Bab 20 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaPenampakan roh Wu Dalang

Setibanya di rumah kakaknya, Wu Song  menyingkap Tirai pintu dan berteriak memanggil,:“ Hei, Kakak!“ Tak ada yang menjawab. „Ipar!“ masih tak ada jawaban. Kemudian ia melihat Ying’rl  duduk di beranda sambil menjahit. Ia memanggilnya. Tetapi kedatangan Wu Song yang tiba-tiba telah membuat Ying’rl kaget dan kehilangan kata-kata. Setelah Wu Song menanyakan, di mana kakak dan iparnya, Ying’rl menangis. Sementara itu, ibu Wang yang telah mendengar kedatangan Wu Song, berusaha menghilangkan rasa takutnya dan memasuki rumah Wu Dalang. „Di manakah kakakku, dan mengapa iparku menghilang?“ tanya Wu Song pada ibu Wang.

„Kakakmu telah meninggal di bulan ke empat, tak lama setelah kau berangkat.“

„Dan di manakah iparku?“

„Karena tidak ada yang membiayai rumah tangga lagi, atas nasihat ibunya, ia menikah kembali setelah 100 hari berkabung, dengan seorang tuan dari ibu kota. Selama ini, aku menunggu kedatanganmu untuk menyerahkan Ying’rl“

Wu Song menarik napas dalam-dalam  dan mendengus. Kemudian ia meninggalkan ibu Wang yang masih tetap berdiri, dan kembali ke tempat tinggalnya. Setibanya di rumah, Wu Song memerintahkan beberapa serdadunya untuk membeli pakaian dan perlengkapan berkabung. Semua barang itu dikirim ke rumah kakaknya.

Di situ ia pun memasang meja abu pemujaan baru, meletakkan beberapa macam makanan kurban untuk sembahyang dan beberapa cawan arak bagus. lalu ia menyalakan dupa. Pada malam harinya sekitar pukul sepuluh, di depan meja abu, ia memanggil roh Kakaknya dengan batang dupa di antara jari-jarinya.:“Kakak, rohmu pasti belum pergi jauh. Dalam kehidupanmu  engkau adalah seorang yang baik hati dan lemah. Aku masih belum jelas, bagaimana kau mendapat kematian. Bila ada yang telah menyakitimu, katakanlah padaku di dalam mimpi, agar supaya aku bisa membalas dendam!“ Lalu Wu Song memercikan arak untuk menghormati kakaknya, dan membakar kurban figur kertas. kemudian ia berkabung dengan menangis sambil menggerung. Semua tetangga-tetangga yang mendengar, ikut berduka dan menangis bersama Wu Song.

Setelah perkabungan selesai, Wu Song bersama Ying’rl dan beberapa orangnya memakan makanan kurban dan minuman. Menjelang larut malam, ia mengeluarkan dua helai tikar, satu di dalam rumah untuk Ying’rl dan satu untuk penjaga malam di luar di bawah langit terbuka. Ia sendiri memilih untuk tidur di depan meja abu. Sampai tengah malam ia tidak bisa pulas, tidak tenang, berbalik dari satu sisi ke sisi lain. Lain halnya dengan para penjaga malam, mereka sudah lama lelap di dalam tidur. Ia memandang ke atas dan menengok kiri kanan, lalu duduk di atas tikar, dan mulai berbicara sendiri.:“Dalam kehidupannya ia adalah seorang yang lemah dan selalu mengikuti kemauan orang, aku menduga, ada yang tidak benar dalam kematiannyaÖ.“

Tiba-tiba ia merasakan angin dingin ke luar dari bawah meja abu. Rambut Wu Song berdiri kaku ke arah depan, ketika seolah-olah ada yang menghembuskan napas sedingin es kepadanya. Dari bawah meja abu, ia melihat samar-samar sebuah bentuk tubuh manusia, merayap ke luar dan terdengar suara yang berbicara kepadanya.: „Adikku, Aku telah dianiaya“ Wu Song maju ke depan untuk memperhatikan lebih jelas dan mengajukan pertanyaan, lalu penampakan menghilang, begitu juga dengan hawa dingin turut lenyap. Wu Song kembali ke tikar dan mengumpulkan semua pikirannya. „Aneh! Bagaikan mimpi, tetapi bukan mimpi. Pasti ada sesuatu yang tidak benar!“ Di luar terdengar suara kentungan dipukul tiga kali.

Keesokan paginya Wu Song bertanya kepada para tetangga mengenai sebab musabab kematian kakaknya dan siapa yang menikahi iparnya, tetapi karena takut pada kekuasaan uang Ximen, tak ada satu pun yang memberi tahu, mereka hanya mengatakan agar Wu Song menemui Penjual buah Yun dan Pemeriksa jasad Hou Kiu. Setelah diberikan uang perak sebanyak lima Ons dan dijanjikan lima Ons uang perak lagi setelah urusan selesai, Yun penjual buah itu pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya di kedai teh dan bersedia bersaksi di pengadilan.

Wu Song kemudian menyampaikan surat dakwaan ke pengadilan, di mana ia mempersalahkan pemeriksa jasad Hou Kiu yang telah makan uang sogok dan membuat laporan kematian yang salah, ibu Wang yang telah mencomblangi dan menghasut pembunuhan, dan Ximen  yang telah melakukan perzinaan dan pembunuhan. Ia juga menyertai dakwaan tersebut dengan Yun sebagai saksi.

Karena hubungannya yang erat dengan Ximen, mandarin pengadilan merasa tidak enak hati. Setelah rapat dengan stafnya, ia memutuskan, bahwa dakwaan ini tidak bisa ditindak lanjut, karena untuk urusan perzinaan sang istri tidak ada, dan untuk urusan pembunuhan tidak ada jasad. Wu Song tidak menyerah begitu saja, ia mengusulkan agar nyonya Teratai Emas dan ibu Wang ditangkap untuk dibawa ke pengadilan. „Baiklah, kasusnya masih akan dipelajari!“ jawab mandarin dan menutup sidang.

Ximen yang telah mendengar apa yang sudah dilakukan Wu Song menjadi sangat kaget, cepat-cepat ia mengirim kedua pelayannya Lai Po dan Lai Wang dengan sejumlah besar uang, dan pada malam yang sama mandarin pengadilan pun sudah dibeli.

*Prem = buah plum

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s