Bab 10 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingPelajaran kasus wanita spesial

„Pencerahan luar biasa!“ Aku masih ada satu pertanyaan: Apakah para wanita pada saat yang menentukan begitu bebas seperti kita kaum lelaki ataukah ia berpura-pura menahan diri?“

„Dengan sedikit kekecualian, juga mereka begitu bebas seperti kita. Disini ada tiga macam desahan hasrat, perbedaan tipis yang hanya jelas ditelingaku dan sekelompok orang yang memiliki profesi seperti aku, yang terliwatkan oleh si pria yang bertempur dengan panas“

„Tiga perbedaan suara desahan hasrat yang bagaimana saja?“

„Pada saat pertempuran baru dimulai, ketika batinnya belum merasa bergairah, secara eksternal si wanita akan mengucapkan kata-kata seperti „Kokoku“, „Hatiku“, „Jantungku“ dengan harapan untuk menggairahkan partnernya. Pada desahan hasrat jenis kesatu ini, suara yang keluar dari mulut si wanita masih jelas dan mudah dimengerti.

Jenis desahan kedua akan terdengar, bila yang bersangkutan juga secara batiniah bergairah dan  merasa berdenyut dan menggelenyar sampai ke lima jeroan dan empat anggota tubuh hingga ke ujung jari tangan dan jari kaki. Napas atas tidak lagi nyambung dengan napas bawah, karena itu suara desahan hasrat menjadi kacau dan tidak jelas. Akhirnya yang ketiga, didalam stadium akhir ekstase, diatas puncak gairah, si wanita sudah sangat lemah, sehingga selain otaknya juga keempat anggota tubuh tidak lagi bekerja dengan benar; dalam keadaan begini, desahan hasrat menyangkut di tenggorokan dan menjadi suara desahan yang tidak jelas tanpa arti yang jelas.

Pada suatu kesempatan aku pernah mendengar tiga macam suara desahan ini dari dekat dan dapat membedakannya. Selama pasangan masih terlibat dalam pertempuran, terdengar suara desahan – sebagian suara teriakan – terdengar dengan jelas ke tempat persembunyianku yang sebelumnya agak jauh, tapi menjelang akhir si wanita membisu dan tidak bergerak lagi, dari tempatku terlihat seolah-olah ia telah dibunuh oleh suaminya. Aku merayap lebih dekat lagi dan berusaha mendengarkan. Disana aku toh masih bisa mendengar suara lemah tapih lebih mirip dengan desahan yang terputus-putus, dan tidak dapat identifikasi, apakah ada perkataan tersembunyi didalamnya. Dari situlah aku mendapat pengertian, seperti linglung, begitu terbiusnya seorang wanita sebelum ekstase. Jadi, sekarang kau mendapat gambaran tiga macam suara desahan hasrat seorang wanita.“

Si pemuda sendiri seolah-olah seperti terbius ketika mendengarkan dan duduk membisu sebentar dengan mulut terbuka. Sementara itu diluar sudah terang tanah. Ia menahan pertanyaan utama atau lebih tepatnya perhatian utamanya, yang masih ada didalam hatinya, sampai waktu makan sarapan bersama.

„Tidak! bahwa aku bertemu denganmu dan mengangkat saudara! – Aku menganggapnya sebagai keistimewahan terbesar, yang diberikan nasib untuk tiga eksistensiku! Kau tahu, apa itu artinya bagiku: seluruh milikku, hidupku! Baru setelah kau membuka mataku!  Tanpa kau – tak terbayangkan, bagaimana salahnya pemikiranku tentang wanita dan cara penanganannya!

Dalam hal ini aku mempunyai satu permintaan kepadamu: Engkau kan sudah begitu banyak mendengarkan dan memperhatikan wanita cantik di kamar tidurnya hingga kau memiliki keahlian tentangnya – Dapatkah kau membantuku untuk dapat menemui yang tercantik diantaranya? jika wanita itu memenuhi selera dan benar-benar terbukti sebagai kecantikan luar biasa.

Aku tidak perlu menyembunyikannya darimu, nasib baik telah membuat diriku sedemikian rupa: Bahwa aku hanya perlu melirik seorang wanita, tanpa harus mengikutinya, sebaliknya ia akan mengikutiku. Jadi setelah itu kau tak perlu membantuku lagi. Hanya untuk pertemuan pertamanya saja, aku memerlukan bantuan persaudaraan dan kesaktian darimu. Dapatkah kau mengabulkannya?“

Bandit Kunlun menolak sambil menggoyangkan kepalanya.

„Tidak bisa. mendatangi sekali lagi rumah yang pernah kucuri dan selain itu mencuri istri terhormat dan anak gadis baik-baik – tidak, itu melanggar prinsip dasar kehormatan pekerjaanku. Aku tidak bisa.

Sebagai gantinya, mulai hari ini aku akan melihat sekeliling dan membuka mata untukmu. Jika nanti aku entah dimana menemukan kecantikan yang luar biasa, aku tidak akan menganggu rumah itu untuk sementara dan mengabarkan padamu. Kemudian kita akan berembuk dan membantumu belajar kenal dengan yang bersangkutan, seandainya kau tertarik“

„Kau benar!. Tentu saja, bagaimana aku bisa begitu! Kesalahan yang tak dapat dimaafkan! Aku mempunyai mata dikepalaku, tapi tak melihat lelaki sejati dalam dirimu! Padahal kau kemarin sudah menjelaskan prinsip-prinsip dasar muliamu. Jadi, masih bolehkah aku mengharapkan bantuan persaudaraan darimu? Bagus sekali. Tetapi jangan lupa janjimu, bahwa kau tidak akan menganggu rumah si cantik! Jika kau serius ingin memenuhi permintaanku, percayalah, aku akan membayar bantuanmu dengan baik“

„Bayar? Kau kembali tidak melihat lelaki sejati dalam diriku meskipun kau punya mata dikepala. seandainya aku menginginkan upah, maka aku akan dengan mudah mengambil dompetmu sekarang juga. Aku bukan orang yang demikian. Bagiku sudah cukup, bila kau sudah menjadi pejabat tinggi, menutup kedua mata dan membiarkan aku, sekali-kali mengambil bagianku dari keberlimpahan hartawan. Bagiku itu sudah merupakan upah. Selain itu, kau harus percaya, jika aku sudah menjanjikan perkenalan dengan si cantik, maka aku akan menepati kata-kataku,  Selanjutnya untuk sementara kau tidak perlu lagi meneruskan pengembaraanmu. Tinggallah disini. Sewa disekitar sini sebuah tempat tinggal yang baik dan teruskan persiapan ujian negaramu. Tetapi jangan kau hanya mengandalkan diriku, juga bukalah matamu lebar-lebar dan  lakukan sesuatu atas inisiatif sendiri, jika pencarianmu berhasil. Dalam waktu yang bersamaan aku akan melakukannya untukmu dan mengabarimu, secepatnya setelah aku menemukannya. Dengan melakukannya secara terpisah, pasti kita akan berhasil.“

Si pemuda merasa sangat gembira dan menugaskan makelar rumah mencarikan tempat tinggal untuk disewa. Ketika akan berpisah, ia bersikeras untuk berterimakasih dan memberi penghormatan kepada kakak angkatnya dengan bertekuk lutut dan membenturkan dahinya kelantai sebanyak empat kali.

Petualangan apa saja yang akan dihadapinya, akan kalian ketahui di bab selanjutnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s