Bab 22 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaWu Song dihukum buang ke perbatasan

Sebagai hukuman atas pembunuhan Agen Li, oleh pengadilan Wu Song dijatuhi hukuman rangket dengan tongkat sebanyak 40 kali, dikalungkan borgol besi di leher, di mukanya diberikan cap dengan stempel panas, lalu digiring oleh dua orang penegak hukum ke Mongchou sebagai orang buangan, suatu perjalanan yang sangat panjang.

Sudah tentu Ximen  merasa senang sekali mendengar perihal dibuangnya Wu Song ke perbatasan. Ia memerintahkan agar paviliun air di pojok belakang taman, di hias dan dipercantik untuk digunakan sebagai tempat pertunjukan grup pemusik, penari dan penyanyi. Kelima istrinya dikelilingi para pelayan ikut meramaikan pesta.

Pada saat mereka makan minum, datanglah Tai A’rl mengiring dua orang anak, seorang lelaki dan seorangnya lagi perempuan, masing-masing membawa sebuah bungkusan di tangan. „Rumah tetangga Hua mengirimkan bunga!“ lapor Tai A’rl. Keduanya menyembah kehadapan Ximen  dan Nyonya Bulan, lalu menempatkan diri ke samping dan berkata: „Nyonya besar kami mengirimkan untuk nyonya Ximen sedikit kue dan Bunga untuk rambut!“ mereka membuka bungkusannya dan meletakkan di hadapan Nyonya Bulan.

Nyonya Bulan merasa sangat senang. „Merepotkan nyonya besar kalian saja“, lalu ia memberikan kue-kue manis kepada kedua anak-anak tersebut. Selain itu, yang perempuan mendapat hadiah sapu tangan, dan yang lelaki mendapat hadiah sedikit uang. Ia menanyakan nama masing-masing anak, dan membiarkannya pulang. „Katakan terima kasih pada nyonya besar kalian!“ tambahnya. „Nyonya Hua ini sungguh baik hati dan menyenangkan“, kata Nyonya Bulan kepada Ximen. „Aku belum sempat membalasnya“.

„Teman Hua menikahinya dua tahun yang lalu“ tambah Ximen, „Ia selalu memuji karakternya yang baik. Kalau tidak begitu, bagaimana ia membiarkan dua orang dayang cantik di sampingnya?“

„Aku sudah pernah berjumpa dengannya satu kali“ kata Nyonya Bulan lebih lanjut, „Pada waktu penguburan Kepala Kasim Hua. Ia seorang yang baik dan simpatik, umurnya kalau tidak salah paling banyak 25 tahun“

„Dulunya ia adalah seorang selir dari Sekretaris Besar Kekaisaran dari Tamingfu yang bernama Liang. Kepada suaminya yang sekarang ia membawa kekayaan yang tidak sedikit“

„Lain kali kita harus membalas perhatiannya“

Para pembaca, yang disebut sebagai nyonya Hua adalah seorang wanita yang terlahir dengan nama Li, dan karena pada hari kelahirannya orang tuanya mendapat hadiah jambangan ikan dari kenalannya, maka ia mendapat nama Ping’rl (jambangan kecil). Seperti sudah diceritakan ia dulunya selir Sekretaris Besar Liang, yang mempunyai ayah mertua Perdana Menteri Tsai di ibu kota. Istri utama Liang, orangnya sangat cemburu, dan telah membunuh beberapa gundik cantik dan dayang, yang diam-diam dikubur di pojok belakang taman. Karena wanita kelahiran Li ini adalah favoritnya, maka untuk berjaga-jaga Liang telah menyembunyikannya di bangunan sayap sebuah perpustakaan di dekatnya, dan hanya dilayani oleh dayang tepercaya. Suatu malam, ketika tuan Liang bersama istri utamanya, terjadi satu peristiwa, di mana tuan Liang beserta seluruh keluarga dibunuh. Hanya wanita kelahiran Li itu dan dayangnya yang berhasil menyelamatkan diri. Ia melarikan diri ke rumah keluarganya di ibu kota timur. Dalam kesempatan itu ia masih sempat menyelamatkan 100 buah mutiara besar dari barat dan beberapa buah Batu Pirus berwarna biru, seberat dua ons. Belakangan ia diambil menantu oleh Kepala Kasim Hua untuk keponakannya Tsehsu yang belum menikah. Ketika kemudian Hua tua diangkat menjadi Komisaris Pertahanan di selatan, pasangan muda itu pun diajaknya, dan tinggal bersama di tempat tugas yang baru. Setelah Hua tua meninggal karena penyakit dan dikubur di Tsing-ho-hsian, semua kekayaan Kasim kepala Hua yang sangat besar jatuh ke tangan keponakannya.

Keponakan Hua Tsehsu ini, seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, termasuk salah satu dari sepuluh orang yang mengangkat saudara di sebuah kuil Tao di Tsing-ho-hsian. Setiap hari kerjanya hanya berkumpul di kedai arak atau di rumah pelesiran bersama Ying Pokue atau Hsia Hsita dan anggota ‚klub 10‘ lainnya. Saudara satu klubnya kecuali Ximen  adalah orang tak beruang, yang tentu saja berusaha agar si kaya Hua mentraktir pesta dan buang uang. Jadi tidak heran, kalau ia tiga atau lima malam tidak pulang ke rumah.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s