinta emas. „Majikanku merasa menyesal, karena tidak dapat menerima langsung pesan tuan. Ia akan datang tepat waktu pada tanggal tiga, dan sekalian mengirimkan sedikit sumbangan biaya untuk acara nanti, bila nanti masih kurang akan ditambah lagi.“

Ximen  menerima kotak hadiah. membaca surat pengantar, di situ tertulis: ‚di dalam kotak ada 1 Ons perak untuk sumbangan biaya‘. „Cukup“, kata Ximen, „Tidak usah tambah lagi, katakan pada tuanmu agar besok lusa tepat waktu ke sini“

„Dan sampaikan salamku pada majikan perempuanmu“, menambahkan Nyonya Bulan. „Aku harap dalam beberapa hari mendatang ia bisa mampir ke sini dan berbincang bincang.“ Ia memanggil pelayan perempuan yang bernama „Seruling Kemala“ agar mengambilkan kue hangat untuk kurir      Kurir memberi hormat dengan menyembah dan permisi pulang.

Baru saja satu kurir pergi, langsung datang kurir kedua dari rumah Ying, juga membawa satu kotak hadiah di tangan. „Atas perintah majikanku aku membawa uang sumbangan yang sudah dikumpulkan“ Ximen  melirik sekilas pada isi kotak, yang terdiri dari 8 paket dan langsung menyerahkan pada istrinya. Ia menyilakan kurir pulang dan pergi menemui istri ketiganya.

Baru saja ia membaringkan diri di sisi istri ketiga, Istri utama sudah memanggil, di hadapannya berbaris 8 kotak kertas yang sudah terbuka. „Lihatlah, sumbangan besar apa?“ ia berkata sinis. „Ying, temanmu masih lumayan, mengirimkan potongan perak dan dua buah uang logam. Tetapi kotak-kotak yang lain hanya berisi beberapa potongan tembaga dan barang-barang tidak keruan, yang hanya akan mengotori rumah kita. Apakah sebaiknya dikembalikan saja?“

„Sudahlah“, jawab Ximen, „Tidak usah ribut, buang saja“

Pada keesokan hari Ximen  menimbang 4 Ons perak, dan memerintahkan pelayan lelaki Lai Sing’rl belanja ke pasar, untuk membeli 1 ekor sapi, 1 ekor kambing, beberapa ekor bebek, 6 guci arak anggur merek Bunga emas, dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk pesta seperti dupa wangi dan uang sembahyang. Lai Sing’rl  bertiga dengan Lai Po dan Tai A’rl mengantar barang-barang tersebut ke kuil, dan menyerahkan kepada Pendeta Wu. „Besok tuan majikanku beserta teman-temannya akan bertemu di sini dan ingin mengadakan upacara sumpah angkat saudara“, pesan Lai Sing’rl kepada Pendeta Wu.

Keesokan pagi, kesembilan tamu undangan beserta Ximen  hadir tepat pada waktunya di kuil. mereka memasuki kuil ditemani oleh Pendeta Wu. Sambil berjalan Pendeta Wu bercerita: „Beberapa hari ini, di daerah kita kedatangan seekor binatang buas. Ia telah menyerang banyak orang, dan telah membunuh 10 orang pemburu.“

„Apa?“, kata Ximen  tersentak kaget.

„Ah, tuan-tuan belum tahu, aku juga baru saja mendapat kabar dari orang-orangku yang kukirim meminta sumbangan pada tuan Chai di Hong-hai-kun. Dalam perjalanan pulang mereka melewati hutan Kim-yang dan melihat binatang buas tersebut. Karena tidak berani jalan sendiri, mereka bergabung dengan rombongan pedagang. Baru-baru ini kepala daerah kita telah menyiapkan hadiah uang dalam jumlah besar, untuk diberikan kepada yang berhasil membunuh harimau buas itu. Para penjaga hutan sudah dihukum rangket, karena tidak berhasil menangkap atau membunuh binatang buas itu.“

Ketika mendengar perkataan uang premi, langsung Pa Laykwang timbul semangat. „Ai, Esok pagi aku akan berburu. Uang besar tak akan kulewati begitu saja.“

„Dan hidupmu, apa tidak berharga?“ tegur Ximen

„Hidup atau mati, yang penting uang!“

„Luar biasa!, aku mesti menceritakan sebuah lelucon“, sahut pembonceng Ying sambil tertawa. „Ada seorang kikir, dia lagi kelojotan dalam moncong seekor harimau. Putra si kikir sudah siap dengan pisau di tangan, ingin menusuk harimau itu dengan pisau. ‚Berhenti!‘, teriak si kikir. ‚Kau tak akan merusak kulit bulu harimau yang mahal, bukan?'“ Mereka tertawa terbahak bahak.

