Bab 18 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaPendeta pembakar papan arwah mendengar suara

Beberapa hari selanjutnya dihabiskan dalam penungguan, tetapi tidak ada reaksi dari suratnya, bagaikan melempar batu ke laut. Bulan ke tujuh hampir berlalu, ulang tahun sang kekasih semakin mendekat. Semakin dekat, waktu terasa semakin panjang, satu hari terasa tiga kali musim rontok, satu malam terasa setengah musim panas. Tak ada kabar, tak ada berita! Kekecewaan membuatnya kadang-kadang menggertak gigi dan berlinang air mata.

Pada malam hari ulang tahun Ximen, Teratai Emas memanggil tetangganya ibu Wang, menjamu makan minum dan memberikan sebuah perhiasan rambut perak berkepala emas dari rambutnya. Karena ia tahu benar, tanpa bayaran, ibu Wang tak akan membantu. „Tolong ajak dia ke sini“ pintanya. Ternyata penungguannya kali ini tidak sia-sia. Dari jauh terdengar sudah suara ibu Wang:

„Sekarang kau dapat mengucapkan selamat padanya dan berterima kasih padaku, nyonya muda!“ katanya sambil memasuki kamar. „Tidak sampai satu jam aku sudah berhasil membawanya ke sini“ Belum sempat nyonya Teratai Emas menenangkan diri dari kejutan, tampak Ximen  memasuki kamar sambil menggoyangkan kipas, kelihatannya masih agak mabuk.

„Satu kehormatan yang sangat besar!“ sambut Teratai Emas dengan sinis. „Kau telah menyingkirkanku, bayangan pun tak pernah terlihat! Tentu saja. bila kau dengan yang baru menempel seperti lem dengan cat, tak ada sisa waktu untuk budakmu ini“ Untung ibu Wang akhirnya ikut campur untuk melerai, menghindari percekcokan yang lebih parah. Kemudian Ying’rl masuk membawa nampan teh. Atas perintah nyonyanya ia meletakkan nampan lalu menghadap Ximen  untuk menyembah. Ibu Wang berpendapat, adalah waktu yang tepat baginya untuk menyingkir ke dapur. Selama Ying’rl meletakan makanan ke atas meja.

Teratai Emas mengeluarkan hadiah ulang tahun untuk kekasihnya dari sebuah peti besar. Ximen  merasa terharu, memeluk dengan kedua belah tangannya dan menciumnya. Sehari semalam ia tak pernah bergeser dari sisi Teratai Emas. Adalah sebuah pengalaman lama, bahwa kebahagiaan yang berlebihan biasanya berganti kesedihan. Ketika itu hari masih pagi, waktu untuk sarapan, kedua pasangan kasmaran belum bangun, di depan rumah sudah menunggu seorang kurir berkuda. Ia adalah utusan Wu Song.

Wu Song sudah menyelesaikan tugasnya di ibu kota. Dalam perjalanan pulang ia mengutus seorang serdadu pengantar surat pada Wu Dalang untuk memberitahukan kedatangannya. Ibu Wang menerima surat tersebut dari kurir dan memasuki rumah Teratai Emas. „Bangun!, bangun!“ teriaknya, tadi ada kurir dari Wu Song, ia membawa surat untuk Wu Dalang. Tidak boleh kehilangan waktu, harus secepatnya membuat keputusan!“

Mendengar itu Ximen  merasa seolah olah kepalanya dibelah delapan, bagaikan dipendam dalam gentong berisi salju. Dalam sekejap ia dan Teratai Emas bangun dan cepat berpakaian. Kemudian mereka mempelajari isi surat Wu Song di ruang tamu. Di situ tertulis, bahwa Wu Song paling telat pertengahan musim rontok sudah tiba. Keduanya gemetaran sampai ke kaki dan tangan saking ketakutan, dan buru-buru meminta nasihat dari ibu Fong.

„Urusannya sangat mudah“ kata ibu Wang menenangkan. 100 hari berkabung Wu Dalang hampir berlalu, Teratai Emas tinggal memanggil pendeta untuk mengadakan upacara pembakaran papan arwah, dan secepatnya sebelum Wu Song tiba, dengan tandu memasuki rumah Ximen  sebagai istri.“

„Luar biasa!, akan kita kerjakan begitu!“ kata Ximen  membenarkan. Kemudian keduanya dengan tenang menikmati sarapan.

Hari ke enam bulan kedelapan, hari terakhir 100 hari perkabungan Wu Dalang telah tiba. Dengan beberapa Ons pecahan perak, Ximen  hadir menemani Teratai Emas. Enam orang pendeta tiba untuk membacakan doa dan membakar papan arwah. Kepala  pendeta sudah datang sejak dini hari pada kentungan ke lima, membawa satu pikul buku-buku doa, menyiapkan keperluan upacara dan menggantungkan sebuah gambar Buddha. Kemudian ia bersama ibu Wang di dapur menyiapkan makanan sembahyang. Dari semua kesibukan itu, Ximen  memilih menemani Teratai Emas di ranjang.

Menjelang tengah hari, upacara yang terus berlanjut meminta Teratai Emas sebagai orang yang paling berkepentingan untuk memasang dupa upacara dan menanda tangani kertas doa. setelah selesai ia kembali ke kamar tidur untuk menemani Ximen  di ranjang. Kebetulan seorang pendeta berada di kamar mandi, di sebelah kamar tidur janda muda itu, yang hanya dipisahkan oleh dinding kayu tipis. Ketika pendeta hendak mencuci tangan ke sebuah tong air yang letaknya tepat di bawah jendela kamar, ia mendengar suara orang bercinta, lengkap dengan percakapan, erangan dan rintihan.

Pendeta yang kemudian berkumpul lagi dengan teman-temannya, menceritakan semua yang ia dengar di bawah jendela tadi. Pada saat mereka siap-siap untuk pulang, Ximen  memberikan upah mereka

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s