Bab  4 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingTaois Pintubesi mengambil si pemuda berandalan menjadi menantu.

„Pesan dari roh sangat menguntungkan hubunganku dengan nona Harum. Jadi tidak perlu melihatnya lagi. Cepat kau kesana dan bereskan. kata si pemuda memutuskan, atas itu Mama Liu langsung pergi kerumah Doktor Pintubesi.

Pada hari dan tanggal bagus, si pemuda masuk kerumah Doktor Pintubesi sebagai menantu, bersama Harum disebelahnya menjurah ke langit dan bumi, leluhur dan ayah mertua. Ketika kemudian pada malam harinya ia sendirian bersama Harum dikamar pengantin, dan melepaskan kerudung pengantin, matanya terbeliak memandang istri barunya.

Karena sampai detik terakhir si pemuda masih mempunyai sedikit keraguan di sudut hatinya, dan menganggap pujian Mama Liu mengenai kecantikan Harum hanya dilebih-lebihkan. Dan sekarang, dibawah penerangan cahaya lilin-lilin dan lampu gantung, ia bisa memperhatikannya dari dekat. hatinya menjadi sangat gembira. Kecantikannya melebihi semua harapan yang bisa ia bayangkan. mengingatkannya pada suatu bagian dari esai „Ingatan pada kecantikan Tsin“

Harus diakui, Harum adalah wanita cantik tak tertandingi. tetapi untuk menjadi kekecewaan pasangannya, ia benar-benar gagal total dalam „Permainan Angin dan Bulan“, dan oleh karenanya harapan untuk mendapat kesenangan di malam pengantin menjadi kandas, sekitar tujuh persepuluh bagian tak terpenuhi. Tidak heran! terimakasih pada didikan kuno, yang diperoleh dari ayahnya yg berpegang teguh pada norma moral, Harum berlindung dibelakang baju zirah kecanggungan dan kekakuan seorang perawan, yang memantulkan serangan lembutnya menjadi tidak efektif. Sangat menyedihkan, bahwa Harum tidak menyongsong keinginan bercintanya. Bila si pemuda mengucapkan kata-kata yang agak berani atau sedikit agak jorok, Harum langsung menjadi merah dan kabur dengan perasaan terhina. Si Pemuda juga mempunyai kesenangan untuk melakukan „Permainan angin dan bulan“ pada siang hari, karena akan meningkatkan gairahnya, bila ia bisa menikmati pemandangan bagian tersembunyi dari tubuh pasangannya. Beberapa kali si pemuda pernah mencoba, pada siang hari dengan tangan lancang melepaskan kancing pakaian dan pakaian bawah Harum. Tetapi Harum melawan sekuat tenaga dan  berteriak. seolah-olah si pemuda melakukan kekerasan kepadanya. Sebaliknya pada malam hari, ia membiarkannya terjadi, meskipun sangat apatis. Juga dengannya hanya bisa melakukannya dengan cara sederhana, permainan cinta yang lebih bervariasi ditolaknya mentah-mentah. si pemuda mencoba dengan posisi „Mengambil api dari belakang bukit“ ditolak, coba lagi dengan posisi „Membuat lilin dengan mencelupkan sumbu di lemak“ juga ditolak dan dianggap tidak sopan. Dibutuhkan banyak usaha dan rayuan, tapi Harum selalu pasif, seakan-akan tuli. Benar-benar membuat orang jadi putus asa. si pemuda menamakannya setengah gurau sebagai „si suci kecil“.

„Tidak bisa begini terus. Aku butuh sesuatu yang bisa membantu menjelaskannya, dan membebaskannya dari belenggu moralnya. Yang paling ideal adalah buku bacaan yang merangsang“ kata si pemuda pada dirinya sendiri dan pergi ke penjual buku. Disana, setelah lama mencari, diperolehnya sebuah buku yang dipenuhi lukisan luar biasa, berjudul Chung Tang (Istana musim semi). Sebuah buku terkenal seni bercinta karangan sekretaris besar Chao Tse Ang. Didalamnya terdapat 36 lukisan, yang dengan jelas dan penuh seni memperlihatkan 36 posisi bercinta yang diambil dari nyanyian para pujangga zaman Tang. Ia membawa buku tersebut kerumah dan diletakan kehadapan „si suci kecil“-nya. Ketika mereka besama membalik-balik lembaran buku, ia membisikinya:

