Bab 7 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_daging

Bermalam di sebuah penginapan  suram di pinggiran kota.

Tanpa tujuan tertentu Siucai-sebelum-tengah-malam pergi mengembara. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya adalah mencari kecantikan „yang tidak biasa“ dan itu yang membimbing langkah kakinya. Dimana ia nanti menemukan si cantik, disitulah ia akan tinggal dan menetap. Sehingga ia selalu berpindah dari satu kecamatan ke satu kota dan dari satu daerah ke satu prefektur. Tahun demi tahun pun berlalu.

Kemanapun ia pergi, dimanapun ia tiba, semua orang sudah mengenal reputasi tingginya sebagai seorang  Hsiu tsai (Siucai, pelajar) berbakat yang telah lulus ujian pertama negara (S1)  dengan predikat juara ke satu dan mempunyai masa depan yang gemilang. Singkat kata, dimanapun ia tiba, apakah hanya untuk tinggal sebentar atau lama, berita kedatangannya langsung tersebar ke daerah sekitar sampai radius seribu li (1 li = 0,5 km) diantara para akademisi, dan para pemuda segolongannya datang membanjiri untuk berkenalan dan mengundangnya ke klub-klub literatur. Dan tentu saja itu adalah yang paling terakhir dalam pikirannya. Ia tidak menyukai hiruk pikuk tentang literatur. Satu-satunya yang ada di alam pikirannya, yang menurutnya mendesak dan penting hanyalah bagaimana ia bisa menemukan ’si cantik yang tidak biasa‘.

Dari hari ke hari ia membiasakan dirinya untuk bangun pagi dan pergi berjalan-jalan meliwati jalan-jalan dan gang-gang, dan tanpa mengenal lelah melakukan pengintaian – Sayang hasinya nihil. Adapun perumpuan yang berhasil dilihatnya, seperti biasa hanyalah yang biasa-biasa saja. Tidak pernah sekali pun ia berjumpa dengan yang patut berpredikat Ti‰n tze (Secantik langit) atau Kwo so (Tercantik senegara). Dan dengan kecewa, ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain.

Suatu hari ia duduk sendirian di penginapannya. Sebuah penginapan suram di pinggiran kota. Kedua pelayannya sakit dan harus beristirahat di kamarnya. Tanpa diiringi pelayan ia tidak mau keluar. Ia khawatir nanti apa yang akan dipikir lady yang dijumpai di jalan, bila ia keluar tanpa pengiring? Pasti si lady tak akan menganggapnya sebagai seorang jentelmen. Jadi duduklah ia sendirian di ruang  tamu lantai bawah penginapannya dengan cemberut dan menghirup tehnya dengan penuh kebosanan. Sapaan seorang tak dikenal membetotnya dari lamunan. Ia adalah seorang tamu penginapan yang sedang minum arak di ruang sebelah, yang kemudian mendatangi mejanya.

„Tuan duduk disini sendirian dan terlihat seperti agak bosan. Aku yang rendah duduk diseberang sana dengan seguci arak murahan. Seandainya kau tidak berkeberatan, aku ingin mengundangmu minum secawan arak dimejaku?“

„Kita bertemu disini secara kebetulan bagaikan tanaman air yang hanyut di sungai. Bagaimana mungkin aku akan menganggumu?“ jawab si pemuda menolak dengan pura-pura menahan diri.

„Aku sering mendengar, bahwa kaum Siucai senang mengobrol. Jadi kenapa menolak? Apakah karena aku yang hanya rakyat biasa tidak sepadan denganmu? Aku sudah mendengar  tentang  karirmu yang tinggi dan masa depanmu yang gemilang. Sedangkan aku sebaliknya hanyalah rakyat kecil. Kau tidak usah khawatir nantinya aku menempel terus padamu, agar supaya ikut terangkat. Itu jauh sekali bagiku. Aku hanya senang berteman. Karena secara kebetulan kita bertemu disini, mengapa kau tidak mau menyempatkan diri, duduk sebentar dimejaku?“

„Mengapa tidak? Aku sedang merasa bosan dan mengharapkan bisa mengobrol“ kata si pemuda dan ikut ke mejanya si tamu penginapan. Setelah sedikit berselisih mengenai peraturan tempat duduk – si pemuda menolak tempat duduk kehormatan di kepala meja yang ditawarkan, ia lebih memilih duduk berhadapan dengan tuan rumahnya.- Kemudian mereka berkenalan satu sama lain dan seperti biasa si pemuda mengenalkan dirinya dengan nama julukan Weiyang Sheng ‚Siucai-sebelum-tengah-malam „.