Pendeta Wu mengusulkan agar upacara dimulai, makanan untuk suguhan sudah siap. Ia mengeluarkan selembar kertas. „Ini adalah teks sumpah yang telah aku susun, bagaimana dengan urutan nama?“

„Sudah tentu Ximen  menjadi Kakak tertua kita“, seru mereka berbareng.

„Menurut umur, Ying berada di urutan sebelum aku“. protes Ximen.

„Ah, zaman sekarang urutan mengikut uang, bukan umur“, kata Ying lagi. „Selain itu, di antara kita, hanya kau Ximen  yang paling berpengaruh. Engkau pantas menduduki tempat pertama.“

„Wah, jadi tidak enak hati“, sambung Ximen, tetapi menerima kedudukan „Kakak tertua“.

Untuk kedudukan kedua, mereka sepakat pada Ying, dan ketiga pada Hsia, keempat diberikan pada Hua Tsehsu juga berdasarkan uang, kemudian yang lain juga mendapat urutan masing-masing.  Kesepuluh nama-nama itu ditulis oleh Pendeta Wu ke atas kertas sesuai urutan tadi. Lalu ia menyulut dupa, dan kepuluh orang yang akan mengangkat saudara berbaris rapi menghadap patung KaisaiLangit, dan pendeta membacakan kata sumpah pengangkatan saudara yang diikuti oleh kesepuluh orang itu dengan khidmat.

Setelah pembacaan pengangkatan saudara selesai, mereka memberi hormat satu sama lain sambil membungkukkan tubuh. Setelah pembakaran uang sembahyang, maka selesailah upacara pengangkatan saudara. Sementara itu, dua buah meja perjamuan sudah disiapkan, Pendeta Wu mendapat meja khusus dengan makanan vegetaris, yang terpisah di sebelah kedua meja lain.

Di tengah pesta makan minum yang meriah, tiba-tiba datang seorang utusan dari . Nyonya Bulan“ untuk memanggil pulang Ximen  dengan alasan Istri ketiga sakit parah. Ximen  memohon diri untuk pulang, diikuti oleh tetangga Hua. Kepergian kedua orang itu tidak mengganggu acara makan minum, yang terus berlanjut hingga tengah malam. Beberapa hari kemudian, ketika Ximen  pada suatu pagi menerima kedatangan Ying.

„Bagaimana kabar Ipar ketiga?“

„Belum sembuh, aku baru saja memanggil tabib lagi. Ceritakanlah, berapa lama kalian tempo hari minum-minum?“

„Kita bubaran sekitar kentungan kedua. Wu tua Wu memaksa kita untuk terus minum-minum, untung saja kau sudah kabur lebih dulu. Maksud kedatanganku ini, aku ingin mengabarkanmu satu sensasi baru.“

„Ceritakanlah“

„Tentu kau masih ingat, mengenai seekor harimau buas di hutan Kim-yang yang belum lama ini diceritakan oleh Pendeta Wu?. Kemarin telah dibunuh oleh seseorang dengan tangan kosong.“

„Ah, omong kosong, siapa percaya!“

„Apakah kau tidak percaya padaku? Dengar baik-baik akan kuceritakanÖ“ Dengan bergairah, sambil menggerak gerakan kepalan dan melompat dari satu kaki ke kaki lain, ia mulai bercerita…. „Laki-laki itu bernama Wu Song, berasal dari Yang-ku-hsian; Ia adalah saudara yang lebih muda dari dua bersaudara, dalam pengembaraan mencari saudara tuanya, ia melewati hutan Kim-yang, dan bertemu dengan harimau, ia memukul harimau dengan kedua belah tangannya, sehingga matilah Harimau itu“, – Semua itu diceritakan sambil menggunakan gerak tangan, sehingga seolah-olah ia berada di tempat kejadian dan dengan kedua tangannya sendiri membunuh harimau. „Saat ini, dengan iring iringan meriah, ia dan hasil buruan dibawa menghadap pejabat setempat“, kata Ying menutup cerita.

„Oh, kita harus ke sana, tetapi sekarang sarapan pagi dulu“

„Untuk sarapan mana keburu, nanti terlambat. Lebih baik kita mencari tempat yang bagus di loteng sebuah kedai arak di tepi jalan, yang akan dilewati iring iringan.“

Ximen  setuju, ia membatalkan pesanan dan langsung berpakaian. Kemudian sambil menarik tangan Ying ia berangkat. Di tengah jalan mereka bertemu Hsia.

„Ah, kalian pasti ingin melihat harimau, bukan?“

„Betul, ayo ikut!“

„Tentu saja, tetapi jalanan sudah dipenuhi manusia, kita sulit menembus kerumunan.

Bersambung

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s