Bab 1 | Kisah Kesatria dan Cinta | A Tale of Chivalry and Love

aldisurjana_aldi_surjana_novel_dinasti_ming_kisah_kesatria_dan_cinta_a_tale_of_chivalry_and_love_sinopsis_plotDi Ta-ming fu di utara Chi-li hiduplah dibawah dinasti sebelumnya seorang sarjana muda tingkat ke tiga bernama Zhongyu dari marga Tie, yang sangat ganteng dan anggun, bagaikan seorang gadis jelita. Oleh karena itu di daerah sekitar tempat tinggalnya secara gurau ia disebut „Si cantik Tie“. Dari penampilan luarnya yang anggun, orang mengira ia akan memiliki sifat lembut. Salah besar! Sifatnya begitu kaku bagaikan namanya Tie (besi), benar-benar sekaku besi.

Juga ia memiliki kekuatan otot yang luar biasa, jika bertengkar ia bisa berlaku sangat kasar. Sifatnya yang tertutup membuatnya jarang tersenyum. Jika ia berurusan dengan kenalan dari keluarga kaya dan elit, ia selalu memperlihatkan wajah yang membeku, bagaikan tertutup selapis es, pandangan matanya begitu dingin dan apatis. Tetapi jika ia berurusan dengan teman-teman sealirannya, tak peduli apakah orang miskin, maka sambil ditemani arak hangat, ia bisa mengobrol sehari penuh, tanpa ada tanda-tanda kebosanan.

Dan juga ia masih mempunyai satu keistimewahan. Jika seseorang membutuhkan pertolongan, ia selalu menolong tanpa bertanya apakah orang itu kaya atau miskin. Tetapi jika seseorang mendekatinya dengan cara menjilat dengan kata-kata muluk, maka ia akan berpura-pura budek. Jadi begitulah, banyak orang yang merasa berterimakasih padanya, tapi jarang ada orang bisa mendekatinya tanpa alasan tertentu.

Ayahnya Tie Ying adalah seorang abdi setia kekaisaran, menduduki jabatan Sensor di istana dan memiliki gelar akademi sarjana tingkat ke satu. Karena keberaniannya dalam menangani urusan-urusan yang tidak beres, ia sangat terkenal.

Ibunya, yang berasal dari marga Shi mengikuti suaminya ke tempat ia bertugas. Putranya ditinggal di rumah, karena dikawatirkan akan membuat ulah dengan sifatnya yang suka ikut campur urusan orang.

Jadi dari hari ke hari ia hanya berteman dengan buku-bukunya. Karena bakat dan pendidikannya diatas teman-teman seumurnya, maka hal itu telah membuatnya malas bergaul. Jika suasana hati belajarnya sedang bagus, maka ia menggunakan arak untuk membantu mengalirkan perasaannya ke dalam puisi.

Meskipun arak tidak membuatnya hingga mabuk, tetapi baik pagi maupun malam ia enggan minum arak setetespun. Tergantung perasaan hatinya, selain buku-bukunya, ia mencari selingan dengan mendaki gunung atau olahraga air atau mencari „rumah bunga“ yang menarik.

Ketika orang tua si pemuda umur enam belas tahun itu ingin menikahkannya, ia menolak dengan alasan:

„Putra kalian“, katanya, „tidak menyukai pergaulan, itu adalah bawaannya. Jika hanya sekedar berteman, itu bisa berpisah, setelah tidak ada kecocokan lagi. Tetapi dengan seorang istri tidak bisa. Dibawah lima hubungan dasar manusia, pernikahan letaknya paling atas. Oleh karena itu harus ada keselarasan antara kedua pasangan, jika diharapkan langgeng hingga kepala memutih. Oleh karenanya pernikahan itu tidak harus terburu-buru. Putra kalian meminta sedikit waktu, untuk dapat menemukan pasangan yang tepat.“

Kedua orang tuanya tidak dapat menentang alasan anaknya, dan sejak itu tidak mendorongnya lagi untuk menikah. Begitulah yang terjadi, hingga akhirnya ia mencapai umur dua puluh tahun, tanpa pernah berusaha mencari teman hidup.

Pada suatu hari, ketika ia sedang asyik membaca bukunya, ia sampai pada peristiwa, dimana si setia Pi Kan memberi peringatan kepada pangeran lalim Chou Hsin dan harus membayar mahal atas keberaniannya. Ia merenung dalam hati:

‚Apa yang dilakukan Pi Kan adalah benar, tetapi seharusnya ia menggunakan sedikit seni diplomatik. Seandainya ia berhasil menyadarkan tuannya tanpa membahayakan dirinya sendiri, maka ia akan terbukti sebagai lelaki sejati. Tetapi apa yang dilakukannya hanya membuat sang pangeran menjadi jengkel dan gusar, sehingga ia harus membayar dengan nyawanya. Jadi apalah gunanya kesetiaan? Kemudian sambil mengosongkan cangkir araknya, Zhongyu merenung lebih jauh:

‚Ayahku mempunyai jabatan sebagai Sensor, wataknya keras bagaikan tulang ikan, ia sama sekali tidak memiliki kelemah-lembutan, pasti suatu hari ia akan mengalami nasib yang sama seperti Pi Kan.‘

Dan ia merasa sangat menyesal, bahwa pada detik itu ia tidak dapat menggunakan sayap, agar secepatnya bisa menghadap ayahnya, untuk memberi peringatan. Pada malam harinya ia semalaman tidak bisa tidur, pikirannya gelisah.

Besok paginya belum saja terang tanah ia sudah bangun. Ia menyuruh pelayannya memasang pelana pada kudanya dan menyiapkan sedikit bekal untuk di perjalanan. Seorang pelayan tua kepercayaan mendapat tugas untuk mengurus rumah tangga selama ketidakhadirannya. Dengan ditemani oleh seorang pelayan pribadi bernama Siao Tan, ia melakukan perjalanan ke ibu kota untuk mengunjungi orang tuanya.

Bersambung: Setiap hari Selasa di blog ini 

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Kisah Kesatria dan Cinta“, atau A Tale of Chivalry and Love

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s