Bab 3 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMencari yang tercantik diantara gadis-gadis yang sudah cukup umur untuk menikah

Setelah berpisah dengan pertapa, sambil berjalan Siucai-sebelum-tengah-malam mengerutu dan berbicara sendiri:

„Seenaknya saja, memintaku seorang anak muda yang umurnya baru hampir 20 tahun untuk melepaskan duniawi dan menjalani kehidupan pahit seorang pendeta. Sebelumnya aku mengira ia akan memberiku petunjuk sebagai bekal perjalanan hidupku, tapi ternyata, ia hanya memberikanku selembar kertas tak berarti! Sebagai calon pejabat terhormat, yang nantinya akan jadi pemangku kekuasaan suatu daerah, dengan penduduknya sebanyak puluhan ribu, dan aku dianggap tidak dapat menguasai istriku sendiri? Si pendeta ingin menghalangi aku, yang sebelum menikah, masih ingin mencari pengalaman dalam ‚permainan bulan dan angin‘, agar nantinya tidak salah pilih! Tidak cukup dengan itu, ia bahkan mengatakan, bisa jadi nanti aku harus membayar hutang kesalahan yang aku lakukan, dimana kehormatan rumah tanggaku menjadi taruhan! Seolah-olah wanita yang menikah dengan lelaki gagah sepertiku, masih perlu untuk membiarkan dirinya digoda oleh lelaki lain? Suatu hal yang tidak mungkin!

Sebenarnya kertas ini harus aku sobek menjadi potongan-potongan kecil dan melemparnya kedepan kakiku. Tapi tidak, sebaiknya tidak. Aku bisa menggunakannya sebagai bukti, untuk menjejalkannya kedalam mulut beracunnya. Bila suatu hari aku bertemu lagi dengannya, aku akan menyodorkan kertas pepatah ini kehadapnya, untuk menguji, apakah ia akan menyesali kesalahannya.“ Setelah itu ia melipat kertas pepatah dan menyimpannya didalam kantong ikat pinggangnya.

Setibanya dirumah, ia mengirim pelayannya ke beberapa perantara pernikahan, dengan permintaan agar mereka melihat-lihat ke seluruh penjuru kota, mencari yang tercantik diantara gadis-gadis yang sudah cukup umur untuk menikah. Si gadis harus dari keluarga terhormat dan selain memiliki kecantikan juga harus cerdas dan berpendidikan. itulah syarat yang ditentukan olehnya.

Tidak sedikit tawaran yang masuk. Ayah mana yang tidak menginginkannya sebagai menantu, gadis mana yang tidak mendambakannya menjadi suami? Setiap hari ia didatangi beberapa perantara pernikahan, yang mengusulkan ini dan itu. Dan selalu saja, bila gadis muda yang diusulkan berasal dari keluarga sederhana, langsung dibawa untuk dikenalkan. Tapi lain halnya bila yang ingin dikenalkan berasal dari keluarga elit, harus diatur sedemikian rupa, seolah-olah si pemuda secara kebetulan kesamprok, bisa di biara atau di taman diluar tembok kota.

Semua pertemuan ini hanya menghasilkan, bahwa begitu banyak gadis muda dari keluarga baik-baik menjadi heboh sia-sia dan kembali pulang kerumah dengan kerinduan didalam hati yang terluka. Karena dari sekian banyak calon, tak satu pun yang memenuhi syaratnya.

Suatu hari seorang mak comblang berkata kepada si pemuda:

„Setelah sekian banyak gadis-gadis muda, masih tinggal satu yang masih dalam incaran; Nona Harum, putri seorang cendikiawan, ˝ang biasa dikenal dengan nama julukannya Pintubesi. Ia adalah satu-satunya yang dapat memenuhi standarmu yang tinggi. Tetapi dengan gadis ini ada sedikit kesulitan: Ayahnya adalah seorang yang berwatak aneh dan penyendiri, yang sangat kaku memegang adat istiadat kuno. Sebuah pertemuan dimuka dengan putrinya pasti tidak akan disetujuinya. pikirkanlah baik-baik sebelum kau memutuskannya.“

