Bab 14  | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaWu Dalang diminumkan obat campur racun

Teratai Emas pulang ke rumahnya dan menghampiri Wu Dalang, pura-pura menyesal atas kejadian dengan Ximen, Wu Dalang mempercayainya dan memaafkannya. Atas permintaan Wu Dalang, Teratai Emas kemudian memasak obat dan diminumkan padanya. Tidak lama, Wu Dalang  pun menggelepar kesakitan sambil teriak-teriak: „Istriku, sakit sekali di perut“ rintihnya. „Aduh, aduh! aku tak tahan lagi“ Cepat Teratai Emas menutup Wu Dalang dengan selimut tebal hingga kepala. „Aku tidak bisa napas!“ teriak Wu Dalang.

„Itu akan membuatmu berkeringat, tabib yang mengaturnya“ gerutu Teratai Emas.

Wu Dalang berusaha untuk berteriak dari bawah selimut, tetapi Teratai Emas cepat menekan selimut yang menutupi kepalanya dengan kedua belah tangannya. terdengar dua kali suara tercekik dan erangan, kemudian Wu Dalang tak bergerak lagi. Teratai Emas menyingkap sedikit selimut. Gigi Wu Dalang menggigit selimut dan dari tujuh lubang di tubuhnya ke luar darah. Perasaan kaget menyentak Teratai Emas, ia langsung melompat ke arah dinding dan memukulnya keras-keras. Tak lama kemudian, ibu Wang  pun datang. „Selesai?“ tanyanya.

„Selesai“ jawab Teratai Emas lirih, „Tapi aku merasa sangat lemah“

„Kubantu kau“ Kemudian ia pergi ke dapur untuk mengambil air dan kain pembersih. Setelah bersih, mereka berdua menggotong jasad Wu Dalang ke bawah, dan meletakkan di ruang depan. menyisir rambutnya dan memakaikan pakaian serta topi.  Setelah itu mereka merapikan kamar tidur Wu Dalang dan menghilangkan bekas-bekas yang mencurigakan. Setelah ibu Wang pergi, Teratai Emas duduk di dekat jasad Wu Dalang, dan berpura-pura berkabung. Ada 3 cara untuk berkabung: menangis sambil menjerit jerit, menangis tanpa menjerit, dan menangis tanpa air mata dan tanpa jeritan. Teratai Emas berkabung cukup dengan cara yang ketiga.

Pada kentungan ke lima, ketika itu hari pagi masih gelap, Ximen  sudah berada di rumah ibu Wang. Setelah mendengar  semua kejadian semalam, ia memberikan ibu Wang uang untuk membeli peti mati dan perlengkapan perkabungan. Setelah itu ia memanggil kekasihnya. „Ia sudah mati?“, tanyanya pada Teratai Emas. „Aku harus mengandalkanmu, supaya nantinya tidak tersangkut“

„Jangan khawatir“ jawab Teratai Emas.“Bagaimana nanti, bila kau tidak setia padaku?“

„Kalau sampai begitu, biarlah aku mati seperti Wu Dalang“

Ibu Wang ikut bicara. „Masih ada satu hal yang harus dipikirkan, tuan besar. Sebelum di masukan ke dalam peti mati, akan datang seorang peninjau jasad, tuan Hou Kiu, ia seorang yang teliti dan cerdik“

„Ha ha, itu akan aku urus, nanti aku akan menemui tuan Hou Kiu, pasti ia akan menuruti kemauanku“

„Dan lakukanlah secepatnya, kita tidak boleh kehilangan waktu!“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s