Bab 5 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingBuku seni bercinta „Istana musim semi“

Buku ini berbeda dengan buku lain sejenisnya, disajikan sedemikian rupa, sehingga lembar depan setiap halaman merupakan representasi bergambar dan halaman belakangnya disertai teks pengantar terkait. Teks pengantar terdiri atas dua bagian. Bagian pertama secara singkat menjelaskan posisi yang ditampilkan, bagian kedua berisi penilaian artistik gambar yang bersangkutan…

Sebelumnya Siucai-sebelum-tengah-malam berpesan kepada Harum, agar memperhatikan gambar baik-baik, untuk nantinya digunakan sebagai contoh sesuai kebutuhan. Kemudian ia membacakan kata demi kata kepada Harum:

Gambar no 1. „Kupu-kupu mengepakan sayap mencari wewangian bunga“

Teks pengantar: Wanita duduk menunggu dengan kaki bertumpu keatas batu besar ditepi taman kolam. Pria, dengan hati-hati mengintai dan meraba medan, berusaha menemukan jalan masuk kedalam tampuk bunga dengan belalai gioknya. Keduanya baru mulai bertempur dan belum ada tanda-tanda kesenangan, memperlihatkan ekspresi dan pandangan mata lebar yang masih mendekati penampilan normal.

Gambar no 2. „Tawon menyiapkan madu“

Teks pengantar: Wanita berbaring telentang, kedua kaki tergantung diudara, kedua tangan menekan buah dan membantu belalai giok si pria menemukan jalan masuk ke tampuk bunga. Bagaimana ekspresi wajah „haus“ dan „lapar“ yang ditampilkan, memperlihatkan penuh perangsangan, sehingga pengamat ikut terangsang, adalah kehebatan si seniman.

Gambar no 3. „Burung yang telah terbang, kembali menemukan sarangnya di semak-semak hutan“

Teks pengantar: Wanita berbaring sedikit ke samping, satu kaki keatas, dan kedua tangan berpegang pada kaki atas si pria. seolah-olah khawatir si pria kembali lepas dan tersesat. Terlihat ekspresi bahagia dan juga sedikit kekhawatiran. Secara keseluruhan: kedua muda mudi dengan seluruh pikiran dan jiwa menikmati „permainan kuas terbang dan bak tinta menari“.

Gambar no 4. „Kuda lapar mencongklang ke palungan“

Teks pengantar: Wanita berbaring telentang, memegang tubuh atas si pria, bagaikan belenggu menekan ke dadanya. Pria menenggelamkan „kemoceng yak“-nya kedalam tampuk bunga hingga ke gagang. Untuk keduanya adalah waktu sesaat sebelum ekstase. Bagaimana kedua tubuh dan pikiran ditampilkan, dengan kedua mata setengah terpejam, seolah-olah mereka saling menelan lidah, berusaha menemukan dirinya kembali, memperlihatkan kepiawaian Sifu kuas.

Gambar no 5. „Dua ekor naga kelelahan setelah bertempur“

Teks pengantar: Kepala si wanita bertumpu miring kesamping diatas bantal, kedua tangannya lemas, ia merasa seolah-olah tubuhnya lemah bagaikan terbuat dari kapas. Pria meletakan kepalanya disebelah pipi si wanita dan tubuhnya meringkuk rapat ditubuh si wanita, juga ia merasakan seolah-olah anggota tubuhnya seperti kapas. Ekstase telah berlalu. „jiwa manis“ telah pergi dan impian indah telah meliwati puncak dan menguap entah kemana. Benang kehidupan dan hujan masih bisa dirasakan. Bagi pemerhati, gambar itu memperlihatkan keagungan dalam menikmati kebahagiaan.

