Bab 5 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaDi balik tirai, si cantik memintal benang lembut

Keesokan harinya Wu Song pindah ke rumah Wu Dalang. Ketika beberapa Serdadu membawa masuk Koper dan perlengkapan tidur, Teratai Emas merasakan satu kepuasan, seolah-olah ada yang membawakan harta benda tak ternilai.  Ia tidak ingin kehilangan kesempatan, esok paginya ia sudah bangun pada kentungan ke enam, pada saat iparnya menyiapkan diri untuk berangkat apel pagi ke Yamen. Dengan tangan sendiri ia menyiapkan air hangat, dan ketika akan berangkat Wu Song harus berjanji akan langsung pulang setelah apel pagi selesai, untuk sarapan pagi bersama, dan di jalan jangan mampir ke tempat lain.

Pada saat sarapan pagi bersama, Wu Song merasa tidak enak hati, karena dilayani minum teh oleh Teratai Emas dengan telaten. „Jadi tidak enak nih, merepotkanmu. Mulai besok aku akan menugaskan serdadu untuk melayaniku“

„Bagaimana bisa berpikir begitu, memang mengapa kalau aku melayanimu, kita keluarga! Aku juga punya Ying’er kecil untuk melayani, tetapi aku tidak suka. Apalagi serdadumu  pasti dapurku akan berantakan“

„Jadi aku harus menerima kebaikanmu“ Langsung setelah pindah rumah, Wu Song memberikan beberapa uang perak kepada kakaknya untuk uang belanja dan ongkos tetangga bantu masak. Hal  itu membuat ibu Tetangga dengan senang hati menyiapkan masakan. Wu Song melihat, bahwa gengsi kakaknya Wu Dalang menjadi agak naik di mata tetangga. Tidak lupa ia membelikan beberapa lembar kain cita pilihan untuk Kakak iparnya yang diterima dengan girang.

Dengan penuh pengabdian, tak peduli apakah pagi atau malam, setiap kali Wu Song pulang dinas, Teratai Emas selalu berusaha menyenangkan dan memanjakan dengan makanan yang paling enak, yang ada di dapur. Wu Song adalah orang yang sederhana, sehingga tidak merasakan rencana tertentu dibalik semua itu, dan bila pembicaraannya sudah menjurus ke hal-hal tertentu, maka ia akan pura-pura tuli dan tak mengatakan apa-apa.

Sebulan sudah Wu Song tinggal di rumah kakaknya, sementara itu sudah menjelang musim dingin, dan sejak beberapa hari badai November bertiup dari utara. Langit tertutup oleh awan tebal yang ke merah-merahan, dan dengan mendadak turunlah hujan salju yang membuat suasana lebih menyenangkan. Hujan salju turun terus menerus hingga malam. Ke mana mata memandang, yang terlihat hanyalah pemandangan alam yang dihiasi warna keperak-perakan. seolah-olah langit dan bumi dipenuhi butiran-butiran beras.

Pada keesokan hari, setelah suaminya pergi berjualan, Teratai Emas menyuruh tetangga Wang membeli daging dan arak. Di kamar iparnya ia sudah menyalakan arang di pendiangan hingga membara. ‚Hari ini harus berhasil!‘ katanya, mengambil keputusan ‚ Kali ini tidak boleh ia acuh tak acuh, harus menarik perhatiannya.‘  Lama ia menunggu dalam kesepian yang dingin, di balik tirai menunggunya pulang. Akhirnya, setelah jam makan siang lewat, ia melihat Wu Song di jalan bersalju, diiringi oleh angin yang mengandung butiran-butiran kristal es. Ia menyingkap tirai ke samping. „Dingin sekali hari ini, bukan?“

Sambil mengiakan Wu Song memasuki rumah dan berganti pakaian di kamar. Sementara itu, atas perintah Teratai Emas,  si kecil Ying’rl menutup dan mengunci pintu depan dan pintu belakang. Teratai Emas mulai menyiapkan beberapa mangkuk hidangan di meja kecil dalam kamar Wu Song. „Ke mana kakakku?“ ia bertanya kepada Teratai Emas yang tengah sibuk menyiapkan meja makan.

