Bab 14 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingTiga wanita cantik

„Jadi, apakah selama ini saudara mudaku sudah mendapat pengalaman yang menarik?, tanya bandit Kunlun membuka pembicaraan, sambil duduk diatas sebuah bantal dilantai. “

„Tidak“, jawab Siucai-sebelum-tengah-malam berdusta, Ia khawatir, bila ia memberi tahu rahasianya, nanti saudara angkatnya merasa sudah tidak dibutuhkan lagi dan menyimpan penemuannya untuk dirinya sendiri. „Dan bagaimana dengan penemuanmu sendiri, yang tadi kau singgung?, sambungnya. „Siapa namanya? Dimana tinggalnya? Berapa umurnya? Bagaimana tampangnya? Ayo, ceritakan!“

„Penemuanku bukan hanya satu, yang sama ada tiga. Tetapi aku hanya menjanjikanmu satu. Jadi jangan tamak, hingga kau ingin memiliki ketiga-tiganya. Kau harus menentukan pilihanmu dan cukup puas dengan satu saja.“

Pemuda kita menjadi takjub. Tiga? bukankah ia sendiri menyimpan tiga di hatinya, yang tempo hari ia jumpa di kuil dan sangat menarik perhatiannya? Mungkinkah urusan ini menyangkut ketiga wanita yang sama? Suatu hal yang luar biasa. Maka ia akan memilih wanita yang lebih tua dulu, setelah itu merembet ke kedua wanita yang lebih muda, baginya itu bukan urusan yang sulit. Ia merasa sangat gembira, tapi tidak memperlihatkannya.

„Kau benar. Tentu saja aku hanya butuh satu. Keinginan untuk memiliki ketiga-tiganya adalah tamak“

„Baik, untuk itu kita sudah sepakat. Yang masih menjadi pertanyaan, yang mana yang kau ingini. Kalau masalah kecantikan, ketiga-tiganya cantik dan masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri – Dalam hal ini aku belum tahu, apakah kita mempunyai selera yang sama. Bisa saja, bahwa kau tak menyukai yang aku suka. Sebuah pertanyaan: Kau lebih suka yang montok atau yang ramping?“

„Tergantung. Baik yang montok maupun yang ramping, keduanya memiliki rangsangan tersendiri. Tetapi montok bukan gemuk, dimana pakaian terancam meledak dan ramping tidak boleh kekurusan, dimana tulang-tulang pada menonjol dipakaian. Jadi tergantung porsi yang tepat“

„Baik. Dengan demikian ketiga-tiganya sesuai dengan keinginanmu. Pertanyaan selanjutnya: Apakah kau lebih menyukai yang bergairah atau yang dingin?“

„Tentu saja yang bergairah. Jenis yang dingin ini menurutku sangat hambar, yang seperti ini biasanya hanya berbaring disamping dengan apatis, dan tidak melakukan apa-apa atas inisiatif sendiri. Bagaimana suasana hatiku bisa bersemangat? dari pada begitu, mending tidur sendirian. Tidak. jangan jenis yang dingin! Bagiku itu sesuatu yg sangat menyiksa!

Bandit Kunlun menggoyangkan kepalanya ragu-ragu. „Dengan demikian ketiga-tiganya tidak ada yang cocok untukmu“

„Begitu yah? Dari mana kau bisa tahu dengan pasti, bahwa ketiganya bukan jenis bergairah?“

„Untuk itu tidak perlu ada penjelasan. Sudah cukup, bila aku memastikan, bahwa ketiga-tiganya sama, dua belas per sepuluh bagian memenuhi syarat dalam hal kecantikan, tapi dalam hal gairah belum ada enam per sepuluh bagian.“

„Tidak apa-apa. Aku akan mengambil risiko. Yang paling penting ia cantik. Masalah kegairahan dalam percintaan itu bisa diajarkan. Aku berbicara dari pengalamanku sendiri.

Singkat kata, yang mana pun dari ketiganya aku terima, maunya sih  ketiga-tiganya. Semisalnya nanti ada kekurangan dalam hal gairah, tidak apa-apa – Aku tahu caranya mengusir kealimannya dan mengajarkan kegairahan.“

„Baik. Tapi masih ada pertanyaan lanjutan: Apakah kau ingin memiliki yang bersangkutan secepatnya, langsung setelah perkenalan? Atau kau akan mengambil risiko kehilangan waktu beberapa bulan sebelum kau dapat menikmatinya?“

„Jujur saja, aku sudah tidak tahan. Aku sangat membutuhakn seorang wanita  Bila aku tiga atau lima hari tidak mendapatkannya, maka aku akan bermimpi dan melepaskan kelebihan energi pada waktu tidur. Coba kau pikir, aku sudah lama meninggalkan rumah dan melakukan perjalanan dan entah berapa banyak pelacur yang aku tolak dalam perjalanan. Bisa kau bayangkan, bahwa aku benar-benar sangat butuh! Selama aku tidak bertemu dengan yang benar-benar luar biasa, aku masih bisa menguasai diri. tapi sekali aku bertemu dengannya, tak dapat di stop lagi. Semakin cepat semakin baik“

