Bab 1.2 Rimba Cendekia (Rulin-waishi; The Scholars)

Aldi_Surjana_Rulin_Waishi_The_Scholars_Wu_Jingzi_Novel_dinasti_Qing

Sejak saat itu Wang Mian tidak lagi menggunakan uang tabungannya untuk membeli buku, melainkan menitipkan pada kenalannya agar dibelikan cat warna dari kota, dan dengan rajin ia mulai melukis bunga teratai.

Pada awalnya lukisannya tidak begitu berhasil, tetapi setelah berlatih selama tiga bulan, baik kecantikan, maupun warna, setiap bunga yang dilukis sangat mirip dengan aslinya.  Orang akan mengira, bahwa bunga itu baru dipetik dari danau dan ditempelkan di atas lembaran kertas.

Penduduk desa mengakui, betapa cantiknya lukisan Wang Mian, dan kadang-kadang ada yang membeli lukisannya. Dari uang itu Wang Mian membeli berbagai barang cantik untuk menyenangkan ibunya. Kepandaian melukis Wang Mian menjadi bahan pembicaraan dari mulut ke mulut.

Di seluruh distrik Zhuji sudah terkenal, bahwa Wang Mian pandai melukis semua jenis bunga dan tanaman herbal secara luar biasa, dan mereka rebutan untuk membeli hasil pekerjaan Wang Mian.

Dengan umur enam belas, tujuh belas tahun Wang Mian sudah lama tidak lagi menggembalakan kerbau betina Zhin tua, melainkan setiap hari melukis beberapa gambar, membaca pengamatan dan puisi para cendekiawan. Dan semua masalah makanan dan pakaian sedikit demi sedikit menghilang. Ibunya merasa hatinya sangat bahagia.

Wang Mian memiliki bakat yang tidak biasa. Sudah sejak sebelum ia berumur dua puluh tahun, ia sudah menguasai pengetahuan di bidang astronomi, geografi dan sejarah serta sastra klasik. Tetapi ia berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, ia sama sekali tidak mengejar jabatan, juga menghindari pergaulan dengan teman dan sehari penuh hanya belajar di belakang pintu tertutup.

Di sebuah „Elegi“ (syair ratapan) bergambar karya Zhu, Wang Mian menemukan potret seorang pujangga kuno bernama Cu Yuan, yang mengenakan pakaian dan penutup kepala yang lazim di zaman itu. Langsung Wang Mian menyuruh penjahit membuatkan topi tinggi dan jubah lebar seperti yang terlihat di potret Cu Yuan.

Di bulan „Bunga cerah dan rumput lembut“ Wang Mian pergi berjalan-jalan bersama ibunya dengan menggunakan pedati sapi. Gembira dengan topi tinggi dan jubah lebarnya, Wang Mian memegang cambuk di tangan sambil terus menerus bernyanyi. Keduanya bergembira di pedesaan, di pasar dan di tepi danau. Meskipun, karena topi tinggi dan jubah lebarnya serta seluruh penampilannya menjadi bahan olok-olok sekumpulan anak desa, yang mengikuti di belakang pedati, ia tidak mengambil pusing.

Tetapi tetangga Zhin juga masih ada, meskipun ia hanya seorang petani, ia dapat memahaminya. Ia mengenal Wang Mian sejak kecil dan juga mengalaminya, bagaimana bakatnya berkembang, sehingga di dalam hatinya ia mengagumi dan sayang pada Wang Mian. Zhin tua senang bergaul dengan Wang Mian dan sering mengundang Wang Mian ke rumahnya untuk mengobrol.

Suatu hari, ketika Wang Mian berada di rumah Zhin tua, ia melihat di luar ada seorang pria mendatangi; Ia mengenakan topi berbentuk batu bata dan pakaian katun biru. Zhin tua mempersilakan pria itu masuk, dan setelah saling memberi salam, keduanya duduk. Pria itu bernama Zhai, seorang Kepala kurir dari Zhuji dan merangkap sebagai perantara untuk segala macam urusan kantor pemerintah. Karena putra Zhin tua, yang bernama Zhin Da-hau, adalah anak-angkat* Kepala kurir itu, maka Zhai sering berkunjung ke pedesaan.

