Bab 3 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaPerjumpaan Wu Song dengan kakaknya Wu Dalang

Tidak lama kemudian, ketiga orang itu sudah duduk dengan enak di sebuah kedai arak besar di jalan raya. Tidak perlu menunggu lama, terdengar suara gong dan tambur mendekat, dan orang-orang di jalan raya memanjangkan leher. Berpasangan, lewatlah barisan para pemburu dengan rapi. Semua bersenjata tombak panjang dengan ujung dihias ronce-ronce dari benang merah yang melambai lambai diterpa angin.

Di belakang barisan, tampak bangkai seekor harimau besar yang diusung oleh empat lelaki. Paling terakhir muncul si pembunuh harimau, seorang pria gagah bertubuh besar! Mata bersinar dengan pandangan tajam. Tangan menggenggam gada besi. Di kepala ia mengenakan ikat kepala bersulam Swastika dengan dua buah bunga perak. Tubuhnya dipenuhi tetesan darah.

„Untuk dapat menundukkan orang ini, dibutuhkan tenaga sekuat kerbau 500 kg!“ bisik Ximen pada kedua temannya. Sambil menenggak arak mereka menyatakan kekagumannya. Jadi itulah Pahlawan hari ini, yang tersohor Wu Song dari Yang-ku-hsian!

Kemudian iring-iringan itu tiba. Wu Song turun dari kuda dan langsung menuju ruang kantor, di mana kepala daerah dan para pejabat lain menunggu. Ketika melihat penampilan tubuh berotot dan bangkai harimau besar, berkatalah sang mandarin (pejabat tinggi): „Siapakah kecuali orang ini yang sanggup mengerjakannya?.“ Kemudian ia menyalami Wu Song, dan mendengarkan cerita kejadian dari kepala sampai ke ekor. Dan para pejabat di samping kiri dan kanan mendengarkan dengan jerih dan tegang. Kemudian sang mandarin menghadiahkan 3 mangkuk arak dan uang premi 50 Tael.  Wu Song menjura, dan dengan rendah hati berkata: “ Bila mungkin, aku ingin agar uang yang 50 Tael perak dibagikan kepada para pemburu gagah yang telah dihukum gara-gara harimau.“

„Aku setuju“, jawab sang mandarin. Wu Song langsung membagikan uang premi yang 50 Tael perak kepada para pemburu. Melihat sifat dan karakter Wu Song yang baik, sang mandarin memutuskan untuk menerima Wu Song di dinas pemerintahan. „Engkau datang dari Yang-ku-hsian, yang bersebelahan dengan Tsing-ho-hsian kita“, mandarin berkata. „Aku hendak menjadikanmu seorang kepala  pasukan. Tugas utamamu antara lain adalah membersihkan bagian barat dan timur sungai Tsing dari semua begal dan rampok. Bagaimana pendapatmu?“

Wu Song menekuk lutut dan memberi hormat  dengan penuh terima kasih. „Aku akan bekerja dengan baik untuk kepercayaan ini.“

Mandarin memanggil pejabat sekretaris daerah untuk penyelesaian formalitas, dan selesai sudah pengangkatan Wu Song sebagai kepala  pasukan. Dari seluruh keresidenan berdatangan  untuk memberi selamat kepada Wu Song, dan berlanjut beberapa hari, ia harus memenuhi undangan makan dari satu pesta ke pesta lain. Kesohoran namanya mulai tersebar dari mulut ke mulut di kedua residen provinsi Tung-fing-fu.

Suatu hari di tengah jalan Wu Song mendengar seseorang memanggil. „Hei Wu Song, lihatlah, aku di sini!“ Wu Song berbalik, dan siapa yang ada di hadapannya, Kakaknya Wu Dalang yang sudah lama dicari. Kegagalan panen dan kelaparan telah menyebabkan Wu Dalang meninggalkan kampung halaman, dan mengungsi ke kota Tsing-ho-hsian, di mana ia menyewa tempat tinggal. Postur tubuh yang pendek dan lemah, penampilan yang minder, wajah yang jelek membuatnya di antara tetangga mendapat nama ejekan antara lain si kerdil, dan semua itu harus ditelannya mentah-mentah.

