Bab 13 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingBuku catatan wanita cantik senegara

Secara mekanis ia mengeluarkan buku catatannya. Lagipula ia memang seperti biasa harus mencatat. Tapi apa yang harus ditulis? Tidak ada informasi apa pun. Akhirnya setelah berpikir kesana kesini ia menulis:

„Pada tanggal sekian, bulan sekian: Pertemuan dengan dua wanita tercantik senegara. Nama, asal, tempat tinggal tidak dikenal. Sebagai gantinya ia mencatat penampilan dan pakaian.

Wanita ke satu, diduga berumur antara tujuh belas dan delapan belas tahun, mengenakan busana warna perak dan merah, sepertinya sangat sensitif, tapi masih bimbang, kemana harus mengarahkan perasaannya, pintu erotisnya belum terbuka.

Komentar: Ah, bagaimana mengambarkan kecantikannya dengan kata-kata? – Ia adalah sebuah batu mulia, yang juga harum, setangkai bunga, yang juga bicara -, mulutnya bagaikan buah cherry yang terbelah – bagaimana ia melangkahkan kakinya, membangunkan imajinasi luncuran burung layang.layang dan mengingatkan akan kecantikan bersejarah zaman dahulu, yang disebut Hsi Shi „si Burung layang-layang terbang“, yang disebuah pesta melalui tariannya yang lemah gemulai diantara piring-piring emas meja makan istana membuat tuannya bagaikan sebuah boneka yang kaki dan tangannya bisa bergerak-gerak. (Pangeran Fu Chai dari negri Wu, 5 abad sebelum Masehi) – juga alisnya sangat mirip dengan Hsi Shi, yang selalu sedikit terangkat keatas, bukan hanya seperti Hsi Shi ketika suasana hati yang suram, juga bila ia sedang ceria – matanya sedemikian rupa, seperti Yang Kweh Feh kedua (selir kesayangan Ming Huang, kaisar Tang, 8 abad setelah Masehi) selalu sedikit terbuka dengan  pandangan redup, bukan saja seperti Yang Kweh Feh bila ia sedang lelah dan mengantuk, melainkan juga bila ia sedang segar dan bugar – bila ia berbalik untuk pergi, kesan terakhir yang ditinggalkannya, tidak enak, gemerincing lembut dan dentingan sabuk gioknya, yang mengambang di telinga terasa seperti sentuhan emosi, yang masih lama bergaung didalam hati – lebih dari itu, jika juga untuk perpisahan masih menghadiahkan sebuah lirikan, yang meskipun hanya sedikit dari kelembaban kemilau musim rontok – siapakah yang tidak ingin memberikannya mahkota rahasia kepadanya diantara mahluk cantik, yang tumbuh tertutup didalam kamar perawan?

Wanita kedua, juga sebuah kecantikan senegara, berumur sekitar dua puluh tahun, mengenakan gaun panjang warna hijau pucuk teratai, memberikan kesan, seolah-olah sudah terbiasa dengan pandangan pria, tapi tampaknya kelopak bunga kewanitaannya belum pecah.

Komentar: Sebuah kecantikan dengan tubuh montok berisi, namun elastis dan lincah dalam gerakannya – Alisnya secara alamiah begitu indah melengkung, seolah-olah pelukis istana pun tak mampu melukiskannya lebih indah lagi -. Kulitnya yang  cerah dan segar alami. tidak memerlukan bantuan bedak dan riasan – bantalan dagingnya sangat ideal, dipertengahan antara gemuk dan kurus. Di sebuah kontes kecantikan, pasti ia akan menang sebagai juara ke 1.

