Bab 19 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingSi pemuda mengajukan keberatan pada penguasa langit.

Setengah bulan lamanya ia bertahan dengan cara itu. Namun ia tetap adalah lelaki muda yang sehat. Tidak lama, setelah setengah bulan kemudian dorongan untuk mendekati wanita timbul kembali. Suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan di sebuah jalan, secara kebetulan ia melihat seorang wanita dari jauh, bagaimana ia membuka jendela, mengeluarkan kepalanya dan mengobrol dengan tetangga wanita di seberangnya. tanpa sadar si pemuda mempercepat langkahnya, agar secepatnya bisa mendekatinya dan mendengar pembicaraannya serta mengawasinya. Ketika itu  ada dua ciri khusus dari si wanita muda yang menarik hatinya: Wajah dan suaranya. Suaranya! – Ah, terdengar begitu melodis bagaikan suara seruling lembut – kadang rendah dan meninggi, kadang menggema penuh tekanan, tetapi begitu jelas dan bersih, selalu dengan nada suara indah, kata-katanya keluar dari tenggorokan bagaikan butir-butir mutiara berhamburan, dan bila ia selesai berbicara, pendengar akan mengira, seolah-olah suara merdu ini masih terdengar di di gendang telinganya. Kemudian wajahnya! Setelah mendekati, ia bisa mengenali dengan jelas. Wajahnya begitu cantik jelita. Yang sangat mempesona dari wajah ini adalah cahaya aneh samar-samar dari kulitnya yang putih terang. Cahaya samar-samar – Bukankah Kata-kata ini pernah digunakan oleh temannya Bandit Kunlun untuk menceritakan kecantikan seseorang dengan begitu puitis: ‚Dari wajahnya keluar cahaya samar-samar yang menembus tirai bambu?‘ Persis, yang juga dilihatnya sendiri sebagai ciri khusus! Juga kebenaran kata-kata lain dari temannya berdasarkan penglihatannya sendiri: ‚Ketika itu bagaikan sebuah lukisan tergantung dihadapanku, gambar seorang wanita cantik yang tergantung dibelakang tirai bambu, yang dipermainkan angin lembut‘ Begitulah kesan si pemuda. Apakah ini orang yang sama seperti yang pernah diceritakan temannya? Untuk lebih yakin, ia melanjutkan langkahnya dan bertanya pada seorang tetangga.

„Aku mencari seorang pedagang sutera she Quan, yang biasa disebut si Polos. Ia tinggal di dekat sini. Dapatkah kau tunjukan padaku, dimana?“

„Kau baru saja meliwati rumahnya. Disana, dimana seorang wanita muda dibelakang tirai pintu mengobrol dengan tetangga wanitanya, disitulah ia tinggal, dan wanita yang bersangkutan adalah istrinya“ jawab yang ditanya.

‚Jadi, itu benar-benar dia‘, kata si pemuda dalam hati, ia berbalik, kembali melangkah dengan santai meliwati rumah tadi, dimana sekali lagi ia memperhatikan si cantik dengan teliti, dan kembali ke kamar kuilnya.

Dalam keheningan, ia memuji kehebatan Bandit Kunlun, yang telah begitu tepat menggambarkannya. ‚Dulu aku tidak begitu mempercayainya. Aku menganggap penggambarannya berlebihan. Aku tidak percaya akan kemampuannya menilai kecantikan wanita. Sekarang aku harus mengakui, bahwa ia mempunyai sepasang mata tajam yang sempurna. Penggambarannya begitu tepat. Tidak ada keraguan, itu adalah seseorang, yang mampu mengoyahkan takhta kerajaan. Dan yang seperti itu, aku selalu mencarinya. Sayang temanku menolak membantuku,  karena barangku yang tidak memadai. Terlalu bodoh! Langsung kehilangan tiga kesempatan yang luar biasa! Aku bisa mati, karena marah!‘ Itulah yang ada dalam pikirannya yang geram.

Ia mengunci dirinya didalam kamar, melepaskan ikat pinggangnya dan mengeluarkan barangnya yang kerdil. Ia memperhatikannya dari kiri dan kanan, semakin lama ia memperhatikan, semakin besar kemarahannya. Ingin sekali ia mengambil pisau dan memotong pelengkap tubuhnya itu.

