Bab 1.1 Rimba Cendekia (Rulin-waishi; The Scholars)

Aldi_Surjana_Rulin_Waishi_The_Scholars_Wu_Jingzi_Novel_dinasti_Qing

Dalam kehidupan kau sering berdiri di persimpangan jalan, para menteri, jenderal, orang suci semua memiliki nasib yang sama. Ribuan generasi datang dan pergi bagaikan siang dan malam; kehormatan, ketenaran, kekayaan dan pangkat tidak bisa dibangun. Kau menyia-nyiakan kekuatan hidupmu, dan waktu berlalu dengan cepat. Tiga cawan arak keras – dan kau sudah mabuk. Air mengalir tanpa henti, bunga layu… ke manakah mereka pergi?. Namun betapa sedikitnya hingga kini yang dapat mengenalinya!

 

Pengantar ini menyajikan makna novel

Bait-bait sebelumnya berbicara tentang kebijaksanaan lama. Bait-bait itu tidak ingin mengatakan apa pun, selain bahwa kehormatan, ketenaran, kekayaan dan pangkat itu pada dasarnya tidak berarti sama sekali. Namun, untuk sebagian besar orang hanya perlu menyadari adanya kemuliaan dan kehormatan, lalu mereka akan memburunya dengan pertaruhan nyawa. Tetapi setelah mereka mencapai tujuannya, maka kemuliaan dan kehormatan terasa tidak lebih baik, daripada seandainya jika mereka mengunyah lilin. Namun betapa sedikitnya hingga kini yang dapat mengenalinya!

Tetapi tanpa memperhatikan itu, hiduplah pada masa akhir kekuasaan Mongol, seorang lelaki teguh pendirian dan tulus bernama Wang Mian di sebuah desa di Zhuji. Ketika ia berumur tujuh tahun, ia kehilangan ayahnya; dengan menyulam dan menjahit, ibunya mempunyai penghasilan yang cukup, untuk bisa mengirimnya ke sekolah desa. Tiga tahun berlalu dengan cepat. Suatu hari, ketika Wang Mian sudah berumur sepuluh tahun, ibunya memanggil dan berkata:

„Anakku, sebenarnya aku tidak ingin menghalangi jalanmu. Namun sejak ayahmu meninggal dan aku menjadi janda, aku mempunyai lebih banyak pengeluaran daripada penghasilan. Panen gagal, harga kayu bakar dan beras tak terjangkau. Semua pakaian lama dan perabotan rumah tangga yang tidak terlalu dibutuhkan sudah digadaikan atau dijual. Kita hanya bergantung pada sedikit uang, yang kuperolehi dari hasil pekerjaan tangan pada orang lain. Dari mana bisa aku dapatkan biaya untuk sekolahmu? Aku tidak melihat jalan lain, selain kau bekerja pada tetangga kita sebagai penggembala kerbau. Di sana kau bisa mendapat penghasilan beberapa uang perak setiap bulan dan juga termasuk makan. Besok pagi kau sudah bisa mulai.“

„Kau benar, ibu“, jawab Wang Mian. „Saat seperti ini masih terus duduk di bangku sekolah, akan membuat hatiku sangat berat. Lebih baik aku menggembalakan kerbau orang lain, dan itu akan membuat hatiku lebih gembira. Aku akan membawa buku-bukuku dan belajar sendiri.“ Dan masih di malam yang sama keputusan sudah diambil.