Setelah selesai menulis, ia meletakan kuasnya dan berpikir:

‚Masih ada yang ketiga, wanita yang sudah lebih matang, dibanding dengan kedua wanita yang lebih muda juga tidak kalah cantiknya.‘ Kembali ia mengambil kuasnya, merubah judul ‚Dua kecantikan senegara‘  menjadi ‚Tiga kecantikan senegara‘, dan menulis:

Wanita ketiga, ia mengenakan pakaian warna langit malam di musim panas, sekitar pertengahan tiga puluh, dari penampilannya terlihat seperti sepuluh tahun lebih muda – secara keseluruhan ia sama cantik dan setanding dengan kedua yang lebih muda. – Jadi untuk apa meributkan prioritas utama, siapa yang lebih cantik?

Setelah selesai, ia menuliskan disamping kolom  yang seharus diisi dengan nama ketiga wanita tak dikenal itu masing-masing dengan tiga buah lingkaran merah, kemudian melipat buku catatannya dan menyimpannya seperti biasa di kantung lengan baju.

Sejak saat itu si pemuda sudah tidak tertarik lagi pada kuil Dewa Peregang Busur. Jika ia sekali-kali masih ke pos pengintaiannya di belakang patung dewa, itu dilakukannya hanya sekedar iseng dan tidak tertarik lagi pada wanita pendatang baru, yang datang bersujut dan berdoa. Pikirannya hanya kepada ketiga wanita cantik tak dikenal, yang merasuk kedalam sanubarinya. Dengan buku catatan dalam kantong, ia pergi mencarinya di kota, dengan harapan yang sama-samar, siapa tahu kebetulan bertemu, tapi tanpa hasil. Akhirnya ia teringat pada temannya si bandit Kunlun.

‚Dia kan disini kenal semua gang dan jalan, kenapa aku tidak bertanya padanya dan minta bantuan? – Tetapi masih harus dipertimbangkan: Ia toh sudah menawarkan untuk mencarikan wanita cantik untukku, mungkin sementara ini ia telah menemukannya? – Jika aku menceritakan hasil penemuanku sendiri kepadanya, mungkin ia akan berpikir, bahwa aku tidak membutuhkan bantuannya lagi dan merahasiakan temuannya, Selain itu aku tidak memiliki data apa pun tentang ketiga wanita tak dikenal. Bagaimana ia harus mencarinya? –

Sebaiknya kusimpan rahasiaku untuk sementara dan menunggu, apa yang akan diceritakan kepadaku. Ia sudah beberapa hari tidak mampir,  mungkin tidak lama lagi ia akan datang.

Sejak itu si pemuda menghabiskan waktunya dikamar untuk belajar, sambil dengan tidak sabar menunggu kedatangan temannya. Tetapi duduk dan menunggu membuatnya tersiksa. Suatu hari kembali ia pergi ke jalan, dan secara kebetulan ia bertemu temannya dijalan.

„Bagaimana kabarnya dengan janjimu?  Dan mengapa kau selama ini tidak pernah muncul? Apakah kau telah melupakan janjimu?“

„Jangan khawatir! Aku selalu mengingatnya. Hanya saja ada kesulitannya, bahwa meskipun aku menemukan banyak wanita, tapi hanya dengan kecantikan pukul rata, tak satu pun yang luar biasa. Baru kemarin aku menemukan satu, yang mungkin akan memenuhi standarmu, dan aku sedang dalam perjalanan, untuk menceritakannya kepadamu. Benar-benar suatu kebetulan, bahwa kita berjumpa di jalan.“

„Hebat! Kita ke kamarku saja, disana kita tidak terganggu“

Lalu keduanya pergi ke kuil. Si pemuda menyuruh kedua pelayannya menyingkir dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian sambil kepala berdekatan satu sama lain, mulailah dengan pelaporan dan perembukan.

Pembaca yang budiman, bila ingin tahu tentang asal usul dan tempat tinggal ketiga wanita cantik, yang sudah ditentukan oleh nasib, sebaiknya mengikuti petualangan pemuda kita di bab selanjutnya, meskipun nanti akan muncul suami naas atau kepala rumah tangga yang diselingkuhi pasangannya, dan akan membalas dendam kepada si pemuda.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s