„Bagaimana caranya ia sampai bisa mendapat nama julukan aneh Pintubesi? Mengapa ia tidak mau, orang lain melihat wajah putrinya? Jika putrinya tinggal tersembunyi dari dunia luar, bagaimana kau bisa tahu, bahwa ia cantik?“

„Seperti diketahui, si tuan tua sedikit aneh, seorang penyendiri eksentrik, yang menutup diri dari dunia luar, hanya hidup dengan buku-bukunya dan menghindari pergaulan. Ia tinggal di sebuah rumah megah di pingiran kota, sawah ladang disekelilingnya adalah miliknya. Pintu gerbangnya, diketuk bagaimanapun, tidak akan dibukakan olehnya. Suatu hari ada seorang tuan dari kota lain datang berkunjung, ia adalah pengagum si tuan tua dan ia datang ingin memberi penghormatan. Ketika ia mengetuk dan menggedor pintu gerbang serta memanggil dan dari dalam rumah tetap membisu, ia menulis beberapa baris tulisan gurauan di pintu gerbang sebelum pergi:

„….Namun tuan besar – siapa kira, bersembunyi dibalik pintu besi“

Ketika si tuan rumah kemudian menemukan tulisan tersebut, ia melihat huruf Tie besi dan Fei pintu sangat cocok dengan sifatnya. Untuk selanjutnya ia menamakan dirinya sebagai Taois Pintubesi. Ia adalah seorang duda kaya dan Harum adalah anak satu-satunya. Mengenai penampilan luarnya, tanpa berlebihan, ia bisa disamakan dengan sekuntum bunga jelita atau sebutir batu permata indah. Selain itu, sudah kecil ia dididik oleh ayahnya, sehingga kepalanya penuh ilmu pengetahuan. Puisi, esai dalam bentuk prosa, lagu dsb. semua dikuasainya. Umurnya sekarang 16 tahun dan belum pernah memperlihatkan diri dimuka umum. Suatu kebetulan membuat ku akhirnya bisa melihatnya.

Jadi, kemarin kebetulan aku liwat didepan rumahnya, dan si tuan tua sedang berdiri didepan pintu. Ia menyapaku, apakah aku ibu Liu, yang usaha di bidang perjodohan. Ketika aku mengiyahkan, ia memintaku masuk kedalam rumahnya dan memperkenalkan putrinya. ‚Ini si nona, satu-satunya anakku‘, katanya dan melanjutkan: ‚Coba kau lihat-lihat dan carikan untukku seorang menantu lelaki yang sebabat dengannya, yang nantinya bisa menjadi anak dan penopangku di hari tua.‘ Langsung aku mengusulkan dirimu sebagai calon. Dan ia menjawab, bahwa ia pernah mendengar tentang dirimu. Lalu aku mengatakan, bahwa kau ingin melihat si nona sebelumnya. Wajah si tuan tua langsung berubah marah, dan menyuruhku pergi. Kau lihat tuan muda, dengan si tuan tua itu tidak ada harapan.“

Si pemuda berpikir keras.

Jika aku membawa si cantik yang masih muda kerumahku, siapa selain aku yang akan memperhatikannya? Jadi mesti aku sendiri yang berdiam dirumah dan menjaganya, pergi keluar jalan-jalan sudah tidak mungkin lagi. Tetapi jika sebaliknya aku yang masuk kerumahnya sebagai menantu, maka tidak akan ada masalah, karena ada bapak mertua yang sangat kaku memegang adat istiadat kuno, yang akan menjaganya, dan aku bisa bebas bergerak diluar. Hanya satu yang masih meragukanku, bahwa aku belum pernah melihatnya, Bagaimana  orang bisa percaya begitu saja, apa yang dikatakan oleh seorang perantara pernikahan? Lalu ia berkata kepada Mama Liu:

„Sejauh aku bisa mempercayai kata-katamu, maka ia adalah pasangan yang serasi untukku. Aku hanya ingin memintamu, untuk mencari akal, bagaimana caranya, sehingga aku paling tidak bisa melihat bayangannya dan mendengar suara dari mulutnya. Jika aku menyukainya, maka aku akan menikahinya.“