Sejauh itu Harum masih memperhatikan gambar dan mendengarkan keterangan teks disamping si pemuda dengan sabar. Tapi ketika si pemuda meneruskan membalik ke halaman selanjutnya dan ingin memperlihatkan gambar no 6, Harum yang terlihat gelisah mendorong buku, bangun dan berkata:

„Cukup! Apa bagusnya! Hanya membuat seseorang menjadi kehilangan keseimbangan diri! Kau teruskan saja lihat buku itu sendiri! Aku mau pergi tidur.“

„Sabar, sabar!, tunggu sampai kita selesai membalik-balik halaman buku! Yang terbaik belum datang! Bila kita selesai, aku pun akan ikut tidur“

„Seolah-olah besok sudah tidak ada waktu lagi! Bagiku sudah cukup!“

Si pemuda memeluk Harum dan menutup mulutnya dengan sebuah ciuman. Dan ketika ciuman, ia merasakan sesuatu yang baru pada Harum. Keduanya sudah sebulan menikah. Di seluruh waktu itu, bila si pemuda menciumnya, Harum selalu menutup pintu dengan barisan giginya rapat-rapat. Tidak pernah sekali pun ia berhasil menembus rintangan. Tapi kali ini, ketika ia menekankan bibirnya kepada bibir harum, -Suatu kejutan yang menggembirakan!- pertama kali ia merasakan ujung lidah Harum! Pertama kali ia membukakan giginya untuk suaminya!

„Hatiku, jantungku!“ desah si pemuda kesenangan! „Akhirnya! Dan sekarang – Ah untuk apa ke ranjang? – Kita lakukan diatas kursi lengan ini – Kita akan menirukan posisi „batu besar ditepi taman kolam“ seperti di gambar no 1, bagaimana?“

Harum pura-pura marah:

„Tapi, bagaimana bisa…! Itu kan tidak manusiawi!“

„Kau benar, itu hanya layak, sebagai permainan dan hiburan para dewa!. Ayo kita main menjadi dewa dewi!

Dengan lincah si pemuda melepaskan sabuk pakaian Harum. Dan ia melakukannya tanpa menghiraukan celaan Harum yang mengerutkan ujung mulutnya. Bukan hanya itu, bahwa Harum tanpa perlawanan membiarkan si pemuda menarik bahunya kearahnya, juga ketika si pemuda melepaskan rok bawahnya. Si pemuda merasakan api yang berkobar-kobar. Ia berpikir pada dirinya sendiri. Jadi gambar-gambar itu telah bereaksi terhadap Harum, sehingga membuat tegalannya menjadi lembab dipenuhi embun hasrat.

Si pemuda melepaskan pakaiannya sendiri, menarik dan mendudukan Harum diatas kursi dihadapannya, dengan kedua kaki mengantung dipundaknya. Dengan hati-hati ia menyetir masuk pimpinan pasukannya kedalam puri, kemudian mulailah ia melepaskan petutup tubuh Harum lainnya.

Mungkin Anda akan bertanya: Kenapa baru sekarang? Kenapa ia memulainya dari bawah? Ini penjelasannya: Si pemuda adalah seorang yang sudah pengalaman dalam urusan cinta. Menurutnya, bila ia memulainya dari atas, Harum akan merasa malu dan takut dan akan menyulitkannya dalam mewujutkan rencana. Oleh karenanya serangannya langsung ditujukan ketempat yang paling sensitif, dengan perhitungan, bila Harum sudah menyerah disitu, maka ia juga akan dengan mudah menyerah di pos-pos lainnya. Seperti taktik perang, menyerang tentara musuh sambil menawan pimpinan perangnya. Ternyata dengan sukarela Harum membiarkan si pemuda menelanjangi dirinya dari kepala sampai ke kaki. -stop- dengan satu-satunya pengecualian, Kaus kaki suteranya.

Sudah menjadi kebiasaan, bahwa bila perumpuan-perumpuan kita membungkus „Bunga lily emas“ yang hanya sependek 3 inci dengan perban, mereka mengenakan kaus kaki sutera pendek diatasnya, hanya dengan itu mereka merasa nyaman pada jari dan tulang kakinya. Tanpa itu, kakinya bagaikan bunga tanpa kelopak dan juga tidak indah dipandang mata.

