Bab 4 | Kisah Kesatria dan Cinta | A Tale of Chivalry and Love

aldisurjana_aldi_surjana_novel_dinasti_ming_kisah_kesatria_dan_cinta_a_tale_of_chivalry_and_love_sinopsis_plotSetelah Zhongyu berkuda tiga mil, dari jauh ia melihat seseorang berlutut dan menangis di jalan sambil berseru dengan putus asah:

„Langit, Langit, mengapa kamu membiarkan aku menderita?

Setelah mengeprak kudanya dan tiba disamping orang itu, Zhongyu melompat dari kuda, melangkah ke arah orang itu, lalu menepuk pundaknya dengan ringan, dan berkata:

„Saudara Weh jangan putus asa, masalah ini tidak sulit, aku akan menjemput kembali permatamu.“

Dengan terkejut pemuda Weh memandang orang tak dikenal, yang kemungkinan besar anak bangsawan yang sedang bepergian dalam penyamaran.

„Kakak, kau pasti dari keluarga terhormat. akung, aku belum sempat mengenalmu dan saat ini aku sedang dirundung masalah. Bagaimana kau bisa tahu namaku? Partisipasimu menandakan, bahwa kau mempunyai rasa keadilan yang tinggi. Mengenai penderitaanku, aku tak ingin kau ikut terseret kedalam masalahku.“

Sambil tersenyum Zhongyu menjawab:

„Bagiku ini urusan kecil, bagaikan sengatan tawon atau kalajengking. Jika aku tak membereskannya, maka pahlawan hanya ada di jaman dulu, dan sekarang tak seorang pun punya keberanian. Izinkanlah aku membantumu.“

Keheranan pemuda Weh semakin besar:

„Kesiapsediaanmu untuk menolong, membuktikan sifat kependekaranmu. Maaf, karena sedang bingung dan suasana hati yang suram, aku lupa memberi hormat kepadamu. Bolehkah aku menanyakan namamu?“

„Untuk sementara kau tidak perlu tahu namaku yang tak berarti. Tetapi katakanlah, siapa namamu, dan ke mana tujuanmu sekarang? “

„Namaku Weh Peh dengan sebutan Lo Fu. Setelah aku mengalami kemalangan dengan dirampoknya tunanganku, sebenarnya aku mau membunuh dirI. Tetapi mengingat ibuku dirumah yang membutuhkan perawatan, aku harus bertahan.

Selain itu ada pikiran lain yang muncul. Bolehkah seorang bangsawan merampok gadis yang sudah dipertunangkan dengan seenaknya, tanpa mengindahkan undang-undang negara dan adat kebiasaan yang berlaku?

Karena tersiksa oleh perasaan pahit, kemarin aku menghabiskan sisa malam dengan gelisah bergulir kesana kesini dan akhirnya membuat dakwaan tertulis. Sekarang aku dalam perjalanan ke ibu kota, dan aku siap untuk mempertaruhkan seluruh hidupku yang menyedihkan ini untuk melakukannya.

aku ingin mendatangi ke enam kementerian dan enam sensor, dan ke semua kantor di tiga belas departemen, untuk mengajukan dakwaan hukum terhadapnya. Aku tahu betul bahwa permainan ini tidak seimbang. Ia orang terhormat yang kaya raya, sedangkan aku hanya orang miskin yang tak berarti. Tetapi masalah ini sudah diluar takaran.“

Disini pemuda Weh menyela pidatonya dan mengeluarkan selembar tulisan dari kantong lengan bajunya, yang ia serahkan kepada Zhongyu. Itu adalah surat dakwaan.

„Kakakku, silakan kau membacanya, dan kau akan mengerti duka citaku.“. tambahnya, menghela nafas pahit“

Zhongyu menerima surat tersebut dan membacanya dengan saksama. disitu ia melihat bahwa ayah dari calon istri pemuda Weh adalah dokter tingkat tiga Han Yuan dan perampoknya adalah pangeran Ta Kwai. Kemudian ia berkata:

„Surat ini ditulis dengan sangat bagus. Tapi karena masalah ini menyangkut seorang berpangkat, maka harus mengantarnya langsung ke kaisar, jika ingin mencapai keberhasilan. Bila kau menyerahkannya hanya kepada pihak berwenang, maka para pejabat akan saling menutupi, tidak ada yang mau memprosesnya dan menanggung risiko. Ini akan menjadi hal yang sia-sia dan menghabiskan tenaga, bila kau yang menyerahkannya secara pribadi. Percayakanlah kepadaku, mungkin hasilnya akan lebih baik.“

Dengan tangan terkepal menempel di dadanya pemuda Weh mengucapkan terima kasih sambil menjurah:

„Partisipasimu telah sangat membantuku, dan sekarang kau bahkan mau mengeluarkan tenaga demi diriku. Mana bisa aku hanya tinggal diam. Aku berpikir akan mengikuti jejak kudamu hingga ke ibu kota dan disana menerima perintahmu.“

„Tidak, jika kau ikut denganku memasuki ibu kota, maka tak terhindarkan bahwa kita akan menarik perhatian mata dan telinga orang dan akan menimbulkan kecurigaan. Sebelum sepuluh hari berlalu, aku akan mengirimkan kabar baik kepadamu.“

„Bagiku kau adalah bagaikan sayap ayam yang melindungi telurnya. Setinggi langit, seluas bumi adalah kemurahan hatimu. Tapi aku khawatir“, tambahnya dengan sedih, dan air mata menetes di matanya, „sudah takdirku harus menderita, dan sia-sia kau memberikan kebaikanmu padaku.“

„Apakah ada kesulitan yang tidak dapat diselesaikan di kolong langit untuk lelaki seumurmu? Berhentilah bertingkah seperti gadis muda, dan kuatkan hatimu agar mendapat keberanian.“

Dengan itu, Zhongyu memasukan surat ke dalam saku bajunya, mengangkat tangannya ke dadanya sebagai salam perpisahan, menaiki kudanya, dan ditemani oleh Siao Tan, dalam sekejap sudah melarikan kudanya.

Pemuda Weh berdiri di pinggir jalan, menatap kearah Zhongyu melarikan kudanya, Gejolak hatinya bercampur aduk antara gelisah, khawatir dan syukur. Apakah ia mengalami mimpi musim semi? Apakah ia harus menerima semua ini sebagai kenyataan atau ilusi? Jadi dia berdiri tertegun dan melongo, sampai bayangan si pengendara kuda lenyap dari pandangannya, lalu perlahan ia kembali ke rumahnya.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Kisah Kesatria dan Cinta“, atau A Tale of Chivalry and Love

 

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s