Bab 17 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaTeratai Emas mempertanyakan nasib

Satu bulan telah berlalu, tanpa sekali pun Ximen  pernah mengunjungi Teratai Emas. Sementara itu Ximen  telah berkenalan dengan seorang wanita kaya umur tiga puluhan, janda Mong Yuloh, dibawa ke rumahnya, untuk menggantikan kedudukan Cho Tiu’rl, istri ketiganya almarhumah, dan juga telah mengangkat dayang Sun Hsueo menjadi istri keempat.

Setiap hari Teratai Emas yang ditinggalkan hanya bersandar di tiang pintu sambil memandang hampa ke arah kejauhan. meskipun ia sering menyuruh ibu Wang pergi ke rumah Ximen, tetapi penjaga pintu tidak mengizinkan masuk dengan 1001 alasan. Dan Ying’rl yang juga sekali-kali disuruh mencari Ximen  bila ibu Wang berhalangan, tidak berani menghampiri rumah besar itu, ia hanya mengintai dari kejauhan. Dan bila kemudian gadis cilik Ying’rl itu pulang ke rumah tanpa hasil, maka ia akan dimaki dan diludahi mukanya, sebagai hukuman ia harus bertekuk lutut setengah harian tanpa makan dan minum.

Pada suatu hari di awal bulan Agustus, di musim panas. Teratai Emas memerintahkan Ying’rl menyiapkan air panas untuk mandi. Hanya dengan mengenakan baju tipis ia duduk di atas bangku. Apakah akhirnya hari ini ia akan datang? Untuk jaga-jaga ia telah menyiapkan sebakul penganan Lumpia hasil buatan sendiri. „Dasar lelaki tidak tahu terima kasih!“ geramnya beberapa kali dengan suara rendah.

Tak berdaya, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, Teratai Emas mencopot sepatu satin merahnya, dan melempar untuk mempertanyakan nasib, ia ingin tahu, apakah Ximen  masih ingat padanya atau tidak. Beberapa kali ia mencobanya, dan akhirnya menjadi bosan dan pergi tidur ke ranjangnya.

Dua jam kemudian ia bangun dengan uring-uringan. Ying’rl melapor, bahwa air mandi sudah siap. Teratai Emas ingat akan sebakul Lumpianya, dan menyuruh Ying’rl membawakannya dan dengan jari-jarinya indah ia menghitungnya. „Aku menggorengnya sebanyak 30 buah, sekarang cuma ada 29 buah. Mana yang ke tiga puluhnya?“

„Aku tidak tahu, mungkin kau salah hitung“, jawab Ying’rl

„Tidak mungkin, aku telah menghitungnya beberapa kali. Makanan itu disiapkan untuk tuan Ximen ! Beraninya kau budak hina mengambil sebuah!  Awas, akan kuberikan pelajaran supaya kau dengar kata!“ Dengan paksa Teratai Emas mencopot pakaian Ying’rl, dan mencambuk dengan cambuk kuda sebanyak 30 kali di punggungnya. „Sekarang kau mau mengaku tidak?“ bentaknya pada Yingërl, yang merintih bagaikan anak domba di sembelih. „Kalau tidak mengaku, akan kucambuk lagi sebanyak 100 kali!“

„Ya, ya“ tangis Ying’rl, „Jangan cambuk aku lagi! Aku telah memakannya sebuah karena menjadi bodoh saking kelaparan“

„Begitu ya! Dan kau telah menyalahkan aku, aku salah hitung! Beraninya kau main gila denganku!. Akan kupukul kau sampai sobek! Kau pelacur hina!“ Teratai Emas mencambuknya sekali lagi, lalu Ying’rl disuruh berdiri di sampingnya, dan diperintahkan untuk mengipasinya.

Setelah dikipasi beberapa lama, Teratai Emas mulai lagi: „Perlihatkan wajahmu ke sini! Aku akan mencakar dengan kukuku“ Dengan menurut, Ying’rl menyodorkan mukanya, dan kuku tajam menghunjam pipinya, membuat dua buah guratan berdarah. Setelah itu ia melepaskan Ying’rl yang malang. Teratai Emas sendiri menghampiri cermin, membersihkan dan membedaki wajahnya, lalu pergi ke luar ke tempat yang biasa. Dan kebetulan, pada saat itu ia melihat Tai A’rl pelayan tuan Ximen sedang berkuda. „Hai, mau ke mana?“ teriaknya kepada Tai Arl.

Tai A’rl turun dari kuda, dan mendekatinya. „Mau ke Komandan“ jawabnya, „Aku disuruh membawakan hadiah“ Setelah ditanya sana sini, akhirnya Tai A’rl memberitahukan, bahwa Ximen  telah menikah lagi dengan Nyonya Mong YulohÖ  Dan air matanya yang seindah mutiara  pun bergulir di pipinya. Ketika pelayan cilik Tai A’rl selesai dengan ceritanya, Teratai Emas menangis tersedu sedu.

„Jangan menangis“ hibur pelayan cilik itu. „Tuanku tak lama lagi akan ulang tahun, pasti ia akan datang ke sini. Tulislah beberapa kata, nanti akan kusampaikan padanya.“

Teratai Emas menitahkan pada Ying’rl, agar membawakan teh dan sepiring lumpia untuk Tai A’rl. Kemudian ia masuk ke kamar, menulis sebuah syair untuk Ximen  yang diberi judul „Kabar Bunga“. Ia melipatnya berbentuk segi empat, diberikan segel dan diberikan kepada pelayan ciliknya Ximen.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s