Bab 19 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaXimen dan Teratai Emas menikah secara diam-diam

Pada hari lainnya, Teratai Emas mengundang ibu Wang untuk makan perpisahan, dan sekalian menitipkan gadis kecil Ying’rl di bawah pengawasan dan perawatannya. Sedikit khawatir Ximen  bertanya: „Seandainya aku tahu, apa yang harus aku lakukan agar supaya Wu Song tidak akan mendapat tahu mengenai perkawinan ini?“

„Biarlah, nanti aku akan mengurusnya, tuan besar!“ jawab ibu Wang menenangkan.

Dengan senang hati Ximen  menghadiahkan tiga Ons uang perak pada ibu Wang. Pada malam itu, Ximen  memerintahkan, untuk memasukan semua milik Teratai Emas, yang diperolehnya setelah berkenalan dengannya, ke dalam peti dan koper. Beberapa barang bekas, seperti meja rusak, bangku dan pakaian yang sudah tidak dipakai lagi, diberikan kepada ibu Wang.

Pada keesokan harinya, hari ke delapan bulan ke delapan, Ximen  memboyong kekasihnya yang berpakaian serba mewah, dengan sebuah tandu. Ibu Wang mengawal iring-iringan tersebut bersama pelayan Tai A’rl dan empat orang pemegang lentera. Tentu saja iring-iringan itu menjadi perhatian orang-orang di sekelilingnya, mereka sudah paham kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di rumah itu, tetapi karena takut dengan kekuasaan uang Ximen  mereka tak berani mengatakan apa-apa. Tetapi ada satu puisi ejekan beredar, yang isinya mengejek kelakuan Ximen, Teratai Emas dan ibu Wang.

Sebuah paviliun indah, 3 lantai, yang tersembunyi di pojok taman pekarangan tanah milik Ximen, dirapikan untuk tempat tinggal Teratai Emas. Dikelilingi taman yang indah, serta dihiasi pot-pot tanaman. Sebuah tempat nyaman yang tersembunyi, sehingga sepanjang hari tak ada orang yang menginjakkan kakinya ke sana. Ximen  sangat memperhatikan perlengkapan kamar tidur, yang telah menghabiskan uang sebanyak 60 Ons uang perak. Untuk itu ia memperoleh: Sebuah ranjang hitam besar yang dipenuhi lukisan emas dengan kelambu sutera merah yang bermotifkan gelang-gelang emas, sebuah meja rias bermotifkan Bunga dari batu permata dan gading gajah, serta beberapa kursi empuk terbungkus sutera berwarna-warni.

Nyonya Bulan, istri utamanya, memiliki dua orang dayang bernama Chunmei „Bunga Prem“ dan „Seruling Kemala“ untuk melayani kebutuhan pribadinya. Ximen mengatur agar Bunga Prem untuk selanjutnya hanya melayani Teratai Emas dan harus tinggal di paviliunnya. Bunga Prem harus menyapa Teratai Emas dengan sebutan nyonya. Selain itu Ximen  membeli juga seorang pelayan dapur untuk Teratai Emas bernama „Bunga Aster“ seharga enam Ons uang perak dan untuk Nyonya Bulan seorang dayang pengganti bernama „Permata“ seharga lima Ons uang perak.

Teratai Emas mendapat kedudukan sebagai istri kelima. karena seperti sudah diceritakan sebelumnya, istri-istrinya sudah bertambah dengan istri ketiga dan istri keempat. Pada hari kepindahannya ke rumah Ximen, Teratai Emas menghadap ke kamar Nyonya Bulan, untuk memperkenalkan diri pada seluruh penghuni rumah. Nyonya Bulan memperhatikan dari tempat kehormatan. Kemudian Teratai Emas menyembah Nyonya Bulan, dan menyerahkan sepasang sepatu pantofel. Kemudian ia menyalami istri-istri Ximen  lainnya, seperti umumnya adik dan kakak sesuai urutan kedudukan, Li Kao’rl, Mong Yuloh dan Sun Hsueo. Setelah itu dengan tahu diri, ia menempatkan dirinya di samping.

Nyonya Bulan memerintahkan agar Teratai Emas dibawakan kursi, dan memberitahukan semua dayang dan pelayan agar selanjutnya menghormati Teratai Emas sebagai nyonya kelima. Sejak kedatangan Teratai Emas, Ximen  jadi betah di rumah, jarang sekali ia melangkahkan kakinya ke luar dari rumah yang di pojok taman, dan setiap hari menikmati cinta dengan Teratai Emas.

Pada hari ke sepuluh bulan ke delapan, Wu Song tiba kembali di Tsing-ho-hsian. Paling pertama ia menghadap mandarin kepala daerah, dan menyerahkan surat balasan dari Komandan istana Chu. Untuk memperlihatkan pengakuannya, bahwa Wu Song telah melakukan pekerjaannya dengan baik, maka sang mandarin menjamu makan di rumahnya dan menghadiahkan uang perak sebanyak 10 ons. Setelah itu Wu Song kembali ke tempat tinggalnya, berganti pakaian, dan cepat pergi mencari Kakaknya Wu Dalang. Berita kembalinya Wu Song telah membuat cemas dan takut pada para tetangga Wu Dalang. „Oh, pasti akan ada bencana keluarga. Bintang kemalangan telah memperlihatkan diri. Tidak akan dapat dicegah lagi“, begitulah pembicaraan dari mulut ke mulut.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s