Zhin tua memerintahkan anak lelakinya agar menuangkan teh, menyembelih seekor ayam dan memasak sup ayam, serta mengundang tamunya untuk makan. Wang Mian diminta agar menemani tamu. Setelah keduanya berkenalan satu sama lain, Kepala kurir Zhai berkata kepada tuan rumah:

„Inikah tuan muda Wang, yang pandai melukis bunga lembut dan tanaman herbal?“

Tetangga Zhin membenarkan: „Ya, saudaraku. Tapi dari mana kau tahu?“

“Di seluruh distrik tidak ada seorang pun yang tidak tahu, jawab Zhai. „Dua hari yang lalu Hakim distrik kita memberikan pesanan, ia menginginkan dua puluh empat gulung lukisan bunga dan tanaman herbal, untuk dihadiahkan kepada atasannya. Urusan ini diserahkan kepadaku. Dan karena aku sudah mendengar kehebatan si tuan muda, aku langsung menemuimu, saudaraku. Karena rezekiku memang bagus, aku langsung menjumpainya di sini. Apakah aku mempunyai keberuntungan untuk mendapatkan lukisannya? Dalam empat belas hari aku akan datang kembali, untuk mengambil gulungan lukisan. Tuan junjunganku pasti akan memberikan upah beberapa ons perak untuk pekerjaannya, dan aku akan langsung membawa uangnya nanti.“

Tetangga Zhin membicarakannya dengan Wang Mian. Si pelukis muda, yang tidak mau merusak persahabatan dengan si petani tua, mau tidak mau harus menerima pesanan tersebut.

Wang Mian melukis dua puluh empat gulung lukisan bunga dan tanaman herbal dan juga menambahkan beberapa bait puisi pada setiap gulungnya.

Kepala kurir melaporkan kepada Hakim distrik Shi Jen tentang keberhasilannya; atas itu, tuan Shi Jen menyerahkan dua puluh empat ons uang perak kepadanya. Zhai langsung mengantungi setengahnya untuk dirinya sendiri, dan ketika menerima gulungan lukisan, ia memberikan sisanya sebesar dua belas ons kepada Wang Mian.

Hakim distrik Shi membeli juga beberapa barang lain dan mengirimkan bersama gulungan lukisan kepada tuan Wei tua sebagai hadiah. Setelah tuan Wei tua menerima pemberian tersebut, ia terus memperhatikan lukisan dan tidak mau melepaskannya lagi dari tangannya.

Keesokan harinya tuan Wei mengadakan jamuan minum dan sebagai tanda terima kasihnya ia mengundang Hakim distrik Shi.

Semula pembicaraan berkisar sekitar cuaca, sambil ditemani beberapa cawan arak. Kemudian tuan Wei tua mengutarakan keinginannya.

„Kemarin aku menerima hadiah berharga darimu, kantung berisi gulungan lukisan. Apakah lukisan itu berasal dari Sifu pelukis zaman dulu atau dari pelukis yang masih hidup bersama kita?“

Hakim distrik Shi tidak berani berbohong dan menjawab:

„Itu adalah lukisan salah seorang petani di distrikku; ia bernama Wang Mian dan masih sangat muda. Kata orang, ia belum lama belajar melukis. Pasti di bawah mata jelimu ia tidak berarti.“

Tuan Wei tua menghela napas.

„Muridku, mungkin karena kau sudah terlalu lama berpisah denganku, jika tidak, kau akan langsung mengenali, bahwa ada seorang bijak hidup di sini. Kau benar-benar harus merasa malu. Tuan itu bukan saja berbakat, tapi juga memiliki pengetahuan yang sangat dalam dan tidak biasa, yang akan membuat orang terheran-heran. Suatu hari ketenarannya akan melebihi kita. Mungkin kapan-kapan kau akan mengajaknya ke sini.“

„Itu bukan hal yang sulit“, jawab Hakim distrik cepat. „Muridmu segera akan mengirim kurir kepadanya. Jika ia tahu, bahwa kau sangat menghargainya, ia pasti akan gembira sekali.“

Dengan itu Hakim distrik permisi pulang dari tuan Wei, kembali ke kediamannya dan mengirim Kepala kurir Zhai untuk mengundang Wang Mian, dengan berbekal surat, yang ditulis dengan sangat santun oleh tuan Shi.

Bersambung ke bab 3

Diterjemahkan oleh Aldi Surjana

Novel Dinasti Qing: „Rimba Cendekia“ (Rulin Waishi; The Scholars), Wu Jingzi

Mohon jangan mencetak atau memperbanyak terjemahan ini dalam bentuk apapun tanpa izin

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s