Bab 11 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaTeratai Emas menikmati kebahagiaan curian

Sambil menyeringai lebar ibu Wang mendekati Teratai Emas dan berkata: „Aku akan membeli arak bagus di Yamen, jadi perlu waktu agak lama, harap temani tamu kita. Di guci masih ada sedikit anggur, ambillah bila cawan kalian kosong“

„Tidak usah repot“ kata Teratai Emas, tetapi tetap diam di tempat. Ibu Wang menutup dan mengunci pintu dari luar. Kemudian duduk dengan tenangnya di teras rumah sambil memintal benang. Kedua pasangan terkunci dalam kamar. Teratai Emas menggeser kursinya sedikit. dan sambil sembunyi-sembunyi mencuri pandang pada Ximen. Ximen  menatapnya lewat matanya yang penuh kerinduan. „Apa margamu?“, akhirnya Ximen bertanya.

„Wu“

„Ah Wu“ Satu nama yang termasuk langka di keresidenan kita, Apakah Wu pedagang kue yang sering disebut sebagai si kerdil termasuk keluargamu?“

Teratai Emas mukanya menjadi merah. „Suamiku“ jawabnya dengan tertunduk

Ximen  terdiam, lalu tiba-tiba dengan emosi ia berteriak: „Tidak adil!“

„Apa urusannya denganmu?“ jawab Teratai Emas sambil melirik dari samping.

„Bukan aku, tetapi tidak adil bagimu“ Cepat Ximen  memeluk Teratai Emas, sambil mengeluarkan kata-kata rayuannya. Hawa panas sudah memenuhi dadanya, lalu ia melepaskan jubah luarnya dan berkata pada Teratai Emas: „Tolong letakkan jubah ini di ranjangnya ibu Wang“ tanya Ximen  memohon

Teratai Emas melepaskan diri dari Ximen. „Kerjakan saja sendiri“ jawabnya sambil menggigit-gigit lengan bajunya.

„Baik, akan kukerjakan“ Ximen  mengulurkan tangan, melempar jubahnya ke ranjang ibu Wang lewat meja. Dalam kesempatan itu, ia dengan sengaja lengan bajunya menyenggol  sumpit makan dari meja, dan jatuh bergulir ke bawah roknya Teratai Emas. Ketika Ximen  akan menghadiahkan arak dan makanan pada Teratai Emas, ia mencari sumpitnya

„Apakah itu sumpitmu?“ tanya Teratai Emas tertawa sambil menginjak sumpit tersebut dengan kakinya,

„Ya benar!“, jawab Ximen  pura-pura bingung, lalu membungkukkan tubuh, tetapi tidak untuk memungut sumpit, melainkan untuk mengusap usap sepatu bersulam Teratai Emas.

Teratai Emas tertawa kegelian. „Jangan begitu, nanti aku teriak“

Kemudian Ximen  menekuk lutut. „Ampunilah aku“ katanya, sambil tangannya merayap ke kaki atas Teratai Emas.

Menggeliat, kedua jemari tangannya terbuka, Teratai Emas berteriak: „Ai, manusia kurang ajar, nanti aku tampar kau!“

„Biarlah aku dibunuh oleh kedua tanganmu!“ Kemudian, tanpa memberikan kesempatan untuk membalas kata-katanya, Ximen  memeluk Teratai Emas dengan kedua tangannya dan meletakkannya ke atas ranjang ibu Wang. Di situ ia melepaskan ikat pinggang Teratai Emas dan menelanjanginya. Kemudian mereka menikmati kebahagiaan berbagi bantal. Mengingat Teratai Emas pertama kali dimiliki oleh si ‚kantung uang‘ Chang tua yang sudah lemah, dan kemudian dinikahkan dengan si kerdil Wu yang tenaganya tak seberapa, maka bisa dibayangkan kepuasan apa yang diperoleh Teratai Emas dari Ximen  yang sudah berpengalaman dengan permainan bulan dan angin. Awan sudah menumpahkan isinya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s