Bab 12 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingTertarik wanita dengan rambut ikal keriting di dahi.

Suatu pagi diluar kebiasaannya si pemuda tertidur. Ia merasa lelah dan lemah dan tetap berbaring di tempat tidurnya sampai agak siang. Tiba-tiba seorang pelayannya masuk menyerbu kedalam kamar tidurnya dan menguncang-guncangkan tubuhnya supaya bangun.

„Hsiang Kung (Tuan muda), cepat bangun! Si tercantik yang sudah sejak lama kau cari, sekarang sudah ada! Bahkan yang sama dengannya ada dua lagi! Lapor si pelayan tergesa-gesa.

Sekali lompat si pemuda turun dari pembaringan dan cepat berpakaian. Karena genit, seperti biasa ia menghabiskan banyak waktu untuk berdandan, menyisir rambutnya, mencari topi baru dan  berkaca dari depan dan belakang dengan sangat teliti.

Untuk mengambil tempat persembunyian biasa di belakang patung dewa sudah terlambat. Para wanita cantik sudah selesai dengan sembahyangnya dan sedang siap-siap untuk pulang, lapor pelayannya. Jadi ia mau memotong jalan pulangnya. Ia keluar dari pintu samping, mengelilingi kuil dari luar dengan langkah lebar, dan kemudian naik keatas tangga kuil, mengurangi kecepatan langkahnya, dan mengambil sikap berwibawa. Ia tiba pada waktu yang tepat, masih keburu untuk memotong jalan pulang para wanita. Ada dua remaja cantik, yang satu mengenakan busana warna perak dan merah bermotif, yang satu mengenakan gaun panjang warna hijau muda pucuk teratai. Keduanya disertai oleh seorang wanita cantik yang lebih tua. Ketiganya baru saja melemparkan puntung hio (dupa) ke asbak tembaga dan siap untuk pergi.

Si pemuda mendongakan kepalanya keatas, dan ingin berlagak, seolah-olah setelah perjalanan yang jauh dan melelahkan, akhirnya tiba ketempat tujuan yang sudah lama ditunggu, seperti dahulu pangeran Hsiang didalam mimpi bertemu seorang peri cantik diatas puncak gunung. Dengan kedua mahluk cantik ini, semua wanita lain yang tercatat dalam daftarnya dan lainnya yang pernah ia lihat, masih jauh untuk bisa dipertandingkan. Agak lama ia berdiri disana terkesima dengan mulut ternganga. Perlahan kemudian, pesona pun menghilang, kesadarannya kembali pulih dan secepat kilat ia mendapat inspirasi. Mereka sudah siap pergi, dan itu harus dihindari atau paling tidak ditunda. Dengan cekatan ia bertekuk lutut dan melakukan sembah sujut – oh bukan hanya sekali, melainkan secara beruntun ia membenturkan dahinya ke lantai. Perilaku bodohnya bukan hanya mengagetkan kedua pelayannya, juga pendeta kuil. Mereka mengira si pemuda sudah sinting, dan para wanita menjadi terkejut dan khawatir akan menjadi adegan yang tidak menyenangkan.

Sayang mereka tidak menyadari, bahwa dibelakang kepura-puraannya tersembunyi sebuah akal cerdik. Si pemuda memperhitungkan: jika ketiga wanita itu memiliki perasaan halus, maka mereka akan menganggap sembah sujut dan benturan dahinya sebagai penghargaan kepada mereka, sebagai ungkapan pemujaanku, mereka akan mengabaikan cara pemujaanku dan urusan tidak diambil panjang; Atau karena sangat menjaga kehormatan, mereka tidak bisa menerima cara pemujaan seperti itu dan urusannya menjadi panjang, kemudian aku akan beralasan, bahwa aku datang dari jauh dan datang ke kuil ini untuk berziarah, agar dikaruniakan anak. Karena didalam kuil sudah ada tiga wanita, aku tidak enak hati untuk masuk kedalam, sehingga hanya memuja dari ambang pintu gerbang saja. Ketiga wanita toh tidak akan tahu, bahwa sebenarnya aku sudah lama tinggal disini. Itulah pikiran yang yang tadi meliwati otaknya si pemuda

Begitulah perhitungan taktiknya yang agak aneh dan tampak lucu. Dan keberhasilan membenarkannya, Ketiga wanita tidak menyangka akal bulusnya dan percaya, bahwa si pemuda memuja dewa dari kejauhan serta memohon karunia anak. Mereka tidak mempermasalahkannya, dan menunggu hingga si pemuda selesai. Selama menunggu, terlihat prilaku ketiganya yang berbeda: Kedua wanita yang lebih muda, meskipun sekali-kali mengerling kepadanya, tapi dilakukan dengan begitu canggung dan menahan diri, sehingga sulit ditebak. Lain halnya dengan si cantik yang lebih tua, terlihat sekali ketertarikannya, dimana ia memandang si pemuda dengan mulut ditutupi tangan dan menghadiahkan sebuah senyuman. Yah, pada saat ketiganya akhirnya berjalan ke arah pintu keluar dan meliwati si pemuda, tanpa dapat dihindari ketiganya melemparkan lirikan membara kepada si pemuda, yang lebih dari hanya sekedar lirikan biasa.

Penuh kegirangan si pemuda berdiri termanggu-manggu dan memandang keluar dari ambang pintu gerbang, bagaimana ketiga wanita itu menaiki tandunya dan terus memandang tandunya hingga kemudian membelok sekitar satu li di pengkolan dan menghilang dari pandangan matanya.

Setelah itu baru ia mampu berbicara:

„Siapakah ketiga wanita yang tadi?“, tanyanya kepada pendeta kuil. Si Pendeta  tidak mau menjawab, ia sangat kesal dengan kelakuan si pemuda tadi dan berusaha untuk menahan marah.

Nasihat baik memang mahal. Pada acara pembacaan doa ia masih tidur di kamarnya, dengan itu semua keterangan tentang ketiga wanita, nama dan alamat menjadi terliwatkan, dan dari pendeta kuil tidak ada informasi yang bisa dikorek. Jadi bagaimana? Ia memaki dirinya sendiri, kenapa tadi tidak mengikuti tandu, untuk paling tidak mendapat tahu alamat rumahnya?, Kenapa ia tidak menyuruh pelayannya untuk itu? Untuk apa ia mempunyai pelayan? Didalam kekacauan tadi ia melupakan yang terpenting. Sekarang sudah terlambat. Tandu sudah pergi cukup jauh, tidak mungkin untuk menyusulnya. Dengan merengut dan tidak puas ia kembali kekamarnya didalam kuil.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s