„Melihat si nona sebelumnya? Tidak mungkin! Tetapi, bila kau tidak percaya padaku, pergilah ke tukang ramal dan bertanya pada batang nasib“

„Itu membuatku dapat ide bagus. Aku punya teman, ia seorang penujum dan peramal, dan semua ramalannya selalu terbukti. Kepadanya aku akan meminta tolong. Kita tunggu dulu, bagaimana nanti hasilnya. Kemudian aku akan memanggilmu kembali. “

Jadi demikianlah perjanjiannya dan mak comblang pun pulang kerumahnya.

Keesokan harinya si pemuda berpuasa dan mandi dan mengundang temannya si ahli nujum kerumahnya. Didalam ruangan yang diterangi cahaya lilin dan dipenuhi bebauan dari dupa wangi, ia menundukan kepalanya dengan rendah hati dan dengan nada berbisik, seolah-olah berdoa kepada makhluk yang lebih tinggi:

„Adikmu mendengar kecantikan nona Harum yang tak terkalahkan, anak perumpuannya Taois Pintubesi dan ingin mengambilnya menjadi istri. Tetapi dari pesonanya hanya kupingnya yang mendengar, matanya belum pernah melihatnya. Oleh karena itu, ia ingin bertanya kepada roh luhur, apakah si gadis benar-benar cantik, dan apakah roh luhur merekomendasikan hubungan ini“

Kemudian ia memberi penghormatan dengan membenturkan dahinya kelantai beberapa kali, dan menunggu. Tidak lama kemudian terdengar suara gemerisik alat tulis diatas kertas dan temannya memperlihatkan selembar kertas dengan empat baris tulisan yang berbunyi:

Nomor 1

Jangan kau ragukan pesan roh ini:
Yang pertama, ia adalah rumpun bunga merah,
Namun terlalu banyak kecantikan, mendatangkan banyak pengoda.
Apakah perkawinan bahagia – atau tidak – itu masalah moral.

Si pemuda berpikir: ‚Jadi ia memiliki kecantikan kelas satu. Itu yang paling penting, Mengenai yang kedua, jelas merupakan peringatan, apakah ia sudah tidak perawan lagi? – Tapi itu suatu hal yang tidak mungkin.

Tidak lama kemudian datang pesan nomor 2:

Bertaruh kesetiaan istrimu adalah hal yang terlalu berani
Oleh karena itu, bila suami ingin menjaga harmoni rumah tangga.
Maka ia menutup pintu dan tak seekor lalat pun masuk.
Hanya setitik kotoran lalat merusak batu permata.

Ditulis oleh Hui tao jen
Taois ‚Datang Kembali‘

Tiga huruf Hui tao jen sudah tidak asing lagi bagi si pemuda; dibelakang nama julukan tersebut tersembunyi Patriark Tao L¸ Shun Yang (L¸ Yen juga L¸ Tung Pin, lahir 750 sesudah Masehi); juga tentang kehidupanya ia kenal baik, dulunya ia adalah penikmat arak dan wanita, pikirnya dengan puas. Jadi rohnya itu yang tadi masuk kedalam tubuh temannya dan menggerakan alat tulis. Juga pesan kedua tampaknya menguntungkan. Meskipun pesan itu membuatnya sedikit dingin dan kecewa, dimana diperingatkan tentang ketidak setiaannya si istri dan disuruh hati-hati. Tetapi dalam hal ini ia bisa tenang. Toh ia punya bapak mertua sebagai penjaganya dirumah. ia pasti akan menjaga kesalehan istrinya. Untuk apa ia bernama Pintubesi? Selain itu baris 3 dan 4 dari pesan kedua menyebutnya dengan jelas. Tidak ada keraguan lagi, pesan yang ditulis roh bisa diartikan, bahwa pilihannya bagus.

Si pemuda menjurah kearah tempat kosong, mengucapkan terimakasih. Penghormatan itu berlaku untuk roh Patriark L¸ Shun Yang. Kemudian ia pergi kerumah perantara pernikahan Mama Liu.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s