Untuk menutupi biaya hidup, diperolehnya dari berdagang kue hangat dengan pikulan menyusuri jalan. Tetapi dagangannya kurang laku; setelah setahun tinggal di Tsing-ho-hsian uang bekal semakin menipis, sehingga ia harus ke luar dari tempat tinggal dan menyewa dari tuan Chang dengan murah, sebuah kamar di atas loteng yang menghadap ke jalan raya. Sambil berjualan, di mana sempat ia selalu membantu sana sini di rumah keluarga Chang, sehingga nyonya rumah berkenan membebaskan dari pembayaran sewa.

Chang tua adalah seorang laki-laki berumur enam puluh tahunan yang kaya raya, tetapi tidak mempunyai anak. Lingkungan hidupnya ditemani hanya oleh seorang istri, seorang wanita tua yang galak; sama sekali tidak ada darah muda yang segar di dalam rumah itu, sehingga ia merasa tertekan. Sering sekali ia memukul dada sambil mengeluh: „Aku lelaki malang, tua dan tidak punya anak, apalah guna semua uangku!“

Suatu kali istrinya menjawab: „Baik, aku akan menyuruh seorang perantara agar membeli dua orang budak perempuan muda yang cantik untukmu. Biarlah mereka dari pagi sampai malam menemanimu dengan tarian dan bunyi-bunyian musik.“ Usul ini diterima oleh tuan tua dengan senang hati, dan betul saja, beberapa hari kemudian datanglah perantara itu membawa dua orang gadis muda yang cantik jelita. Sayang tidak lama kemudian, Pai Yulian, seorang gadis muda berumur 16 tahun telah meninggal dunia.

Gadis lain bernama Pan Jinlian yang baru berumur 15 tahun adalah anak perempuan ke enam seorang penjahit miskin bernama Pan dari pinggiran kota sebelah selatan. Nama Jinlian yang berarti „Teratai Emas“ di peroleh berkat perkembangan tubuh yang sudah lebih dewasa dan menantang penuh daya tarik serta kaki kecil yang cantik. Setelah ayahnya meninggal, Jinlian yang ketika itu berumur 9 tahun, dijual oleh ibunya ke rumah keluarga kaya milik tuan Wang. Di situ ia belajar menyanyi dan bermain alat musik, juga belajar membaca dan menulis.  Ia adalah seorang gadis cerdik dan lincah. Dengan umur 13 tahun ia sudah paham mempercantik alis dan mata serta merias wajah; ia pandai meniup seruling dan memetik kecapi. Ia sangat terlatih dalam pekerjaan tangan dan sulam menyulam, ia menguasai tulisan huruf-huruf yang sulit. Rambut tertata rapi dengan sanggul yang indah. Di atas tubuh yang muda ia mengenakan pakaian ketat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Begitulah ia tumbuh menjadi gadis kecil jelita yang menarik. Ketika ia berumur 15 tahun, tuan Wang tua meninggal dunia. Ibunya membeli kembali seharga 20 Tael dan menjual lagi kepada rumah keluarga Chang. Di situ ia menyempurnakan diri lebih lanjut dalam berjenis kesenian dan terutama Penguasaan alat musik pi pa bertali tujuh. Pada saat ia berumur 18 tahun, kecantikannya sudah mekar sempurna. ‚Sebuah wajah seanggun Bunga persik, sepasang alis melengkung halus bagaikan bulan sabit baru munculÖ‘

Sudah sejak lama tuan Chang ingin menikmati miliknya, tetapi karena takut pada istri yang galak, ia berusaha menahan diri untuk tidak memetik bunga yang berharga.  Suatu hari ketika istrinya bertandang ke rumah tetangga, ia menggunakan kesempatan itu sebaik baiknya, dan ia berhasil memetiknya.

Bersambung

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s