Bab 23 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaIstri dan selir Ximen bergembira di paviliun air

Sampai tengah malam pesta di paviliun air baru bubar. Ximen  memilih pergi ke kamar tidur istri favoritnya. Ia sedikit mabuk dan pengaruh arak membuatnya kepingin bermain cinta. Teratai Emas merapikan tempat tidur dan membakar dupa wangi. Kemudian mereka membantu satu sama lain membuka pakaian dan menyelinap ke bawah kelambu sutera. Malam ini Ximen  sedang malas main „awan dan hujan“. Ia lebih suka menikmati kepiawaian Teratai Emas „meniup seruling“. Teratai Emas duduk di atas tubuh Ximen sambil menempatkan jari jemarinya pada seruling. Seruling dipegang dan di masukan ujungnya ke dalam mulut ke luar masuk berirama.

Dengan nyaman Ximen  mencondongkan kepalanya ke depan, mendengarkan suara yang ke luar dari bibir Teratai Emas, semakin lama semakin menaikan semangatnya. tiba-tiba ia berteriak memesan teh, dan langsung kemudian muncul dayang Bunga Prem ke dalam kamar. Teratai Emas merasa malu, cepat-cepat menurunkan tutup kelambu. Ximen  tersenyum. „Mengapa engkau merasa risih terhadapnya? nyonya Hua dari rumah sebelah, sama sekali tidak merasa risih bila suaminya berhubungan badan dengan dayangnya. Selain itu, dayangnya nyonya Hua seumur dengan Bunga Prem. Itu, dayang yang lebih kecil, yang tadi membawa Bunga. Barang cantik keduanya! Wah, Hua ini, siapa yang percaya, kalau dia menggarap gadis yang begitu muda!“

Dengan santai Teratai Emas melemparkan pandangan mengujinya pada Ximen. „Nakal kau!“ tetapi aku tidak ingin ribut denganmu, Sudah tentu kau menginginkan Bunga Prem. Baik, kau pakailah dia! Untuk apa bicara berputar putar mengelilingi gunung, bila yang dimaksud penggilingan padi yang di belakang itu? Engkau tidak perlu menggunakan wanita lain sebagai contoh padaku. Aku tidak begitu, sama sekali tidak, baiklah, besok aku akan mengatur waktu agar kau bisa menggarap si kecil.“

Ximen  tertegun, „sayangku, kau benar-benar mengerti untuk memenuhi kebutuhanku, aku sangat mencintaimu!“ Dan, pembicaraan itu pun berakhir dengan harmonis. Ketika kemudian permainan seruling selesai, akhirnya tidurlah mereka, kepala menempel kepala, dan kaki menempel kaki dengan rapat. Teratai Emas menepati kata-katanya. Karena pada keesokan harinya, ia menghabiskan waktu di tempat Nyonya Bulan. Sehingga Ximen  bisa menggarap Bunga Prem tanpa gangguan.

Sejak saat itu, Bunga Prem sangat senang atas semua keistimewaan yang dilimpahkan Teratai Emas padanya. Ke depannya, ia tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan kasar, tidak perlu lagi menyibukkan diri dengan kuali masak di dapur atau membersihkan kompor karatan. Satu-satunya yang harus dikerjakan, ialah merapikan ranjang dan melayani minum teh. Semua pakaian dan perhiasan yang diminatinya diperoleh dari Teratai Emas, yang diberikan dari miliknya sendiri. Teratai Emas mengajarkan juga pada Bunga Prem cara mengikat kaki agar menjadi kecil (Pada zaman itu, wanita berkaki kecil dianggap seksi).

Bunga Prem, selain cantik jelita, juga sangat cerdas dan tangkas dalam menjawab, selalu riang dan senang bercanda, sangat berlainan dengan Bunga Aster yang kaku dan sering mendapat pukulan dari Teratai Emas.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s