„Jadi, dua dari ketiga wanita harus kau lupakan. keduanya anak gadis keluarga elit Untuk dapat mendekatinya sangat sulit. Kau membutuhkan waktu tidak sedikit. Karena kau sudah terburu nafsu, hanya yang ketiga yang cocok. Juga tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Ia adalah istri seorang rakyat kecil, seorang pedagang sutera. Seperti yang pernah kukatakan padamu, aku tidak memasuki rumah keluarga kelas menengah dan rakyat kecil, tapi  demi kau, aku membuat kekecualian dan memasuki rumah pedagang sutera. Secara kebetulan, ketika aku sedang berjalan menyusuri sebuah jalan, di sebuah toko, dibalik tirai bambu aku melihatnya sedang duduk. Meskipun teraling tirai, aku bisa mengenali sosoknya. Wajahnya yang putih cerah sangat menarik perhatian – Bagaikan kilauan batu mulia atau mutiara, menembus tirai bambu. Kemudian pandanganku meraba tubuhnya – sebuah bentuk tubuh yang sudah mencapai kesempurnaan. – Bagaimana ia duduk manis dengan tenang, bagiku bagaikan seolah-olah aku memandang sebuah lukisan, lukisan wanita cantik yang tergantung dibelakang tirai. Aku berdiri terpesona dan memandang. Kemudian aku pergi ke seberang jalan dihadapannya dan terus memperhatikannya dari sana. Tidak lama kemudian, seorang lelaki menyibak tirai dan keluar. Seorang lelaki gemuk kasar. Mengenakan baju kerja lusuh dan memanggul satu balok sutera di punggungnya. Rupanya ia mau pergi ke pasar untuk menjual barangnya. Aku menunggu hingga ia lenyap dari pandangan mata, lalu aku bertanya-tanya pada tetangga sekitarnya. Kemudian aku mendapat tahu, bahwa rumah toko yang bersangkutan adalah milik seorang pedagang sutera bernama Quan. Karena kepolosannya, orang menamakannya Quan Laoshi „Quan si polos“. Si cantik, yang aku lihat di toko adalah istrinya Quan Laoshi. Tirai bambu yang menghindari pandanganku sangat menganggu.

Aku mau bermain aman. Aku biarkan beberapa hari berlalu, Lalu aku datangi lagi rumah yang tadi. Kembali ia terlihat sedang duduk dibelakang tirai. Kemudian aku membuat keputusan yang berani: Aku menyibak tirai dan masuk. Aku menanyakan pemilik toko. Aku mengatakan ingin membeli bahan sutera. Suaminya sedang keluar, tapi bila aku ingin membeli bahan sutera, ia akan memperlihatkan contoh kain untuk dipilih dan kembali duduk dengan tenang. Namun aku ingin melihatnya bergerak, agar bisa menaksir tubuhnya. Hingga kini aku hanya bisa melihat tangannya yang keluar dari lengan baju. Jari tangan kecil dengan bentuk yang indah! Jari tangan lembut yang sangat sempurna!  Seindah tunas teratai! Juga kakinya yang kecil sempat kulihat, ketika ia keluar dari bawah rok panjangnya. Ia mengenakan pantofel sutera biasa tanpa hak tinggi, yang sangat disenangi wanita, agar bisa berlenggok bagaikan ranting bunga tertiup angin. Juga aku tidak menemukan bantuan kosmetik, padanya semua asli, terutama pipi putihnya yang cerah, yang pada pertemuan pertama begitu menarik perhatian.

Tapi aku masih belum menemukan, bagaimana kulitnya dibagian tubuh lainnya, juga apakah bulatan-bulatan tubuhnya cukup tebal. Untuk dapat mengetahuinya, aku menggunakan akal lain. Aku menunjuk pada balokan sutera di rak paling atas dan ingin melihatnya, contoh bahan lainnya aku tidak tertarik, Tanpa bisa mengelak, dengan seluruh sosok tubuhnya ia bangun dan mengambilnya dengan tangan terangkat. Dan kau mesti tahu, ketika itu udara panas dan gerah, untuk itu ia mengenakan pakaian yang cocok, ia hanya mengenakan sehelai pakaian sutera mentah yang tipis. Singkatnya, bagaimana ia mengangkat kedua lengannya ke rak atas, lengan bajunya yang longgar turun kebawah dan memperlihatkan seluruh lengan telanjangnya yang seputih salju hingga ke ketiaknya. Dan bukan hanya itu! Karena pakaiannya yang tipis, memungkinkan aku untuk mengenali bentuk bukit kembar didadanya, turun naik dengan jelas. Aku bisa mengatakan padamu: Bulatan yang begitu sempurna! Dan kulit yang begitu bening dan sesegar salju! Setelah itu, aku membeli sepotong bahan sutera. Aku telah merepotkannya dengan berbagai akal bulusku, dan ingin meninggalkan kesan yang baik. Bagaimana dengan pilihanku? Apakah kau menyukainya? Inginkah kau memilikinya?“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s