Bab 3 | Kisah Kesatria dan Cinta | A Tale of Chivalry and Love

aldisurjana_aldi_surjana_novel_dinasti_ming_kisah_kesatria_dan_cinta_a_tale_of_chivalry_and_love_sinopsis_plotSeorang kakek tua berambut putih keluar dari rombongan dan memasuki rumah.

„Siapa yang datang berkunjung? Pasti tuan yang disana itu kan?“ tanyanya sambil menunjuk dengan pandangan matanya ke arah Zhongyu.

„Tentu saja. Ia salah jalan dan ingin menumpang tidur di rumah kita.“

„Jika begitu halnya, kenapa masih nongkrong di depan rumah, bukannya menyiapkan makan malam untuk tamu?“

„Tamu kita tadi menanyakan tentang pemuda Weh, dan oleh karenanya ingin melihat ketika pemuda Weh lewat. Tetapi tolong jelaskan, bagaimana mungkin, perampokan manusia tanpa ada yang tahu, bahkan bayangan si gadis muda pun tak bisa diketemukan?“

Si kakek menjawab:

„Mengapa tak seorang pun melihat perampokan tersebut? Mengapa sampai bayangannya pun tidak ditemukan? Tentu saja, bila berurusan dengan lawan yang kuat, siapa berani membuka mulut dan melalui omongannya kena bencana?“

„Ah, tidak ada yang berani bicara!“

„dan, jika ada yang berani dan memberitahukan tempat persembunyiannya, belum tentu bisa mengeluarkannya.“

„Ah, pasti hidup si pemuda Weh dalam bahaya.“ kata si nenek menghela nafas sambil masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam.

Zhongyu mendengarkan pembicaraan suami istri itu dan dengan senyum dingin ia berkata:

„Begitu penakutnya kalian orang desa! Tetapi mungkin kalian salah informasi, kalau tidak, mana mungkin kalian mengeluarkan kata-kata yang sangat lemah.“

„Wah, paling tidak, aku telah mendapat informasi yang benar.“, jawab si kakek.

„Apa yang kau ketahui?“

„Tuan, kau bukan orang sini, mungkin kau tidak akan ikut campur urusan ini, jadi aku bisa bicara secara terbuka padamu. Nah, dimana menurutmu si nona disembunyikan?“

„Pasti di kamar tidur tuan penguasa,“

„Jika hanya itu, berarti bisa mengirim orang keluar masuk rumah untuk penyelidikan. Tetapi lawannya ini adalah seorang bangsawan tinggi. Atas jasa-jasa leluhurnya ia mendapat hadiah tanah berikut Istana untuk tempat tinggalnya, yang tidak boleh dimasuki siapa pun tanpa izin. Ketika belum lama ini keponakanku berada di ibu kota untuk menjual sayuran, ia melihat dengan matanya sendiri, bagaimana si nona dibawa masuk ke dalam istana.“

„Karena ia saksi mata, mengapa ia tidak mengatakannya kepada tuan Weh? Agar nanti dia bisa mengadakan penyelidikan.“

„Tidak ada gunanya. Selain itu, aku sudah berbicara dengan pemuda Weh, Tetapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ia ingin melakukan sesuatu, baik dari pandangan mata atau pun dari suara bicaranya.“

„dimanakah letak istana tersebut?“

„di luar tembok kota, hampir dua mil dari gerbang kota. Setiap orang tahu, tapi tidak ada yang berani kesana“

Percakapan berhenti di sini, karena si nenek telah selesai menyiapkan makan malam. Zhongyu kemudian kembali ke kamarnya, memakan makanannya dan tidur. Keesokan paginya, tepat setelah sarapan pagi, ia sudah bersiap-siap untuk berangkat, dan menyuruh pelayannya menimbang pecahan perak seberat setengah ons untuk tuan rumah yang ramah, serta mengucapkan terimakasih saat perpisahan.

Saat Zhongyu akan naik ke atas pelana kuda, si kakek mendekatinya lagi dan berpesan:

„Jika kau sudah berada di ibu kota, jangan sampai sedikitpun menyinggung obrolan kita kemarin malam, itu bisa berakibat buruk bagimu.“

„Jangan khawatir, omongan kemarin malam akan menghilang tanpa bekas bagaikan embun pagi“ jawab Zhongyu, dan melarikan kudanya ke arah Jalan Pos.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Kisah Kesatria dan Cinta“, atau A Tale of Chivalry and Love

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s