Bab 6 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingNona „Harum“ kehilangan hatinya pada seorang lelaki tak berperasaan.

Kemudian – cukup lama keduanya tetap berpelukan dengan erat bagaikan „kematian seperti tidur“. Kemudian Harum terkulai, mendesah dan berkata:

„Apakah kau lihat tadi? – Aku baru saja meninggal“

„Masa sih tidak melihat! Tapi yang kau alami tadi itu bukan kematian, orang menamakannya sebagai ‚Menyerahkan energi'“

„Apa maksudnya dengan ‚Menyerahkan energi‘?“

„Pada pria seperti juga pada wanita, selalu ada ektrak saripati tubuh. Pada saat puncak gairah, salah satu pembulu darah dalam tubuh meluap dan melepaskan ekstrak ini. Didalam situasi sebelum pancaran, seluruh tubuh, kulit, daging dan tulang belulang mengalami semacam anestesi, semacam ‚tidur tak sadarkan diri‘. Proses fisik sebelum dan setelah dan selama pancaran disebut sebagai tiu ‚Menyerahkan energi‘. Seperti kau lihat di gambar no 5“

„Jadi aku tadi tidak meninggal?“

„Ah tidaklah! Kau telah menyerahkan energi!“

„Mulai sekarang, setiap hari, siang malam, aku ingin tak berdaya dengan cara itu“

Si pemuda tertawa terbahak-bahak.

„Nah, tidak salah kan, memberikanmu buku ini sebagai pemberi nasihat dan panduan? Apakah itu bukan harta tak ternilai?“

„Benar, sebuah benda berharga yang tak ternilai. Kita selalu bisa mengambil nasihat darinya. Hanya saja sayang, suatu hari temanmu akan memintanya kembali“

„Jangan khawatir, tidak akan. Buku ini aku membelinya. Cerita pinjam dari teman hanya untuk menipumu“

„Oh bagus!“

Sejak saat itu keduanya satu hati dan satu jiwa. Harum menjadi seorang pembaca buku „istana musim semi“ yang rajin. Sebagai seorang yang berpendidikan, ia juga berusaha mempraktekan apa yang dipelajarinya. Ia tidak pernah lelah mencoba semua perubahan permainan „Angin dan bulan“. Dari seorang „Si suci kecil“ yang rapuh, ia berubah menjadi sifu seni bercinta. Dalam usahanya, api musim seminya selalu mendapat kobaran baru melalui buku-buku baru.

Tanpa mengenal lelah si pemuda mencari buku-buku sejenisnya dari satu toko buku ke toko buku lainnya, antara lain Hsiu ta yi‰ shi „Kisah liar bantal tidur sutera sulaman“, atau Ju i k¸n chuan „Cerita jentelmen sesuai permintaan“, atau Chi po tze chuan „Cerita wanita mabuk cinta“ dan masih banyak lagi. Semuanya  sebanyak dua puluh buku yang dibelinya dan ditumpukan diatas meja tulisnya dirumah.

Setiap buku baru yang diperoleh, dilihat dan dilahap bersama, setelah itu disimpan di rak buku, untuk memberi tempat pada bacaan lainnya.

Dalam keserakahannya mencari temuan kesenangan ranjang keduanya tak ada puas-puasnya, sehingga tiga ratus enam puluh gambar yang melukiskan posisi „musim semi“ tetap tidak cukup. Seperti orkestra yang kekurangan suara intrumen untuk membuat keharmonisan dua hati yang sedang jatuh cinta.

Sejauh itu suasana hati antara keduanya sangat baik. Tetapi ada sesuatu yang menganggu yang membuat keharmonisan perkawinan keduanya menjadi sumbang.

Adalah hubungan yang tidak seimbang antara ayah mertua dengan anak menantu. Seperti yang sudah diceritakan, Doktor Pintubesi adalah seorang yang aneh, kuno dan penyendiri. Ia masih berpegang teguh pada tradisi kuno. Sejak malam pertama, dimana si pemuda masuk kerumahnya sebagai anak mantu, ia sudah tidak menyukai cara berpakaiannya yang terlalu modis dan gaya serta pemikirannya yang dangkal. Sudah sejak pandangan pertama ia tidak menyukai si lelaki pesolek ini. Terlalu banyak kelopak tapi tanpa buah, bukan lelaki yang cocok untuk anak perumpuanku bergantung di hari tua. Dan mulailah si pemuda digarap. Diantara ranjang dan meja tulis ia tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun, baik itu tingkah laku maupun cara berjalan, berdiri, duduk, tiduran, semua itu akan mendapat teguran keras, digurui dan diberikan peringatan keras.