„Betul kan, aku tidak bohong, semua itu bukan aku yang mengada-ada, tapi memang cara yang biasa dipakai dalam hubungan bercinta suami istri. Sudah sejak zaman leluhur cara bercinta begini sudah dipraktekan. Kau lihat buktinya pada lukisan-lukisan ini dan teks pengantarnya.“

Tanpa bereaksi apa-apa, Harum menerima buku yang disodorkan dan membalik halamannya. Ketika kemudian ia membalik halaman kedua, ia membaca judul buku yang ditulis dengan huruf tebal Han kung i chao, Lukisan dari istana Kaisar zaman Han (Dua abad sebelum masehi s/d dua abad setelah Masehi), ia berpikir:

‚Di istana penguasa Han kuno banyak terdapat wanita cantik bangsawan yang menjunjung adat istiadat – Pasti didalam buku ada lukisan mereka‘. Ingin tahu bagaimana tampangnya Lady-lady bermartabat ini, dan dengan penuh harapan Harum terus membalik ke halaman selanjutnya. Disitu ia mendapat kejutan buruk, terlihat pada halaman ketiga sebuah gambar yang membuatnya kaget: seorang lelaki dan seorang wanita, keduanya tidak mengenakan pakaian dan sedang melakukan pergumulan intim diantara gegunungan buatan di taman. Saking malunya, wajahnya menjadi merah padam, lalu memaki suaminya.

„Ih! Sangat tidak sopan! Dari mana kau peroleh? Itu mengotori dan merusak kealimanku!“

Dan langsung memanggil dayang agar membakar buku tersebut. Si pemuda memegang tangan Harum dan menghindarinya.

„Jangan dong! Buku ini adalah sebuah peninggalan kuno yang bernilai paling sedikit seratus keping uang perak! Aku pinjam dari teman. Jika kau mau membayar ganti rugi seratus keping uang perak, silahkan, bakar saja! Kalau tidak, berikan aku kesempatan paling tidak dua hari untuk membacanya, setelah itu akan aku kembalikan pada temanku.“

„Untuk apa kau membacanya, menjijikan, bertentangan dengan semua adat istiadat dan norma?“

„Jika itu seandainya benar asusila dan menjijikan, mengapa pelukis sohor mau mengerjakannya, menghias buku ini dengan lukisan dan pasti sulit mendapat percetakan, yang mau menanggung biaya produksinya dan menerbitkannya. Bahkan sebaliknya, sejak dunia tercipta belum pernah ada yang lebih alamiah dan lebih rasional, dari pada yang diperlihatkan buku ini. Oleh karena itu seorang Sifu ‚kata-kata‘ dan, seorang Sifu ‚warna‘ berkerjasama menjadikannya sebuah seni literatur dan lukisan, oleh karena itu penerbit tidak menghemat biaya dan seperti kau lihat, buku ini diproduksi secara luxus dengan sutera mahal dan dipasarkan, dan oleh karena itu juga pelat cetaknya bersama literatur bernilai tinggi lainnya disimpan di arsip Han lin, didalam ‚Hutan kuas und tinta‘, agar nantinya berguna untuk generasi penerus. Bila bukan begitu halnya, maka mungkin hubungan intim suami istri dari waktu ke waktu akan kehilangan gairahnya, suami istri satu sama lain menjadi bosan dan membalikan punggungnya. tamatlah sudah dengan kesenangan membuat keturunan. Aku menggunakan buku ini bukan hanya untuk diriku sendiri, melainkan juga untukmu belajar dan membangkitkan keingin tahuanmu: Agar supaya kau siap menerima bibit, menjadi hamil dan membahagiahkanku dengan seorang anak, entah itu lelaki atau perumpuan. Atau kau ingin, bahwa anak muda seperti kita sudah harus hidup sebagai pertapa, dan perkawinan tanpa anak? Mengertikah kau maksud baikku? Jadi kenapa harus marah?

Harum masih kurang yakin.

