Bab 6  | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaWu Song mendapat tugas ke ibu kota

Menjelang sore Wu Dalang pulang ke rumah di tengah derasnya hujan salju. „Kamu ribut dengan siapa?“ ia bertanya, karena melihat mata Teratai Emas memerah dengan linangan air mata.

Lalu Teratai Emas menceritakan pada suaminya tentang kejadian tadi siang dengan Wu Song, dan tentu saja menurut versinya sendiri. „Seperti biasa, bila Wu Song pulang dinas, ia selalu menyediakan makanan hangat dan minuman, tetapi entah mengapa hari ini ia mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, boleh kau tanya pada Ying’rl, ia bisa bersaksi.“

„Ah, kakakku bukan orang seperti itu, itu aku tahu benar. Tetapi aku minta padamu jangan teriak-teriak, nanti malu didengar tetangga dan mereka akan menertawakan kita.“ kata Wu Dalang meninggalkan istrinya dan pergi mencari Wu Song. „Makan yuk!“ Bukan menjawab, Wu Song malah melangkah keluar, menuju pintu. „Eh, ke mana?“ panggil Wu Dalang. Tanpa berkata apa-apa Wu Song ke luar meninggalkan rumah. Wu Dalang kembali kepada istrinya di kamar. Di kamar Teratai Emas masih marah-marah sambil memaki-maki Wu Song. Wu Dalang diam tak berani berkata apa pun juga.

Ketika Teratai Emas dan Wu Dalang mulai berbaikan lagi, tampak Wu Song mendatangi, kali ini dikawal dua orang serdadu, yang membawa pikulan pengangkat barang di pundak. Tanpa berkata apa-apa, Wu Song masuk ke kamar, membenahi barang-barangnya dan ke luar lagi, juga tanpa berkata apa-apa seperti masuknya tadi. „Adikku, mengapa kau pindah dari sini?“, tanya Wu Dalang.

„Biarkan aku ke luar dari rumah ini, itu yang terbaik“ Wu Song kembali ke tempat tinggal lama di dekat Yamen. Meskipun ketika itu Wu Dalang berpikir untuk mendatangi tempat tinggal Kakaknya, tetapi setelah oleh istrinya dilarang untuk berhubungan dengan Wu Song, maka ia tidak berani untuk menjalani rencananya.

Empat belas hari kemudian, Wu Song mendapat panggilan menghadap kepada kepala  daerah. Sang mandarin ingin mengirimkan sejumlah emas dan perak yang telah dikumpulkannya selama dua tahun dinas ke ibu kota, untuk dititip pada keluarganya, Komandan istana Chu. Nanti, setelah dinasnya yang 3 tahun selesai, maka harta benda itu akan digunakan untuk membuka pintu untuk jabatan baru. Masih pada hari yang sama, Wu Song pergi berangkat ke rumah kakaknya. Seorang pengawal membawa satu guci arak dan macam-macam barang makanan. Ia tidak memasuki rumah, melainkan hanya berdiri di depan pintu gerbang, menunggu kakaknya pulang.

Di dada Teratai Emas masih ada rasa suka pada iparnya. Ketika ia melihat kedatangannya dengan guci arak dan berbagai makanan, ia berpikir dalam hati: ‚Sepertinya ia masih ada perasaan suka padaku, kalau tidak mengapa ia masih datang.‘ Cepat ia masuk ke kamar, untuk mengenakan bedak baru, merapikan sanggul, dan mengenakan pakaian berwarna-warni untuk menemui iparnya. „Iparku, sepertinya di antara kita ada salah pengertian, sehingga kau lama tidak ke sini“

„Aku datang ke sini, untuk bicara dengan kakakku“ jawab Wu Song. Kemudian mereka naik ke ruang atas dan duduk di sekitar meja. Wu Song menyilakan kakak dan istrinya duduk berdua, dan ia sendiri duduk di sebelah sampingnya. Di dapur terdengar suara serak serdadu bercanda dengan temannya, tak lama kemudian muncullah mereka membawakan makanan dan minuman. Teratai Emas tak dapat menahan untuk tidak memandangi iparnya, tetapi sang ipar hanya tertarik pada makanan dan minuman saja.

Akhirnya Wu Song berkata pada kakaknya: „Untuk menjalani tugas dari kepala daerah, besok aku harus berangkat ke ibu kota. Paling sedikit dua bulan aku tidak kembali. Kakakku, engkau adalah seorang yang lemah dan berhati mulia, aku khawatir selama kepergianku ini, orang akan menghina dan menyakitimu. sebaiknya hindari hal-hal yang tidak perlu, sekembalinya aku nanti, akan kubereskan. Sejauh itu, seandainya aku jadi kau, mulai besok hanya akan menjajahkan kue sebanyak 5 tumpuk, tidak 10 tumpuk lagi seperti biasanya. Ke luar dari rumah agak siang dan cepat kembali pulang. Jangan minum-minum dengan kenalanmu. Langsung turunkan tirai begitu kau pulang ke rumah, dan kunci pintu. Semua itu akan mengurangi gangguan bagimu. Untuk itu kita minum.“

Wu Dalang menerima arak suguhan dan meminumnya. „Engkau benar, aku akan mengerjakannya seperti katamu,“ janjinya.

Kemudian Wu Song mengangkat cawan arak kedua kepada iparnya. „Iparku, uruslah rumah tangga baik-baik agar kakakku bisa hidup tenang“

Selama Wu Song bicara, wajah Teratai Emas menjadi merah, akhir ia marah dan memaki maki suaminya, yang dikira telah menceritakan hal-hal yang tidak baik mengenai dirinya. Wu Song memperhatikan iparnya yang marah-marah, lalu berkata: „Jadi engkau ingin mengurus sendiri rumah tanggamu?, boleh-boleh saja, tetapi kau harus benar-benar mengerjakannya, kata-katamu akan kuingat. Untuk itu, mari minum!“ Tetapi Teratai Emas menolak cawan dengan tangan ke samping hingga tumpah, dan berlari menuruni tangga.

Setelah pertengkaran kedua bersaudara itu kehilangan selera untuk meneruskan acara makan minum, dan siap-siap untuk perpisahan. „Kakakku, sebaiknya untuk sementara kau tidak usah dagang dulu, tinggallah di rumah. Semua kebutuhanmu akan kukirim via kurir, dan jangan lupa menutup pintu dan gerbang!“ Keesokan paginya, Wu Song berangkat ke ibu kota dengan unta bermuatan emas dan perak.

Tiga, empat hari lamanya, Wu Dalang harus mendengar makian dari istrinya, Ia bisa menguasai diri dan menelan semua itu dengan sabar. Di luar itu, ia menuruti anjuran adiknya, dan hanya membawa setengah pikul kue. Lewat tengah hari, ia sudah pulang. Langsung mengunci pintu, menurunkan tirai dan duduk di ruang keluarga. Dan tentu saja, itu membuat nyonya Teratai Emas mengamuk lagi. Wu Dalang meneruskan caranya mengatur hari, dan pelan-pelan istrinya tidak marah lagi, ia sudah menerima apa adanya. Ia menggunakan taktik, ketika suaminya pulang, ia sendiri yang mengunci pintu dan menurunkan tirai. Melihat itu, Wu Dalang merasa puas.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s