Dengan penuh amarah ia memanjatkan doa kearah langit:

„Semua ini adalah kesalahanmu, Kaisar langit. Jika memang kau mengistimewahkan aku daripada yang lain, maka seharusnya kau secara aturan melakukannya dengan benar. Mengapa kau memberikan satu kesalahan besar pada tubuhku? Kecerdikan dan tampang keren yang menguntungkan, meskipun sangat baik, tetapi itu hanya kelebihan luarnya saja, bukan nilai yang menentukan. Semua hasil ciptaanmu padaku sangat sempurna. Mengapa justru pada bagian tubuh yang sangat menentukan, kau berlaku pelit? Apalah artinya bagimu, menciptakannya sedikit lebih besar dan panjang? Kepada orang lain kau memberikannya berlebihan. Mengapa kau tidak mengambilnya sedikit dari yang lain dan menambahkannya pada kepunyaanku yang terlalu sedikit? Jika memang apa yang telah kau berikan pada yang lain tidak bisa diubah lagi, mengapa kau tidak menghemat sedikit kulit, daging dan saraf dari bagian lain tubuhku, untuk ditanamkan kebagian depan tubuhku? Dengan itu aku sudah akan merasa puas. Tetapi sayang kau malah membuat kebalikannya dan bagian depan tubuhku kau buat begitu merana, demi keuntungan tubuh bagian lainku. Mengapa, oh Kaisar langit, kau telah membuat ketidak adilan yang kejam? Aku tidak berguna dihadapan wanita cantik dan tidak dapat menikmatinya! Aku akan mati kelaparan dan kehausan, karena hanya dapat mencium wangi makanan lezat di meja makan, tapi tidak boleh mengambilnya –  Itulah peruntungan pahit yang aku sesalkan!‘

Setelah ia menyelesaikan doanya yang diiringi lolongan dan isak tangis, ia memasukan si kerdilnya kembali kedalam celana, merapihkan pakaiannya dan untuk mengalihkan pikirannya, ia pergi keluar

Seperti biasa ia mondar mandir di depan kuil, tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada sebuah surat selebaran yang selama ini tidak pernah dilihatnya. yang menempel di dinding kuil disamping pintu masuk. Kemungkinan baru ditempel, karena huruf-huruf tulisannya masih berkilauan dari tinta segar. Ia berdiri ditempat, memandangnya dengan teliti. Dilihat dari bentuk dan isinya, sepertinya bukan surat selebaran biasa. Sejak kapan sebuah surat selebaran ditulis dalam bentuk puisi empat baris? Ia membaca:

„Pada waktu yang tepat aku dikirim kesini oleh Langit ,

Untuk mengajarkanmu seni, bagaimana membahagiakan

seorang wanita.

Jika kesedihan menekan, karena perkakas tidak sempurna,

Dia datang kepadaku: Aku membuat besar dari kecil dengan

baik.“

‚Ia datang, bagaikan dipesan!‘ adalah pikiran pertama si pemuda, dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah penguasa langit mendengar doanya tadi dan berbelas kasihan kepadanya, dengan mengirimkan seorang dewa kepadanya, agar bisa menolongnya?

Dibawah puisi ia membaca beberapa kalimat yang ditulis dalam bentuk prosa dan ditulis dengan huruf yang kecil-kecil:

„Dalam perjalananku meliwati daerah sini, aku tinggal di kamar tamu kuil. Siapa yang menginginkan konsultasi dan pengobatan dariku, silakan datang padaku. Tetapi harus segera, karena mungkin saja aku sudah melanjutkan perjalanan dan kau tidak dapat menemuiku“

Si pemuda membaca puisi dan teks prosa beberapa kali, dan semakin sering ia membaca, maka ia semakin gembira.

‚Tidak, masa sih ada seperti itu! Betul-betul suatu keajaiban! Bahwa kedatangan Tabib pengembara ini justru pada saat aku sedang berputus asa! Dan bahwa surat selebarannya ditempel di kuilku, tepat didepan mataku! Kalau itu bukan kekuasaan langit, lalu apa?‘

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

Novel dinasti Ming Rou Pu Tuan, atau The Carnal Prayer Mat

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s