Bab 11 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingMenyortir wanita pilihan dan mencatatnya di daftar nama.

Setelah berpisah dengan teman baru dan saudara angkatnya, si pemuda pergi mencari tempat tinggal. Secara aneh pilihannya jatuh pada sebuah kuil. Kuil yang ditahbiskan dengan nama Dewa Cinta Chang Hsian (Dewa Peregang Busur), dewa pelindung untuk gadis yang mendambakan cinta dan wanita muda yang menginginkan anak. Atas bantuannya mereka mengharapkan menjadi enteng jodoh dan mendapatkan karunia anak. Kuil tersebut hanya memiliki sedikit kamar tamu, yang disediahkan untuk orang asing yang sedang dalam perjalanan, dan karena itu harga sewa yang diminta para pendeta serakah pun tidak kecil, sebesar dua keping uang perak per bulan untuk sebuah kamar tamu. Untuk setengahnya dari harga itu, di tempat lain si pemuda bisa mendapat rumah sewa bagus dengan tiga kamar.Mengapa ia memboroskan uangnya untuk tempat tinggal di dalam kuil?

Yang menentukan bagi si pemuda adalah karena kuil tersebut banyak dikunjungi wanita dari dekat maupun dari jauh. Kuil yang setiap harinya dipenuhi oleh wanita, memberikan kesempatan emas pada pemuda kita, yang memang sudah diperhitungkannya, untuk memperhatikan dan mengawasi parade gadis setempat dengan santai. Meskipun ia harus membayar mahal untuk sewa kamarnya, tapi terbukti sangat menguntungkan, karena sebagian besar pengunjung kuil adalah wanita muda, berlainan halnya dengan kuil-kuil lain yang hanya dikunjungi oleh wanita umur pertengahan hingga lebih tua, yang sudah tidak memohon dikaruniakan anak lagi.

Sebaliknya dengan kuil ini, dimana orang memohon enteng jodoh dan dikaruniakan anak lelaki, selalu dipenuhi oleh wanita muda, wanita berumur paling hanya satu, dua sebagai pengiring atau pengantar.

Pada gadis muda yang berumur antara empat belas hingga dua puluh tahun, mereka tidak harus cantik, kesegaran remaja membuatnya jadi menarik, pesona bunga persiknya sangat mengagumkan. Sehingga dari sepuluh wanita muda, pasti ada dua atau paling sedikit satu yang mendapat perhatiannya.

Si pemuda melakukannya dengan sangat metodis. Ia membiasakan pagi-pagi sekali sudah bangun, sarapan dan mandi. Kemudian ia mengambil posisi pengawasan di depan patung dewa cinta. Ia selalu mondar mandir sambil matanya selalu mengawasi pintu masuk kuil. Begitu dari jauh ia melihat wanita masuk, secepatnya ia bersembunyi dibelakang patung dewa. Tanpa terlihat, dari celah kecil diantara lengan dan jubah patung dewa ia mengintip peziarah yang sedang bertekuk lutut dan membakar dupa.

Ditengah pembacaan doa yang didengarkan oleh pendeta, pada saat peziarah wanita masih bertekuk lutut, si pemuda keluar dari tempat persembunyiannya dan secara mengejutkan berjalan meliwatinya, dan melalui ruang depan ke pintu masuk kuil.

Tentu saja kemunculannya yang tiba-tiba membuat yang sedang bersembahyang menjadi bingung, bahkan sebagian wanita dalam kesederhanaan mengira, bahwa si pemuda ganteng itu adalah dewa cinta sendiri, yang keluar dari patung kuil untuk mendekati mereka dan memenuhi permohonan ingin mendapat anak lelakinya. Dan mereka tetap bersikeras dalam ilusinya, sampai akhirnya melihat si pemuda di depan pintu kuil seperti manusia biasa turun dari tangga dan berjalan, dan barulah setelah itu mereka sadar, bahwa si pemuda bukan dewa, melainkan hanya mahluk bumi biasa saja.

Tetapi hingga para wanita menyadarinya, didalam hatinya sudah kepalang menyerahkan diri pada yang tadi dikiranya dewa cinta. Dan ketika akan pulang, masih melirik si pemuda asing di depan pintu kuil sekali lagi. Sebagian malah dengan sengaja atau tidak sengaja menjatuhkan sapu tangannya di depan si pemuda dengan harapan ia akan mengambilnya sebagai kenang-kenangan.

Keberhasilan semacam itu membuat si pemuda gembira dan harga dirinya yang memang tidak kecil menjadi membengkak luar biasa. Ia semakin yakin akan kehebatannya  dan menganggapnya biasa, bila si cantik yang paling bangga dan canggung sekalipun menyerah dihadapannya.

Untuk memperbaiki methode pencariannya ia membuat sebuah daftar. Daftar dalam bentuk buku catatan ini selalu dibawanya di kantong lengan bajunya. Didalamnya tercatat nama, alamat, dan penjelasan semua wanita yang mendapat perhatiannya, yang dilihatnya pada saat bersembahyang di kuil.

Di dalam daftarnya, paling atas ditulis dalam huruf besar, nama cantik (fenomena ‚musim seminya‘). Data yang bersangkutan – Nama, umur, apakah belum menikah atau menikah dengan siapa, alamat – Diperolehnya dari mulut pendeta, ketika membacakan teks yang diserahkan oleh peziarah dengan suara keras. Semua itu ditulisnya dengan rapih di daftar  catatan. Setiap nama mendapat nilai berupa lingkaran merah: satu lingkaran disamping nama berarti „Baik“, dua lingkaran merah berarti „Sangat baik“, tiga lingkaran merah berarti „Luar Biasa“

Sedikit kecewa, ia berkata dalam hati:

‚Aku dalam pencarian ‚kecantikan luar biasa yang sulit dicari lawannya‘. Dulu aku mengira istriku Harum adalah salah satunya, tapi ternyata banyak yang sejenisnya, ia tidak luar biasa, tidak bisa disebut tak terkalahkan. Tapi harusnya jenis tak terkalahkan ini ada, entah dimana dibawah langit!

Sama seperti ujian negara, selain Tan Hua, juara ketiga, dan Pang Yen. juara kedua, juga ada Chuang Yuan, seorang „Terhebat“, seorang juara kesatu. jadi begitu juga. diantara para wanita cantik, seharusnya menurut logika ada seorang Chuang Yuan.

Dimanakah gerangan ’si tercantik dari semua‘ bersembunyi? Mengapa kau tak dapat menemukannya? Tetapi aku mau dan harus mendapatkannya Wanita dan gadis yang aku lihat di kuil, dan dicatat di dalam daftarku, akan kugunakan sebagai cadangan, seandainya aku tidak dapat menemukan si tercantik. Kemudian aku akan memilih salah satu yang terbaik diantaranya. Tetapi untuk itu, aku masih akan menunggu beberapa hari lagi dan sementara itu terus mencari. Untuk selanjutnya aku akan meninggikan standar kualifikasi penilaiannya.“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s