„Di luar sana, masih dagang. Kita bisa makan lebih dulu“

„Lebih baik kita tunggu ia pulang, makan bisa kapan saja“

Kemudian Ying’rl masuk membawa satu guci arak hangat dan meletakkan ke atas meja. Teratai Emas menggeser tempat duduk mendekati api pendiangan. Dua kali ia sudah mengisi mangkuk untuk Wu Song. „Silakan, diminum“ pintanya menyilakan pada Wu Song. Untuk menjaga kesopanan, Wu Song menerimanya.

Teratai Emas minum dan meletakkan mangkuk ketiga ke hadapan Wu Song. Bajunya tiba-tiba merosot, sehingga sebagian dari buah dadanya yang ranum muncul; sanggulnya telah di kendurkan, sebagian rambutnya jatuh terurai di pundak. Wajahnya menyimpulkan senyum nakal. „Cerita dong, katanya dengar-dengar kau punya simpanan gadis penyanyi di dekat Yamen, iya kan?“

„Ah, siapa bilang, aku bukan orang yang begitu“

„Siapa tahu, bisa saja kau bicara tidak sama dengan yang kau pikir?“

„Kalau tidak percaya, tanya saja pada kakakku“

„Ah, dia mengerti apa, hidupnya saja setengah mimpi! kalau tidak begitu, masa ia jadi tukang jualan kue keliling -ayo minum!“ Dan ia menuangkan 4 mangkuk arak untuk Wu Song, sedangkan ia sendiri telah meminum 3 mangkuk. Dan bicaranya semakin jorok. Wu Song meskipun sudah banyak menenggak arak, tetapi masih sadar sembilan bagian. tidak pernah terpikir untuk mengambil kesempatan dan melakukan sesuatu yang kotor, ia menundukkan kepala dan diam.

Teratai Emas bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil arak buah. Untuk mengisi waktu, Wu Song menyibukkan diri dengan dengan garpu besar mengatur arang agar membara lebih baik. Akhirnya Teratai Emas datang kembali ke kamar. Sebelah tangan menampan arak buah, tangan lain diletakkan di pundak Wu Song. Dan Wu Song merasakan belaian jari Teratai Emas yang halus. „Pakai baju tipis, apa tidak kedinginan“ ia setengah melamun dan tidak memperhatikan lebih lanjut.

Teratai Emas mengambil garpu pendiangan dari tangan Wu Song. „Kau mana bisa, biar aku saja yang mengerjakan, supaya kau panas bagaikan garpu pendiangan.“ Kemarahan Wu Song sudah lama terpendam, tetapi ia masih berusaha menahan diri. Tetapi sayang itu terlewatkan oleh Teratai Emas, luput dari perhatiannya.

Teratai Emas melempar garpu pendiangan dan menenggak arak dengan cepat dari mangkuk yang baru diisi. „Ayo minum, bila kau punya hati“ ajaknya sambil menyodorkan mangkuk yang masih setengah penuh. Mangkuk diambil oleh Wu Song dan ditumpahkan ke lantai dengan marah. „Aku adalah lelaki jujur,  bukan orang yang tidak mengerti norma kesusilaan. Sudahilah urusan ini“

Dengan muka merah membara, Teratai Emas menelan celaan, lalu memanggil pelayan masuk untuk bersih-bersih. „Aku cuma bercanda“ akhirnya Teratai Emas berkata, “ Siapa yang tahu, kalau kau menanggapinya begitu sungguh-sungguh!“ Dan membalikkan tubuh menghilang ke dapur. Teratai Emas telah menyadari, bahwa ia tidak dapat menjerat iparnya Wu Song. Malah sebaliknya ia mendapat celaan yang keras. Wu Song sendiri duduk di kamar dengan muka masam dan berpikir mencari jalan keluar.

Bersambung

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s