Keesokan paginya bersama ibunya Wang Mian pergi ke rumah tetangganya, Chin tua, yang mengundang keduanya untuk makan sarapan pagi. Kemudian Chin tua mengeluarkan seekor kerbau betina dari kandang, menyerahkannya kepada Wang Mian dan berkata sambil menunjuk ke arah pintu gerbang:

„Dua tembakan panah dari pintu gerbang, kau akan melihat danau Tujuh-Padang-Rumput. Sepanjang tepi danau dipenuhi rerumputan, di mana kerbau-kerbau pada merumput. Di situ tumbuh beberapa lusin pohon Yangliu besar, yang tidak dapat kau peluk dengan kedua tanganmu; Tempat yang teduh dan adem. Jika kerbau haus, ia bisa minum di danau. Di situ kau bisa bersenang-senang sesuka hatimu, saudara kecil, hanya saja jangan pergi terlalu jauh. Dariku kau akan mendapat dua kali makanan setiap harinya. Kemudian setiap pagi aku akan memberikanmu sedikit uang, agar kau bisa membeli sarapan pagi. Bekerjalah dengan baik dan rajin, kau pasti akan mendapat penanganan baik dariku.“

Ibu Wang mengucapkan terima kasih kepada Chin tua atas bantuannya. dan pulang ke rumahnya. Wang Mian mengantar ibunya hingga ke pintu gerbang. Selama ibu Wang merapikan pakaiannya, sekali lagi ia menasihati Wang Mian:

„Jangan mengeluh, lakukan selalu tugasmu dengan baik, datanglah pagi sebagai yang pertama dan pulang malam sebagai yang terakhir, dan jangan membuatku menjadi sedih!“
Wang Mian berjanji akan melakukannya, dan dengan mata berlinang ibu Wang pulang ke rumahnya.

Sejak itu Wang Mian menggembalakan kerbau milik Chin tua. Setelah hari mulai gelap ia pergi tidur ke rumah ibunya. Jika ia mendapat ikan asin atau daging asin dari Chin tua, ia membungkusnya dengan daun teratai, untuk ibunya di rumah. Dari uang untuk sarapan, yang diperolehnya setiap hari, ia tidak pernah membelikan apa-apa, melainkan disimpan.

Dan setelah sekitar dua bulan, ia mengambil uang tabungannya, menggunakan waktu senggang, ia berlari ke sekolah, dan membeli beberapa buku bekas dari lapak pedagang buku bekas. Kemudian ia mengikat kerbaunya di batang pohon Yangliu di tepi danau, dan duduk di keteduhan bayang-bayang pohon sambil membaca bukunya. Tanpa disadari, kembali waktu berlalu tiga, empat tahun. Wang Mian selalu belajar dengan rajin, dan sudah memiliki pengetahuan yang cukup banyak.

Suatu hari, di bulan kelima, pada saat buah plum musim dingin mulai masak, udara terasa sangat panas dan menekan. Wang Mian, terlalu lelah dari menjaga kerbau, ia berbaring di atas rerumputan. Dalam sekejap awan-awan hitam sudah memenuhi angkasa, dan hujan pun turun.

Tetapi tidak lama kemudian di antara awan-awan hitam terlihat sedikit cahaya terang; sedikit demi sedikit awan-awan mulai menghilang, sinar mentari memandikan seluruh danau dengan warna merah berkilauan. Di tepian danau yang curam, berkilauan warna biru, ungu dan hijau. Hujan telah mencuci bersih semua ranting pepohonan, dan warna hijau segarnya terlihat sangat indah. Dari lusinan buah teratai di atas danau menetes turun butiran air yang berkilauan. dan di atas daun bergulir mutiara air ke sana kesini.

Selama Wang Mian memperhatikan semua ini, ia berpikir dalam hati:
‘Orang zaman dahulu mengatakan: Manusia hidup bagaikan dalam sebuah lukisan. Itu adalah kebenaran yang sangat dalam. Sayang aku tidak mempunyai peralatan lukis, di mana aku dengan kuas bisa mengabadikan bunga-bunga. Harusnya itu adalah sesuatu yang indah.‘

‚Di manakah di dunia yang luas ini ada sesuatu, yang tidak bisa dipelajari‘, lanjutnya dalam hati, ‘Mengapa aku tidak mencoba sendiri, untuk melukis beberapa kuntum bunga?‘

Ketika ia tenggelam dalam pikirannya, dari jauh ia melihat seorang pria tinggi besar bertubuh kuat sedang mendekati, di pundaknya ia mengangkat beberapa buah kotak makanan dan di tangannya ia memegang sebuah guci arak; di atas kotak ada sehelai selimut wol, yang terlipat rapi; ia melangkah ke arah rerumputan, lalu menggelar selimut dan membuka kotak.

