Bab 16 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaIbu Wang sibuk membantu perkabungan

Hubungannya dengan Teratai Emas semakin erat dan menggebu-gebu, sehingga terkadang ia 3 atau 5 malam tidak pulang ke rumah. Dua bulan sudah hubungan antar Ximen  dan Teratai Emas. Dan tibalah hari ke lima bulan lima, hari pesta perahu naga. Adalah sebuah alasan yang cukup bagi Ximen  untuk mengunjungi pesta pasar malam di kuil „Lima Gunung Suci“. Pulangnya ia mampir di kedai teh ibu Wang. Paling pertama ia menanyakan kekasihnya.

„Ibunya datang berkunjung“, lapor ibu Wang “ Coba kulihat ke sana“. Ibu Wang mendapatkan ibu dan anak sedang asyik berbincang sambil menikmati arak. Setelah basa basi dengan ibu Teratai Emas, ia memberi tanda kepada Teratai Emas, bahwa Ximen  menanti di kedai teh. Teratai Emas mendesak agar ibunya cepat pulang. Segera ia merapikan kamar dan membakar dupa wangi untuk persiapan menerima kekasihnya.

Setelah kematian suaminya, Teratai Emas tidak berkabung dengan benar, meja abu pemujaan disingkirkan ke pojok kamar dan ditutupi kertas putih. begitu juga dengan makanan sembahyang dilupakan begitu saja. Berbedak, berias dan menghias diri adalah kesibukan utamanya. Karena Ximen  sudah beberapa hari tidak mendatanginya, Teratai Emas menjadi agak sewot ketika menyambut Ximen: „Bandit tidak setia!, kau sudah tidak menginginkan aku lagi? Apakah sudah menemukan tautan hati yang baru?“

„Banyak urusan dagang, sayang! tetapi hari ini aku mengambil libur dan membelikanmu sedikit oleh-oleh dari pasar kuil.“

Ximen  memberi tanda kepada pelayannya Tai A’rl, yang mana langsung membuka tas dan nampaklah sejumlah perhiasan, seperti mutiara, bulu burung dari perak dan lain-lain, termasuk juga beberapa macam bahan pakaian. Dengan gembira Teratai Emas menerima semua hadiah itu, kemudian mempersilakan Ximen mengambil tempat duduk dan memerintahkan Ying’rl cilik untuk membawakan minuman. Sudah terlalu sering Teratai Emas menyiksa gadis kecil itu, sehingga ia menjadi sangat penurut.

„Tidak usah repot“, cegah Ximen, „Aku sudah memberikan sejumlah uang pada ibu Wang untuk belanja makanan. Hari ini aku ingin bersenang-senang denganmu“

„Oh, kebetulan aku sudah siap, karena tadi ibuku datang berkunjung. Kalau menunggu ibu Wang pasti masih lama, ayo kita mulai“ Sambil berbicara ia membelaikan kepalanya ke pipi Ximen  dan menjepitkan kakinya ke kaki Ximen. Sementara itu, ibu Wang sudah kembali dari belanja, lalu menghidangkan makanan lezat ke meja, antara lain: irisan daging angsa dan daging ayam, nasi dan beberapa rupa sayuran serta buah-buahan. Dengan kaki menempel kaki mereka duduk dan makan berdua. minum dari satu cawan yang sama.

Pandangan Ximen  jatuh pada sebuah alat musik yang tergantung di dinding, yaitu sebuah pi pa bertali enam. „Mainkan untukku sebuah lagu“, pintanya, “ Sudah lama aku mendengar, bahwa kau pandai memetik pipa“

„Ah, dulu aku pernah belajar. Kau pasti akan menertawakanku“

Ximen  menurunkan alat musik dari dinding dan menyodorkannya kepada Teratai Emas. Ia memandangi, bagaimana Teratai Emas meletakkan pipa ke pangkuannya, dan dengan jari tangannya yang indah, yang bagaikan terbuat dari batu giok, mulai memetiknya dan suara nyanyian lirih ke luar lewat bibirnya. Ximen  tak dapat menahan rasa kagum atas permainan gitar dan nyanyian Teratai Emas. Ia memeluki tangannya ke pundak Teratai Emas dan mencium mulutnya. „Siapa yang mengira, bahwa kau seorang seniman besar!“, aku sudah pengalaman di banyak „Rumah Bunga“, tetapi tak ada satu pun yang bisa menandingimu“

„kau berlebihan, hari ini kau sehati dan sejiwa dengan budak kecilmu ini, mudah-mudahan kau tidak melupakannya“

„Tidak akan!“ tegas Ximen, sambil membelai pipi Teratai Emas. Dengan suasana hati yang demikian, dan rasa cintanya yang meluap luap, ia mencopot sepatu satin yang tersulam berwarna-warni dari kaki Teratai Emas, dan menuangkan secawan arak ke dalamnya, lalu diminum habis. Kemudian ia mengunci pintu, membuka pakaian Teratai Emas dan bermain cinta di atas ranjang. Dapat disamakan bagai sepasang burung Hong atau dua ekor ikan kecil yang bermain dalam air. Teratai Emas memperlihatkan kepiawaiannya dalam bercinta, melebihi penjual cinta manapun.

Pada saat pasangan yang mabuk asmara bersenang-senang sampai jauh malam, ibu Wang dan Ying’rl cilik duduk menunggu di dapur. Akhirnya Ximen  memutuskan untuk berangkat pulang, dan tidak lupa ia menghadiahkan beberapa Ons pecahan perak pada ibu Wang.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s