Bab 15 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaHou Kiu kena sogok dan mengelabui langit

Sekitar pukul sebelas pagi, sebelum Hou Kiu memasuki rumah duka, ia bertemu Ximen  di perempatan jalan.  „Mau ke mana, kawan?“, Ximen  menyalaminya.

„Ke rumah orang meninggal, Wu Dalang tukang kue itu, hari ini ia akan di perabukan.“

„Tunggu, aku ada yang ingin dibicarakan denganmu“ Kemudian mereka masuk ke kedai arak, dan mengambil tempat di ruang atas. Mereka minum sambil membisu. Ximen  mengeluarkan uang perak yang berkilauan dan meletakkan di atas meja „Kawan, terimalah pemberianku,

Hou Kiu menggerakkan tangan tanda menolak „Untuk apakah? Apakah tuan besar ada perintahÖ.“

„Sudah, ambillah“

„Apa urusannya?“

„Urusan kecil, nanti, bila kau memeriksa jasad Wu Dalang, biarkan jasadnya tertutup selimut“

„Kalau hanya itu, aku kira ada apa. Dan sumbangan ini?“

„Bila kau tidak mau menerima uang kecil itu, aku akan menafsirkan sebagai penolakan“

Hou Kiu menaruh hormat yang sangat besar terhadap Ximen, karena ia tahu, pengaruhnya yang sangat besar di pemerintahan. Jadi ia mengambil uang tersebut dan meneruskan perjalanan. ‚Tentu saja, pasti ada sesuatu. Tetapi itu bukan urusanku. Uang ini datang pas aku lagi butuh. Sampai kedatangan Wu Song, pasti aku sudah punya jalan keluar‘ pikirnya sambil jalan.

Kedatangan Hou Kiu disambut oleh ibu Wang dan Teratai Emas memperlihatkan wajah memelas. Uang perak Ximen  sebanyak 10 Ons memperlihatkan kegunaannya. Hou Kiu hanya memeriksa jasad Wu Dalang sambil lalu, Ia membuka tutup kepala jasad dan melihat jari tangan yang membiru, bibir yang berwarna cokelat tua, kulit muka yang kuning seperti lilin, mata bengkak. Bahwa di sini telah terjadi suatu yang biadab, adalah hal yang mudah ditebak, juga kedua tukang pembakar jasad mengetahuinya. „Warna wajahnya mencurigakan“ katanya, „bibirnya memperlihatkan bekas gigitan, ruang mulutnya berdarahÖ“

„Omong kosong!“ kata Hou Kiu memutuskan pembicaraan. „Itu disebabkan oleh hawa panas, ayo terus, kerjakan!“

Kemudian mereka memasukan jasad ke dalam peti dan memakunya dengan ‚Paku panjang umur‘.  ibu Wang memberikan sedikit uang pada Hou Kiu setelah para pembakar jasad berlalu.

„Kapan akan di perabukannya?“, tanya Hou Kiu.

„Besok lusa, atas permintaan nyonya janda. Akan dibakar di depan tembok kota“

Hou Kiu permisi. Dan pada hari yang sudah ditentukan, jasad Wu Dalang  pun dibakar di depan tembok kota. Beberapa tetangga ikut melayat.  Pada mulanya, Ximen  merasa malu pada para tetangga. Ia selalu memutar lewat kedai teh ibu Wang. Tetapi kemudian ia masuk begitu saja ke rumah Wu Dalang, malah dengan dikawal oleh pelayan ciliknya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s