Jadi Siucai-sebelum-tengah-malam sebagai anak tunggal dan ahli waris ayahnya yang mati muda, yang sudah terbiasa hidup mandiri. Bagaimana mungkin ia sanggup bertahan? Beberapa kali ia sudah hampir mengatakan pendapatnya dan ingin melarang kelakuan mertuanya yang menyerupai guru sekolah. Tapi ia teringat Harum. Sebuah pertengkaran terbuka dengan si tua akan mempengaruhi kerukunan perkawinannya. Jadi ia berusaha untuk menahan diri dan untuk sementara menelan semua kemarahannya.

Akan tetapi, ketika kemarahan yang ditelan tidak ada habis-habisnya, dan melebihi daya tahannya, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan:

„Sejak awal tujuanku hanyalah anak gadisnya“, katanya kepada dirinya sendiri. „Tetapi karena si tua tidak mau melepaskan anak gadisnya keluar rumah, maka aku masuk kerumahnya sebagai anak menantu, sebagai terimakasihnya ia menekanku seberat gunung Tai shan dan selalu menzalimiku dimana dan kapan ia sempat. Dengan hak apa? Atas dasar apa si tua sok pinter merampas hak-ku sebagai orang mandiri?

Sebuah keputusan diambilnya.

Sebenarnya ia ingin membicarakannya lebih dahulu dengan Harum, setelah itu baru permisi pada pada ayah  mertuanya. Tetapi ia khawatir, karena Harum tidak mau kehilangan kesenangan ranjangnya, ada kemungkinan ia akan menyulitkan rencana ini. Untuk menghindarinya, ia merubah taktiknya, dimana ia berembuk dengan ayah mertuanya dibelakang punggung Harum.

Dengan alasan ingin menyiapkan ujian S2 di ibu kota, ia meminta izin kepada si tua untuk meninggalkan rumah dan menanyakan pendapatnya tentang itu.

„Akhirnya, sebuah perkataan baik keluar dari mulutmu, setelah setengah tahun tinggal dibawah atap rumahku. Tentu saja aku setuju, sangat baik! sangat bagus! Kenapa aku harus menentangnya?“

Si pemuda melanjutkan:

„Tetapi aku masih ada masalah, Harum pasti akan menyalahkanku, apakah mungkin dibuat sedemikian rupa, sehingga ide ini seolah-olah berasal darimu?“

„Benar. Aku setuju“, kata Doktor Pintubesi menyetujui usul si pemuda. Dan dihadapan putrinya ia memerintahkan si pemuda untuk pergi ke Kota raja untuk menyelesaikan ujian negara. Tidak ada yang dapat diperbuat oleh Harum, selain menuruti keinginan ayahnya yang keras kepala.

Harum ketika itu sedang senang-senangnya bermain pengantin baru. Setelah mendengar ia harus berpisah dari kekasihnya, perasaannya ketika itu, bagaikan anak kecil yang ditarik paksa dari nenen ibunya, semula ia menangis dengan sedih. Tetapi karena itu keinginan ayahnya, ia hanya bisa menurutinya. Sebagai ganti rugi di hari-hari terakhir sebelum perpisahan, ia ingin si pemuda membayar hutang cintanya siang dan malam.

Dan begitulah jadinya, siang malam keduanya berpesta cinta tanpa akhir, menempel terus bagaikan lem ketemu cat, dan sekali lagi menikmati semuah keindahan cinta, yang secara umum adalah rahasia kamar tidur, dan tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang ketiga.

Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada ayah mertua dan istrinya, dengan diiringi oleh dua orang pelayannya suatu hari si pemuda melakukan perjalanan.

Petualangan aneh apakah yang akan ditemuinya diperjalanan, akan diketahui oleh para pembaca yang budiman di bab selanjutnya

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s