Bab 12 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaSaudara Yun mengamuk di kedai Teh

Ketika keduanya sedang berpakaian, tiba-tiba ibu Wang muncul dari pintu. pura-pura kaget, ia memukul-mukulkan tangannya sambil berteriak: „Ai, ai,  jadi begini!“ sambil menengok ke arah Teratai Emas ibu Wang berkata: „Aku memintamu untuk bantu menjahit, bukan untuk berselingkuh. Paling baik adalah, bila aku langsung mengatakannya kepada suamimu, supaya aku tidak disalahkan, dari pada nanti ia mendengar dari orang ketiga!“ sambil berbalik akan keluar.

Teratai Emas yang mukanya menjadi merah padam kemaluan, berkata sambil memegang roknya erat-erat.: „Ibu angkat“, kasihanilah aku!“

„Dengan satu syarat: Mulai hari ini, secara rahasia, kau harus melayani tuan Ximen  setiap saat. Apakah itu pagi, siang atau malam, bila aku memanggilmu kau harus datang. Kalau tidak, aku akan mengatakannya kepada suamimu.“

Dipenuhi rasa malu, Teratai Emas tak dapat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya..

„Jadi bagaimana, jawab, cepat!“  desak ibu Fong

„Aku mau“, jawabnya hampir tak terdengar.

Kemudian ibu Wang kepada Ximen : „Tuan besar, engkau sudah berhasil sepuluh per sepuluh bagian, ingat akan janjimu, kalau tidakÖ“

„Tidak masalah, ibu angkat, aku pegang kata-kataku“

„Masih ada satu hal lagi“ meneruskan ibu Wang, „Penjelasan dari kalian aku sudah peroleh, tetapi tanpa bukti nyata, tak ada harganya. Aku usulkan agar kalian masing-masing memberikan tanda mata satu sama lain“

Segera Ximen  meloloskan sebuah tusuk konde emas, dan menyelipkannya di rambut Teratai Emas yang terurai. Teratai Emas mencabut tusuk konde tersebut dan menyembunyikannya di lengan baju, karena ia khawatir terlihat suaminya. Ketika giliran Teratai Emas memberikan tanda mata, ia diam saja. Tetapi ia tak dapat menghindari ketika ibu Wang merebut sapu tangan Hangzhou dari lengan bajunya, dan memberikan kepada Ximen. Setelah minum beberapa cawan, Teratai Emas bangun dan permisi pulang lewat pintu belakang.

„Nah, hebatkan aku?“ tanya ibu Wang kepada Ximen  ingin tahu.

„Luar biasa!. aku berhutang budi padamu“

„Dan, apakah ia pandai bercinta??“

„Oh, ia adalah putri kandung dewi cintaÖ., tak dapat kulukiskan dengan kata-kata“

„Jadi, jangan lupa dengan tanda terima kasih yang sudah dijanjikan“

„Sesampainya di rumah, langsung kukirim upahmu“

Ibu Wang tertawa: „Mudah-mudahan aku tidak harus menunggu sampai ke luar dari peti mati untuk mengambil upah itu darimu“ Keesokan harinya ia menerima 10 potong perak yang berkilauan. Sudah menjadi pengalaman lama, bahwa uang membuat seseorang menjadi penurut. Mata ibu Wang yang hitam bersinar sinar penuh kegembiraan memandang gemerlapnya uang perak. Tidak cukup hanya dengan berterima kasih, ibu Wang pun memanggil Teratai Emas, meskipun ketika itu masih pagi dan suaminya masih berada di rumah. Ximen  mengira seorang bidadari turun dari langit ketika Teratai Emas muncul di kedai teh.

Mereka langsung duduk berdua, dengan lembut dan penuh rasa sayang, pundak bertemu pundak, kaki bertemu kaki. Ximen  mengambil kesempatan untuk memperhatikan kekasihnya, suatu kecantikan yang luar biasa bagaikan dewi bulan. Ximen  merangkul dan menekankan ke dadanya. Karena itu roknya tersingkap, memperlihatkan kaki kecilnya yang terbungkus sepatu brokat hitam. Ia mengusap roknya agar tersingkap lebih tinggi, langsung perasaan panas dinginnya muncul. Dengan penuh kasih sayang mereka minum dari mangkuk yang sama.

„Berapa umurmu?“ tanya Teratai Emas sambil lalu.

„Tiga puluh lima“

„Berapa istrimu?“

„Selain istri utama, masih ada 3 atau 4 orang selir, tetapi tak ada yang memenuhi seleraku“

„Dan berapa anakmu?“

„Hanya satu anak perempuan, cepat atau lambat ia akan menikah dan ke luar rumah“ Lalu Ximen  mengeluarkan sebuah botol keemasan dari lengan bajunya yang berisi semacam ramuan dari teh dan zaitun. Ia mengambil sedikit dengan ujung lidahnya dan memasukan ke dalam mulut Teratai Emas, mereka berpelukan erat satu sama lain sambil mengeluarkan suara mendesah dan mengerang. Ibu Wang cukup tahu diri, dan membiarkan keduanya bermain cinta. ia hanya mengurusi arak dan makanan.

Sejak saat itu, Teratai Emas setiap hari berada di rumah ibu Wang untuk mengadakan pertemuan romantis dengan Ximen. Belum ada setengah bulan berlalu, orang-orang sekitar sudah mulai membicarakan kejadian di rumah Wang. Hanya satu orang saja yang belum tahu, yaitu Wu Dalang. Seorang pemuda bernama Yun, penjual buah langganan Ximen, sedang berjalan sambil mengempit keranjang berisi buah pir yang berkilauan, ia ingin mengantar buah tersebut ke rumah Ximen. Di tengah jalan ia bertemu seseorang yang berkata padanya:

„Ai, Bila kau mencari Ximen, aku bisa memberitahukanmu di mana ia sembunyi“

„Di mana, katakanlah padaku, Paman tua“ desak Yun.

„Ia pasti sedang bersama nyonya Teratai Emas di kedai teh ibu Wang, pergilah ke sana, kau pasti menemukannya.“

Yun mengucapkan terima kasih, sambil mengempit keranjang buah pir ia melanjutkan perjalanan menuju kedai teh ibu Wang. Tetapi di kedai teh, ibu Wang tidak mengizinkan Yun bertemu Ximen, dan malah memukul Yun babak belur, karena Yun memaksa masuk.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s