Dari arah yang sama muncul tiga pria terhormat. Semuanya mengenakan topi akademisi; Yang pertama mengenakan jubah berlapis sutra warna biru langit, sedang yang dua lagi, berwarna biru hitam; ketiga-tiganya berumur antara empat puluh dan lima puluh tahun. Mereka berjalan perlahan sambil menggoyangkan kipas kertas putih ke sana ke sini.

Pria yang mengenakan jubah biru langit bertubuh gemuk. Baru saja tiba di rerumputan, ia langsung menyilakan pria berkumis dengan pakaian biru hitam, untuk mengambil tempat duduk kehormatan; dan pria tinggi kurus mengambil tempat yang berhadapan. Jadi Wang Mian mengambil kesimpulan, bahwa pria yang mengenakan jubah biru langit adalah tuan rumah, terutama karena ia yang menuangkan arak.

Beberapa saat mereka makan dengan membisu. Kemudian pria bertubuh gemuk mulai bicara:
“Tuan Wei tua sudah kembali. Baru-baru ini ia membeli sebuah rumah, yang lebih besar dari semua rumah-rumah di jalan Menara Lonceng di Peking. Dua ribu ons perak harga rumahnya. Tetapi karena tuan Wei, yang jadi pembeli, pemilik rumah menurunkan harganya beberapa lusin ons perak, agar dihargai oleh orang-orang sekitar. Pada tanggal sepuluh bulan lalu ia pindah ke rumah barunya; Hakim Distrik kita melakukan kunjungan resmi dan duduk di sana dengan secawan arak hingga tengah malam. Tidak ada seorang pun warga di seluruh kota yang tidak memberikan kehormatan kepadanya.“

Atas itu pria tinggi kurus menjawab:
„Kepala distrik kita dulu lulus ujian magister di tahun Jen-weu, tahun kuda ke sembilan, sebagai salah satu murid tuan Wei, jadi tidak mengherankan, jika ia datang mengucapkan selamat.“

„Seorang kerabatku juga dulunya murid tuan Wei tua“, tambah pria gemuk, „Sekarang ia menjabat sebagai Hakim Distrik di provinsi Honan. Kemarin dulu putranya, menantuku, datang kesini membawakan dua pon daging rusa asin. Lain kali, jika menantuku datang lagi, ia akan meminta surat rekomendasi dari ayahnya, dan menyerahkannya kepada tuan Wei. Jika kemudian tuan Wei menjawab, akan berkunjung ke tanah pertanian kami, maka nantinya tidak ada seorang pun petani yang berani, membiarkan keledai dan babi peliharaannya di sawah kami.”

„Tuan Wei tua sudah sepantasnya disebut sebagai salah satu pakar ilmu pengetahuan.“ Kata pria kurus tinggi.

„Seperti yang aku dengar“, lanjut pria berkumis. „Ketika Wei tua meninggalkan Peking, Kaisar telah mengantarnya hingga ke gerbang kota, bahkan beberapa langkah sambil menuntun tangan Wei tua. Tetapi karena Wei tua terus menerus menyembah, akhirnya Kaisar menaiki tandunya. Dari situ bisa dilihat, bahwa tuan Wei masih akan diberikan jabatan tinggi.“
Begitulah, dan ketiga orang itu melanjutkan obrolan mereka dengan santai.

Ketika Wang Mian melihat, bahwa hari mulai malam, ia menuntun kerbau betinanya pulang ke rumah.

Bersambung ke Bab 1.2

Diterjemahkan oleh Aldi Surjana
Novel Dinasti Qing: „Rimba Cendekia“ (Rulin Waishi; The Scholars), Wu Jingzi

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s