Bab 16 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingIa menyombongkan ukuran dan durasi „ketangkasannya“.

„Oho, untuk itu kau tidak perlu memikirkannya lagi!“ jawab si pemuda sok puas diri dan tersenyum. „Bukan sombong, jika aku katakan, bahwa „modal“ ku cukup kuat untuk memenuhi semua tuntutan, dan bahwa aku sangat yakin dengan kemampuanku.“

„Kedengarannya luar biasa. Tetapi dapatkah kau menjelaskannya lebih tepat? Berapa sorongan kau biasanya mampu melakukan dalam sebuah pertempuran ditempat tidur?“

„Nah, aku belum pernah menghitungnya, juga aku tidak terikat pada peraturan baku, bagiku berlaku gaya bebas. Tapi seharusnya aku sangat banyak melakukan sorongan, hingga ia dan aku selesai“

„Jadi kau tidak bisa memberikan angka tepatnya. Bisakah kau paling tidak mengatakan, berapa lama kau mampu bertahan dalam hitungan jam?“

Sebenarnya pemuda kita hanya mampu bertahan selama satu jam, setelah itu tenaganya habis. Tetapi untuk mengesankan temannya, agar berusaha lebih keras membantunya, maka pengakuannya dibesar-besarkan:

„Oh, biasanya dua jam, dan jika yang bersangkutan belum cukup dan masih mau, tambah lagi seperapat atau setengah jam lagi“

„Bolehlah. Itu waktu yang biasa diantara suami istri, tapi untuk berselingkuh dibutuhkan lebih banyak dari pada kemampuan rata-rata.“

„Jangan khawatir. Untuk penambah kekuatan, aku sudah menyiapkan obat kuat yang kusimpan di koperku. Karena selama ini kurang kesempatan, jadi obatnya belakangan ini tidak kugunakan. Tetapi dengan bantuanmu, bila sudah waktunya, aku akan mengoleskan obat salep ke ‚alat‘ ku. Setelah itu yakinlah, dia akan menjalankan tugasnya dengan baik“

„Hm. obat kuat biasanya hanya memperpanjang waktu, tapi tidak memperpanjang atau mengeraskan ‚alat‘ mu. Jika secara alamia sudah mempunyai alat yang kuat dan masih ditambah obat, itu sama seperti, Siucai berbakat yang minum obat kuat ginseng sebelum ujian. Tentu saja ia menjadi segar bugar dan mengerjakan ujiannya dengan cepat. Tetapi tanpa bantuan Ginseng pun ia akan lulus ujian. Lain halnya jika secara alamia ‚alat‘ nya lemah, maka menggunakan obat disini bagaikan Siucai bodoh dikasih ginseng, meskipun sampai berkilo-kilo, tetap saja ia gagal dalam ujian. Lagian obat-obatan semacam itu banyak palsunya. Siapa yang bisa menjamin, bahwa obatmu manjur? Tapi itu kita kesampingkan dahulu, yang aku benar-benar ingin tahu dan menyaksikan dengan mata sendiri: Berapa besar sebenarnya ‚alat‘ mu, tepatnya, berapa inci panjangnya“

„Kalau kecil sih tidak. Cukup kan?“

„Tidak cukup. Perlihatkan sini!“ jawab temannya bersikeras dan menarik celana si pemuda, mau di perosotkan. Si pemuda mengelak dan berkelit dua, tiga kali. Ia tidak mau ditelanjangi begitu saja.

„Baiklah, aku tidak perlu melihat dengan mataku sendiri. Jadi aku harus mengambil kesimpulan, bahwa kau dengan penuh ketakutan menyembunyikan alatmu, karena ia sangat kecil. Jika begitu halnya, maka dengan penuh penyesalan aku tidak dapat membantu kau lagi. Bayangkan, akibat yang memalukan, jika kau dengan barangmu yang tidak memadai, ketemu wanita yang banyak tuntutannya! Ia hanya merasa seperti di kilik-kilik, Karena marah dan kecewa atas kenikmatan yang hilang, ia akan berteriak dan menyalahkan kau, bahwa kau memperkosanya! Sebuah skandal yang tak terbayangkan yang kau picu dengan kebodohan ini! Dan aku harus ikut-ikutan? Haruskah aku bertanggung jawab atas kegagalan yang memalukan  ini? Tanpa aku!“

Dibawah tekanan argumen yang begitu meyakinkan akhirnya si pemuda menyerah. Dengan agak malu ia mengucapkan permintaan maafnya:

„Sudah pasti bukan seperti yang kau curigai. Alatku boleh kau lihat. Hanya saja – ditempat terang dan didepan mata asing, meskipun teman, aku merasa malu dan tidak biasa. Tetapi karena kau ingin melihatnya dan supaya kau tidak curiga, aku akan membiarkan kau melihatnya, silakan“

Si pemuda membuka dan mengeluarkan daging lembut  kelelakiannya. Ia meletakannya ketelapak tangan kanannya dan, menimbang-nimbangnya di depan mata temannya, seolah-olah sedang menebak beratnya,

„Perkenalkan: Modalku, alatku yang rendah hati“

Temannya mendekati selangkah, untuk dapat memperhatikan lebih jelas. Apa yang diperlihatkan kepadanya?

Sebuah tangkai, pucat dan lesu berkilauan,
Kepalanya meruncing dan merah tua,
Dibawahnya berbulu tipis dan jarang,
Pembuluh darah dan urat daging hampir tak terlihat,
Panjang hampir dua inci,
Berat paling banyak tiga ons,
Sebuah pipa,
Orang akan mengira sebuah pipa kecil,
Yang digunakan orang Mongol untuk menyimpan bulu onta,
Kepalanya dengan belahan tipis –
Orang akan mengiranya sebuah kepala cangklong,
Pipa tembakau dari wanita padang Utara,
Sesuatu yang paling cocok,
Untuk perawan kecil umur tiga belas tahun,
Seorang anak lelaki berumur empat belas tahun,
Mungkin akan bergembira dengan itu.

Setelah cukup memperhatikan, Bandit Kunlun memandang si pemuda dengan membisu.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s