Sekarang si pemuda juga melepaskan penutup tubuh terakhirnya, dan dengan tombak terpancang ia melakukan serangan yang sesungguhnya. Pimpinan pasukannya sudah menyerbu masuk kedalam puri, hingga kekamar rahasia „Jantung bunga“, tempat dimana stempel disembunyikan. Harum memudahkannya dalam pencarian, dengan menekankan tangannya ke lengan kursi, dan mengikuti iramanya. Cukup lama mereka melakukannya sesuai contoh gambar no 2 buku pelajaran bercinta.

Tiba-tiba di satu tempat di kedalaman, Harum merasakan suatu rangsangan aneh, yang belum pernah dikenalnya, tidak sakit, lebih banyak terasa sangat menyenangkan dan gatal nyaman dan menggelitik.

„Berhenti! Cukup untuk hari ini! Kau menyakitkanku! katanya terperanjat mengenai perasaan yang tidak dikenalnya, berusaha melepaskan dirinya dari si pemuda.

Bagi si pemuda, yang sudah piawai, jelas sudah, bahwa ia telah menyentuh bagian yang paling intim didalam jantung bunganya. Dengan penuh perhatian ia memenuhi permintaan Harum dan pindah dari tempat yang menggelitik. dan hanya bergerak keluar masuk puri. Ketika si pengacau dengan seenaknya bergerak di wilayah kekuasaannya, tiba-tiba Harum mendapat keinginan untuk menghukum kekurang ajarannya dengan mencekiknya, sebuah hukuman yang adil.

Harum melepaskan tangannya dari pegangan kursi, memindahkannya ke punggung si pemuda, terus turun dan mencengkram bokongnya, sehingga ia mendapat pegangan kuat, untuk menarik si pemuda rapat ke tubuhnya, dimana si pemuda ikut membantu dengan merangkul pinggang kecil Harum dan sekuat tenaga menekankan pangkuannya kearah pangkuan Harum. Efek pendekatan intim – menjadikan posisi sesuai gambar no 3 – Memungkinkan Harum untuk mencekik pimpinan pasukan dalam jepitannya. Ketika si pemuda dengan sekuat tenaga menahan tekanan Harum, ia melihat bagaimana mata sayu Harum semakin memudar dan juga bagaimana sanggulnya menjadi kendor dan terancam terlepas.

„Hsin kan, hatiku, jantungku, sepertinya kau sudah hampir tiba – tapi di kursi ini kurang nyaman, kita teruskan di ranjang yuk! „, kata si pemuda terengah-engah dengan suara terpatah-patah.

Usul si pemuda tidak mendapat persetujuan Harum. Karena Harum sudah menjerat si pengacau dalam jepitannya, hanya tinggal sedikit lagi dan ia akan tercekik. Kesenangan ini tidak akan ia lepaskan begitu saja. Pada saat pindah dari kursi ke ranjang ia akan terlepas lagi. Tidak, tidak boleh ada gangguan! Harum menggoyangkan kepalanya dengan keras. ia merasa lelah dan lemah untuk pindah ke ranjang. Lalu ia berpura-pura memejamkan matanya.

Untuk menerima protes Harum, si pemuda memilih sebuah kompromi: Harum tetap dalam posisinya, dibawah bertahan pada bokongnya dan supaya tidak merosot merangkul leher si pemuda dan sambil menekankan mulutnya ke mulut si pemuda. Perlahan-lahan si pemuda mengangkat Harum dalam belitan intim ke kamar sebelah, untuk meneruskannya di ranjang.

Dalam gendongannya Harum tiba-tiba berteriak:

„Kekasih!…“

Pada saat bersamaan, ia membelit si pemuda lebih erat lagi, dan dari mulutnya keluar suara erangan yang terdengar seperti suara orang yang mau meninggal.

Bagi si pemuda sudah jelas, sekarang Harum akan tiba! Dan ia juga! Dengan kekuatan terakhir ia mendorong belalai gioknya ke bantalan stempel bunga.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s