Bab 4 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamRacun Tawon Asmara

Si gadis cantik bertubuh menggiurkan yang bernama Cui Beng Kiam Hoa, masih menggeletak di pinggir jalan, setelah ditinggalkan oleh Bu Dian Long secara tergesa-gesa. Ke enam saudara nya ternyata mengejar ke arah yang salah, sehingga Cui Beng Kiam Hoa masih dalam keadaan tertotok tak berdaya. Hari sudah siang dan dia tetap saja belum bisa membebaskan totokannya.

Mata nya yang indah bagai bintang kejora plarak plirik mencari asal suara keresekan dedaunan.
Dari jauh dia mengenali ada seorang hwesio sedang berlatih silat, jari nya menunjuk-nunjuk seolah olah dia sedang bersilat menggunakan Pedang.

Cui Beng Kiam Hoa berteriak, “Hwesio Lo-Suhu tolonglah aku !”

Si hwesio gundul terperanjat, langsung melesat mendekati si gadis cantik. “Tolong bebaskan totokanku”, kata Cui Beng Kiam Hoa dengan suara lirih kepada si Hwesio.

Setelah melihat jelas keadaan si gadis yang setengah telanjang hanya dengan pakaian dalam tipis, yang memperlihatkan lekuk lekuk tubuh yang menggiurkan membuat hwesio itu tertegun
Si Hwesio jadi menggaruk garuk batok kepala nya yang gundul

\\\“Hei, keledai gundul, apa yang kau lihat! Mau tolong, ya tolong, mau enyah, silahkan enyah!\\\“
Dihardik begitu, si hwesio jadi makin kikuk malah. \\\“Baik, enyah ya enyah\\\“ kata hwesio tadi sambil beranjak pergi seperti khawatir akan sesuatu. Melihat si hwesio pergi begitu saja, si gadis menjadi makin kelabakan malah. Tiba-tiba entah muncul darimana, datang seorang pria yang sejatinya pasti seorang yang menarik, tetapi kali ini nampak kumal seperti sudah berhari-hari buron dari sesuatu. Yang menarik dari pria ini adalah kumisnya yang entah bagaimana identik sekali dengan sepasang alisnya.

\\\“Huh..hwesio jujur ternyata tidak sejujur namanya, melihat nona tidak berdaya, malah kabur”, gumamnya,” Hwesio yang aneh! Tenanglah, akan segera aku buka totokan nona\\\“, sambil berjalan menghampiri si nona.

Sebelum sampai dihadapan sinona, si pria berhenti bergerak, wajahnya menampakkan mimik ketakutan.

\\\“ Ma’af nona, bukannya saya enggan menolong nona, hanya saja malaikat penyabut nyawa telah datang!\\\“ katanya sambil kabur begitu saja.

Melihat kejadian yang terjadi didepan matanya, si nona hanya bisa bengong. Tahu-tahu berkelebat bayangan seorang pria melewati si nona belari kearah pria berkumis pergi tadi sambil ngendumel,”Orang she Liok, mau lari kemana juga pasti bisa kukejar”.
Setelah semuanya sudah lewat, si nona hanya bisa berteriak gegetun\\\“Sialan, siapa mereka!!!???”

Si nona semakin bingung, sudah tiga laki-laki yang muncul tapi mereka bukannya membantu malah sama-sama kabur. Benar-benar cocok apa yang dulu dibilang ibunya bahwa semua laki-laki memang tidak berguna. Dari lelaki biasa, lelaki bangsa pemogoran, dan terutama laki-laki macam hweeshio dan tosu yang mengaku bangsa peribadatan.

Cui Beng Kiam Hoa hanya bisa pasrah pada nasibnya sendiri. Padahal biasanya dia begitu teliti mengingat pengalamannya sudah lebih dari 2 tahun berkecimpung didunia kang-ouw menyelesaikan seluruh tugas gurunya dengan sempurna. Dia menganggap remeh Dian Long yang karena tampangnya agak ketololan ilmunya pun juga dianggapnya cetek, ternyata malah dirinya yang ketiban sial. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk memunahkan totokan Dian Long, tapi rupanya totokan itu terlalu kuat. Tanpa terasa setitik air mata jatuh ke pipinya. Semenjak dari perguruan dahulu mereka bertujuh adalah sosok-sosok gadis yang sangat dipuja, semua orang sangat memandang tinggi dan takut pada nama guru mereka. Siapa sangka kali ini saat menunaikan tugas dari gurunya malah seperti ini hasilnya. Tertotok tanpa daya dan terpisah dari keenam saudarinya.

Sedang Cui Beng Kiam Hoa bergelut dalam kebingungannya yang semakin menjadi, gerumbul semak didekat gadis itu kembali bergemerisik. Dengan penuh harap si nona menatap kearah datangnya suara. Namun teriakan yang sudah diujung lidahnya serta merta tertelan kembali, sedang air mukanya pucat laksana mayat. Bukan laki-laki atau perempuan yang muncul kali ini, melainkan ular kembang sebesar betis dengan mata tajam berkeredepan!

Hwesio yang pergi tadi ternyata tidak pergi jauh dari tempat Cui Beng Kiam Hoa terbaring. Hwesio itu sebenarnya bukanlah Hwesio biasa. Dia terkenal dengan nama Jai Hoa Hong-cu (Kumbang penghisap kembang) yang berpakaian hwesio tetapi bersifat cabul. Kedatangannya kedaerah ini sebenarnya untuk mencari Ban Su To Niocu yang terkenal akan kepandaian dan kecantikannya 30 tahun yang lalu. Ban Su To Niocu selain terkenal dengan kepandaian silat dan sastranya, dia juga terkenal dengan kepandaiannya memelihara binatang-binatang aneh. Konon katanya Ban Su To Niocu pernah memelihara seekor naga. Walaupun cerita ini berlebihan tetapi kaum kangouw cukup maklum kalau berita itu sangatlah mungkin terjadi jika melihat kebesaran nama Ban Su To Niocu atau si nona selaksa kepandaian.

 

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

aldisurjana, trulythe ,cersil, sepasang, pedang, matahari, dan, rembulan, jit, goat, siang, pokiam,

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s