Bab 2 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingSi Pemuda lebih memilih tikar-doa lembut dari daging

Dan – siapa sangka! – kemudian kau datang, memperlihatkan begitu banyak pencerahan dan pengertian! Untukmu hanya dibutuhkan beberapa tahun saja untuk memperdalam pelajaran Buddha, dan kau akan samadi, untuk mencapai kesempurnaan luhur. Bagaimana pendapatmu mengenai usulku?

Si pemuda menjawab: „Aku juga sudah lama berencana ingin mengikuti jalan Buddha, dan itu sudah menjadi keputusanku, suatu hari akan kembali kesini dan menjadi muridmu.Tetapi untuk itu masih terlalu pagi. Aku masih sangat muda dan masih ada dua niat yang mau kukerjakan. Berikanlah aku waktu untuk menyelesaikan kedua niat ini dan beberapa tahun untuk menikmati kesenangan dunia, setelah itu aku akan kembali dan kau akan menjadikanku Patriark Matanga (memperkenalkan Budhisme di Tiongkok pada th 64 sesudah Masehi). Dan untuk itu masih belum terlambat.“

„Bolehkah aku bertanya, kedua niat apakah itu? Pasti kau ingin lulus ujian Istana dan memangku jabatan di provinsi yang letaknya jauh sebagai tanda terimakasih pada Kaisar, itu kan maksudmu?“ Si pemuda menggoyangkan kepala.

„Yang kau maksudkan itu, bukan salah satu dari kedua niatku“

„Dan katakan, apa yang menjadi niatmu?“

„Kau tahu, usaha sia-sia untuk mengejar jabatan dan martabat bukanlah yang aku inginkan. Apa yang menjadi niatku adalah sesuatu yang bisa aku hasilkan dari diriku sendiri. Bukannya aku mau membual, tapi aku bisa mengatakan, bahwa wawasan, kepandaian dan pengetahuan literaturku sangat baik. Sedangkan sastrawan terkenal masa kini, semua itu hanya rata-rata saja. Oleh karena itu aku ingin menulis sebuah karya sastra yang berarti, yang nantinya akan terus hidup dalam sejarah sastra negri kita sebagai Adikarya.“

„Itu salah satu dari niatmu. Dan niat lainnya?“, tanya ‚Puncak-sepi‘.

Si pemuda sudah membuka mulut untuk menjawab, tapi tidak berhasil mengeluarkan suara. Sepertinya ia segan untuk mengatakannya.

„Aku mengerti, kau tidak sanggup mengatakan niat yang kedua. Bagaimana menurutmu, bila aku yang mengantikanmu untuk mengatakan niat keduamu?

„Jadi kau berani, bermain menjadi pembaca pikiran? Nah – nah -, mudah-mudahan berhasil!“

„Aku akan memberanikan diri, dan bila aku salah tebak, dengan sukarela aku akan menghukum diriku sendiri. Tetapi jika tebakanku benar, jangan kau menyangkalnya.“

„Tidak akan!! Jika kau berhasil menebaknya, di mataku kau bukan hanya Bodhisatwa, melainkan juga seorang guru besar ilmu sihir!

„Baik, kau ingin mendapatkan wanita tercantik di negeri ini“

Penuh keyakinan dan tidak tergesah.gesah keluar dari bibir  pertapa. Saking terkejut campur heran, untuk sekejap, si pemuda tak mampu bicara, hanya memandang dengan mulut mengangah dan mata terbeliak.

„Sifu, sepertinya kau ini benar-benar mahluk tinggi, yang mampu membaca pikiranku yang paling intim!“

„Kenalkah kau kata.kata:

Apa yang secara diam-diam dipikirkan oleh manusia,
Diatas langit terdengar sekeras guntur!“

„Sesungguhnyalah, dihadapanmu aku tidak mampu memulai thema cinta dan nafsu berahi. Setelah kau sendiri menyinggungnya, aku bisa bicara tentang itu apa adanya. Sifu yang mulia, biarkanlah aku berkelana di dunia dan mencarinya, ia milikku. Bersabarlah, sampai aku menemuinya, menikah dan bersamanya mendapat anak, yang nantinya akan meneruskan tugas di altar leluhurku. Bila semua itu terpenuhi, maka aku tidak punya keinginan lagi yang mengikatku di dunia.. Yakinlah, bukan hanya aku yang akan kembali kepadamu, juga aku akan membawa istriku untuk belajar padamu dan bersama dengannya mencapai tepi ketiadaan. Bagaimana menurutmu Sifu?“

Pertapa memperlihatkan senyum dingin.

Karena kau menolak kata-kata semboyan kosong, aku tidak ingin bicara tentang ganjaran di akhirat, lebih banyak bicara tentang ganjaran di dunia ini. Ada sebuah pepatah yang berbunyi:

Jangan berselingku dengan istri tetangga,
Maka tetangga tidak berselingkuh dengan istrimu

Tentu saja ini pun sebuah kata semboyan, tapi dalam kehidupan sehari-hari sering terbukti. Barang siapa mengoda istri atau anak gadis orang lain, biasanya akan terperosok sendiri, dimana istri atau anak gadisnya digoda orang lain. Hanya siapa yang berlaku bajik, maka akan melihat istri dan anak gadisnya terlindung. Jadi, kau harus menentukan: Apakah kau ingin mengalami kekecewaan atau menghindarinya. Untuk kasus pertama, pergi dan cari si tercantikmu.  Pada kasus kedua, lepaskan niat mu yang keras kepala, tinggalkan semua keterikatan duniawi dan tinggal bersamaku. Sangat sulit bagiku untuk membiarkan kau pergi. Tetapi perpisahan hari ini bukanlah perpisahan untuk selamanya. Bila suatu hari kau mendapat pencerahan, datanglah kembali kepadaku. Aku akan menunggumu! Mulai besok, setiap melakukan doa pagi, aku akan mengingatmu dengan linangan airmata dan menunggumu“ Setelah kata-kata perpisahan ini, ‚Puncak-sepië mengambil selembar kertas tulis, mengaduk tinta, mengambil alat tulis dan menulis pepatah sebanyak empat baris:

Melepaskan diri dari duniawi, membuang karung kulit!
Memilih daging sebagai tikar daripada tempat ibadah!
Tunggu, waktunya akan datang, penyesalan datang kemudian,
Janganlah mengeluh, jika kau berada dalam peti mati tertutup.
‚Puncak-sepi‘ memberikan kertas itu kepada si pemuda.

Si pemuda cukup terdidik untuk mengatakan, bahwa ia tidak boleh pergi begitu saja meninggalkan pertapa mulia dan Sifu tingkat tinggi. Kemudian ia menundukan kepala dengan rendah hati dan mengucapkan beberapa patah kata maaf.

Babak pertapa tua dengan ini berakhirlah sudah. Untuk sementara ia tidak akan muncul lagi, mulai sekarang lebih banyak Siucai-sebelum-tengah-malam yang menjadi pusat cerita. Akan diceritakan, bagaimana ia mengumbar kenikmatan dunia dan wanita. Bila anda ingin tahu, bagaimana ramalan pendeta tua satu per satu menjadi kenyataan, anda mesti membaca bab selanjutnya.
* Buddharupang =  (gambar/patung) Sang Buddha

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s