„Dan apa nama margamu?“

„Sebagai putra seorang rakyat kecil, aku tidak memiliki nama marga, biasanya di dunia Kangow (sungai telaga) aku disebut Saikunlun „Saingan Kunlun“

„Sebuah nama julukan yang aneh dan tidak umum. Apa arti julukanmu?“

„Aku khawatir akan membuatmu terkejut, bila aku katakan. Dan kemudian kau tidak mau minum bersamaku lagi“

„Jangan khawatir, aku bukan penakut. Aku tidak takut pada setan dan hantu, seandainya mereka ingin memberi kehormatan dengan mengunjungiku. Juga terhadap sesama manusia aku tidak pilih bulu dan tidak menanyakan status dan pendidikannya. Yang penting bagiku adalah kecocokan satu sama lain. Jadi bicaralah dengan terbuka“

„Kalau begitu dengarkan, pekerjaanku adalah maling, rampok, bandit. Aku bisa memanjat tembok dan berjalan diatas genting. Benteng setebal ratusan lapis, menara setinggi seribu depa bagiku bukan halangan, aku bisa meliwatinya tanpa harus mengeluarkan tenaga yang berarti. Sampai ke ruang paling dalam, sampai ke kamar tidur, aku tahu caranya masuk. tergantung mauku, bisa saja aku menutup diriku dengan taplak meja dan kain, mencuri, tanpa orang lain bisa mengetahuinya, Kadang-kadang beberapa hari kemudian baru mereka mengetahuinya.

Didalam sejarah tradisi kita, ada diberitakan tentang seorang budak kulit hitam bernama Kunlun, yang hidup di zaman dinasti Tang (618-907) yang mempunyai prestasi besar dalam perampokan:  yang pada suatu malam berhasil mencuri keluar seorang budak cantik dengan nama Hung Hsio „Merah kemilau“ dari sebuah benteng perbatasan puteri Kuo, yang penjagaannya berlapis-lapis. Tapi prestasi budak kulit hitam gagah ini hanya itu satu kali, sedangkan aku telah melakukan tindakan yang mirip sudah ratusan kali. Oleh karenanya orang menyebutku sebagai Saikunlun „Saingan Kunlun“.

Wajah si pemuda memperlihatkan rasa kaget yang tidak sedikit.

„Apakah kau tidak bermasalah dengan pemerintah? Karena pekerjaan tersebut sudah kau tekuni sudah sejak lama dan bukan saja dikenal oleh rakyat banyak, juga sangat tersohor.“ tanyanya.

„Seandainya aku sampai tertangkap dan diseret ke pengadilan, maka aku bukan lelaki! Sebuah pepatah kuno berbunyi:

Bila kau ingin mengajukan seorang maling ke pengadilan,

Kau juga harus menunjukan barang buktinya.

„Dirumahku tidak akan ditemukan barang bukti hasil pencurian. Seandainya aku di introgasi, aku selalu punya alasan, sehingga tidak bisa dituntut. Bahkan sebaliknya, aku sangat dipandang oleh rakyat, baik dari jauh maupun dari dekat. Mereka sangat kawatir, bahwa mereka berbuat salah padaku dan menerima pembalasan dendam dariku. Tidak ada yang berani berbuat salah padaku. Selain itu aku juga punya kehormatan pekerjaan dan aku bukan bandit biasa. Ada lima kekecualian, yang bagiku adalah kehormatan untuk tidak melakukan pencurian: Manusia yang rumahnya sedang bahagia dan juga yang rumahnya sedang dirundung malang tak akan kuganggu, pada milik seorang kenalan baik aku tidak pernah turun tangan, rumah yang pernah kucuri tidak akan kudatangi lagi, manusia yang tidak mengkhawatirkan harta bendanya juga tak akan kuganggu.“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s