„Aku belum begitu percaya, bahwa yang ada didalam buku itu selaras dengan adat und akal budi. Seandainya memang begitu, mengapa leluhur kita, yang menciptakan tatanan sosial tidak mengajari kita, untuk melakukannya dengan bebas di siang hari dan didepan mata orang lain? Mengapa manusia melakukannya diam-diam bagaikan maling di malam hari di kamar sepi? Dari situ bisa diambil kesimpulan, bahwa urusannya tidak benar dan terlarang?“

Siucai-sebelum-tengah-malam menerima argumen istrinya dengan senyum tawa

„Cara pandang yang lucu! Tetapi aku tidak akan menyalahkanmu Niang tse, istriku sayang. Penyebabnya adalah pendidikan yang terbalik dari ayahmu. Engkau dipingit didalam rumah dan diputus dari dunia luar. Pergaulan dengan gadis seumurmu, yang mungkin akan menjelaskannya padamu, telah dilarangnya. Jadi kau hanya sendiri dan tidak tahu menahu tentang dunia lain. Tentu saja hubungan suami istri juga dilakukan pada siang hari, nomal saja. Coba kau pikir, kalau tidak dilakukan pada siang hari, entah kapan dan entah dimana didepan mata orang asing, lalu darimana seorang pelukis mempunyai penggambaran yang begitu jelas, seperti terlihat di buku ini? Bagaimana lukisannya bisa begitu persis dan hidup, sehingga hanya memandangnya langsung terangsang?“

„Ya, tapi kenapa orang tuaku tidak melakukannya pada siang hari?“

„Kau bisa tahu dari mana, bahwa orang tuamu tidak melakukannya pada siang hari?

„Bila begitu adanya, pasti suatu hari aku tanpa sengaja pernah melihatnya. Umurku sekarang sudah enam belas tahun dan selama itu aku tidak pernah mendengar atau melihat“

Kembali Siucai-sebelum-tengah-malam tertawa terbahak-bahak:

„Ah, bagaimana sih kau! Apa yang dilakukan orang tua kan bukan untuk mata dan telinga anak-anak! Tetapi salah seorang dayang atau pelayan dirumah orang tuamu pasti pernah mencuri dengar dan dengan mata dan telinga menyaksikannya. Tentu saja orang tuamu tidak melakukannya didepan mata dan telinga kanak-kanakmu, mereka pasti melakukannya dibelakang pintu tertutup, kawatir nanti gadis kecil, masih mentah sepertimu, kalau melihat bisa mendapat pikiran yang tidak-tidak dan merusak daya khayalmu.“

Harum, setelah agak lama berpikir dalam kebisuan, seperti kepada dirinya sendiri:

„Benar, aku ingat, mereka memang kadang-kadang berdiam dikamar pada siang hari dan pintunya dikunci – Apakah mereka satu sama lain melakukannya? – Mungkin ya – Tapi siang hari – Yang satu bisa melihat yang lainnya tanpa pakaian – Bagaimana bisa! – Mestinya malu dong!“

„Justru, bahwa satu sama lain melihat di tempat terang dan tanpa mengenakan sehelai benang pun, membuat rangsangan yang sesungguhnya, dan memberikan kenikmatan sepuluh kali lipat, dibanding bila melakukannya ditempat gelap. Itu berlaku untuk semua pasangan – dengan dua kekecualian“

„Dua kekecualian yang mana?

„Kalau tidak si lelaki jelek dan si wanita cantik, kasus kesatu, atau si wanita jelek dan si lelaki ganteng, kasus lainnya lagi, yang tidak dianjurkan melakukannya ditempat terang“

Harum, sekarang sudah mulai setengah percaya, meskipun perkataan ‚Tidak‘ masih tetap tergantung di bibirnya. Ronah merah mulai merayapi pipinya, menandakan hasrat yang sudah mulai meningkat dan menunggu kelanjutannya.

Si pemuda memperhatikannya dan berkata dalam hati:

„Sekarang ia mulai mendapat selera. Sudah pasti ia ingin ikut melakukannya. Tetapi hasratnya masih dalam stadium awal. Sampai stadium ‚kehausan dan kelaparan cinta‘ masih jauh. Jika aku melakukannya sekarang dengannya, bisa saja terjadi padanya seperti orang gembul, yang tanpa pilih dengan membuta melahap semua makanan dan minuman, tanpa sempat menggigit dan mengunyah.  Ia mendapat makanan yang sulit dicernak, dan hanya sedikit kenikmatan yang diperolehnya. Sebaiknya aku biarkan ia sementara waktu bergeliang dan dengan santai menuju tujuan.

Si pemuda  mengambil sebuah kursi dan duduk. Kemudian ia menarik ujung baju istrinya kearahnya dan mempersilahkannya duduk diatas pangkuannya. Kemudian ia mengambil buku bergambar yang tadi dan membalikan halamannya selembar demi selembar dan dari satu gambar ke gambar lainya bersamanya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s