Bab 6 Sepasang Pedang Matahari dan Rembulan

aldisurjana_sepasang_pedang_matahari_dan_rembulan_jit_goat_siang_pokiamJai Hoa Hong Cu saat itu telah membawa Cui Beng Kiam Hoa ke sebuah kuil kecil di pinggiran Bu Kee Chung. Begitu masuk dia segera bergerak cepat menawan para biksu disana, lalu melemparkan Cui Beng Kiam Hoa ke ranjang sambil tertawa-tawa.

Cui Beng Kiam Hoa ketakutan tetapi juga sangat marah, \\\“ Biksu jahat, apa yang hendak kau lakukan padaku? Bebaskan aku segera, mari bertarung hingga ribuan jurus. \\\“ Jai Hoa Hong Cu hanya tertawa-tawa saja, sambil mulai melepas pakaian luarnya.

Bu Dian Long yang sedang menuju arah sungai telah tiba di pinggir luar kampung Bu-kee-cung. Tiba-tiba dia mendengar bentakan marah seorang wanita disertai tawa cabul seorang pria di sebuah kuil kecil.

Cepat dia lari kekuil itu, mendobrak jendela tempat asal suara dan dilihatnya seorang Hwesio sedang menanggalkan baju seorang wanita yang tak berdaya. Wanita itu tampaknya tertotok sehingga tidak bisa bergerak untuk melawan.

Tiba-tiba saja dia mengenal wanita itu sebagai nona cantik yang tadi ditotoknya.
Celaka, totokanku rupanya membahayakan nasib nona cantik itu pikirnya.

“Berhenti !!!”teriak Bu Dian Long,”Berani kau berbuat tidak senonoh di kampung Bu-kee-cung ini. Benar-benar mencari mati”

“Huh, sudah jelas aku ada di luar kampung, kau saja yang banyak urusan”, Jengek Jai Hoa Hong-cu.

Begitu kata urusan selesai diucap, tiba-tiba saja Jai Hoa Hong-cu melesat kearah Bu Dian Long sambil jarinya menotok ke tenggorokan Bu Dian Long. Jai Hoa Hong-cu langsung mengerahkan ilmu andalannya Toat-beng Kiam-ci (Jari Pedang pencabut nyawa) dengan maksud mencabut nyawa pemuda itu dalam sekali gebrak

Tapi Bu Dian Long bukanlah pemuda biasa. Sebat sekali dia mengelak sambil memapak pinggir lengan hwesio cabul itu.

Terkejut Jai Hoa Hong-cu melihat gerakan pemuda itu, langsung disambutnya papakan pemuda itu dengan keras lawan keras.

Duarrrrr….. Jai Hoa Hong-cu terdorong mundur 5 tidakan. Tapi Bu Dian Long malah mental kearah Cui Beng Kiam Hoa tergeletak. Nyata-nyata tenaga dalam Bu Dian Long masih kalah setingkat.

Bu Dian Long jatuh menimpa Cui Beng Kiam Hoa tanpa bisa di elakkan lagi. Melihat perempuan cantik setengah telanjang, tiba-tiba saja racun tawon asmara menyerangnya. Birahi Diang Long memuncak seketika.

Pada saat itu Jai Hoa Hong-cu terkejut dengan lawannya yang masih muda tapi memiliki tenaga yang cukup handal. Segera dia meloncat kea rah Bu Dian Long jatuh sambil jarinya menotok ke ulu hati Bu Dian Long.

Bu Dian Long yang masih rebah diatas tubuh Cui Beng Kiam Hoa benar-benar terkejut dengan serangan maut itu. Kalau dia mengelak, tubuh mulus dibawahnya akan celaka. Terpaksa dia mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menyambut serangan Jai Hoa Hong-cu dengan tapaknya.

Kembali terjadi adu pukulan dengan tenaga dalam antara Dian Long dengan hwesio cabul itu

Duaarrrrr…..

Kali ini bukan Dian Long yang tergencet oleh tenaga pukulan hwesio cabul itu, justru Jai Hoa Hong-cu terpental bagaikan layangan putus.

Begitu Jai Hoa Hong-cu mendarat keras dan muntah darah, dia terkejut melihat wajah Dian Long seakan melihat setan gentayangan di siang hari.

Kulit Dian Long ternyata berbelang-belang kuning dan hitam bagaikan tawon. Inilah efek dari tawon asmara. Begitu racun tawon asmara menyerang birahi Dian Long memuncak disertai tenaga dalamnya naik tingkat berlipat-lipat. Tapi juga menyebabkan kulitnya berbelang seperti tawon.

Bersambung

Cerita hasil keroyokan bareng anggota serialsilat.com: 23.10.2007
Aminus, B_man, Kucink, Mel, Tembuyun Belitong, Trulythe (Aldi Surjana), Toan_ie, dan Zetta

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s