Bab 8 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaIbu Wang pasang omong di kedai teh

„Ibu angkat, berapa mesti kubayar untuk minuman?“

„Tidak seberapa. Tinggallah sebentar lagi, itu nanti kita hitung belakangan“

„Omong-omong, anak lelakimu Chao sekarang kerja di mana?“

„Seandainya aku tahu. Ia dulu ikut pedagang dari Anhui. Sejak itu tak ada kabar beritanya lagi, Aku tidak tahu, apakah ia masih hidup atau sudah mati“

„Seorang pemuda rajin yang cerdik. Harusnya dulu ia kerja padaku saja“

„Oh, bila tuan besar menginginkan, tentu ia akan sangat senang“

Ximen  berdiri dan permisi pulang. Belum ada dua jam berlalu, Ximen  sudah datang lagi ke kedai teh, duduk melamun di teras sambil matanya memandang ke arah rumah sebelah.

„Bagaimana dengan sup buah prem, apakah kau suka?“ tanya Pemilik kedai.

„Ya, suka sekali, tetapi cukanya agak banyak ya“ Tak lama kemudian, Pemilik kedai menyajikan semangkuk sup buah prem. „Ibu angkat, kau pandai sekali membuat sup buah prem, apakah kau masih punya stok?“

„Aku memang sudah biasa jadi comblang perkawinan“

„Siapa yang bicara soal comblang, aku cuma memuji sup buah prem“

„Aku mendengar dengan jelas, bagaimana kau mengatakan, bahwa aku sangat paham dengan percomblangan perkawinan“

„Baiklah, Maukah engkau menjadi comblang untukku? Bila kau mengerjakannya dengan baik, tersedia hadiah besar dariku“

„Tuan besar bercanda. Nanti bila Istri utamamu tahu, habis kupingku dijewer“

„Jangan khawatir! Istri Kesatuku itu orang baik dan penuh pengertian. Yang jadi masalah ialah, bahwa dari sekian banyak gundik yang kumiliki di rumah, tak ada satu pun yang memuaskan, Apakah engkau ada yang cocok untukku? tolong kasih tahu padaku, janda juga bolehÖ“

„Sebenarnya belum lama ini aku punya stok, tetapi tahu yaÖ“

„Bicaralah yang jelas. Aku sangat tertarik“

„Begini. Penampilan luar, ia lebih dari sempurna. Hanya saja umurnya tidak muda lagi“

„Kecantikan yang sudah matang!. Berapa umurnya? Beberapa tahun lebih tua tidak apa-apa“

„Ia sekarang di tahun ke enam puluh di siklus ke enam puluh, tahun kelahiran kerbau, tahun depan umurnya genap sembilan puluh tiga tahun“

„Dasar!“ meledak tawa Ximen. „Lelucon bodoh“

„Perjanjian ini harus kita rayakan“, kata pemilik kedai pada tamunya. „ayo, minum, minum!“

Menjelang malam, Ximen  meninggalkan pos pengawasannya dan pulang ke rumah, Di rumah, Ximen  tidak enak makan dan tidak enak tidur. Pikirannya melayang, melamuni si cantik tak dikenal. Nyonya Bulan, istri utamanya, mengira hal tersebut disebabkan oleh kematian istri ketiganya. Keesokan pagi, belum juga kedai dibuka, ibu Wang sudah melihat Ximen, tidak jauh dari rumahnya, terlihat Ximen  mondar-mandir di sebuah jalan.

„Ia sudah tak tahan. Ia sedang menjilati madu yang aku poles di hidungnya, sudah waktunya ia mengeluarkan uang gembira“ Setelah berjalan ke sana sini, akhirnya Ximen  memasuki kedai teh. „Ah tuan besar! Sungguh menyenangkan“ Sudah lama tidak mampir!“ katanya ironis.

Ximen  mengeluarkan sebuah uang perak dari kantong dan memberikan padanya. „Ini, ibu angkat, pembayaran di muka untuk makan minumku“

Ibu Wang menyimpan uang tersebut dan berkata: „Sepertinya engkau ada sesuatu dalam hati“

„Lho, bisa tahu?“

„itu urusan gampang“

„Bila kau benar tahu apa yang ada dalam hatiku, aku akan memberimu uang perak sebanyak 5 ons.“ (1 Ons = 28,35 gram)

„Untuk itu tidak usah main tebak-tebakan, akan aku bisikkan ke telingamu: Bahwa kau sejak kemarin dan hari ini bolak-balik ke sini, pasti disebabkan oleh seseorang di sebelah, iya kan?“

„Tepat sekali. Aku mesti mengakui, sejak aku melihatnya di depan pintu rumahnya, rohku sudah terbang, siang malam aku tak bisa tenang. Tidak enak makan dan tidak enak tidur. tubuhku seperti lumpuh. Apakah kau punya ide untuk mengeluarkanku dari suasana itu?“

„Aku akan bicara terbuka padamu. Penghasilanku dari kedai teh ini sangat sedikit, jadi aku harus mencari penghasilan sampingan. Sejak umur 36 tahun aku hidup tanpa suami, dari mana aku dan anakku bisa hidup?“

„Bila kau berhasil, mempertemukan aku dengan si burung cantik, akan kuberikan kau upah sebanyak 10 Ons uang perak. Jadi kau punya modal tambahan untuk usahamu“

„Ha! kau tertipu, aku cuma bergurau“

Bersambung

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s